2024
Karya Ilmiah Mahasiswa
Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.
Abstraksi
Penambahan bahan kimia obat dalam jamu masih banyak ditemukan di kalangan penjual jamu. Jamu yang beredar di masyarakat harus memenuhi syarat keamanan dan mutu salah satu dari persyaratan tersebut tidak boleh mengandung bahan kimia obat (BKO). Dari siaran pres yang dilakukan BPOM masih ditemukan dalam empat tahun terakhir kenaikan jumlah obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Tren penambahan BKO pada jamu salah satunya pada jamu pegal linu yang didominasi oleh parasetamol dan deksametason. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan BKO parasetamol dan deksametason pada jamu pegal linu di Kelurahan Dampit yang sebelumnya belum ada publikasi terkait analisa tersebut. Metode yang digunakan adalah Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Analisa dengan KLT menggunakan fase diam plat KLT GF254 dan fase gerak klorofom:metanol (9:1). Pengambilan sampel diambil dari lima depot jamu di Kecamatan Dampit yang berbentuk serbuk, yang tiga diantaranya ditambahkan tablet dan kapsul tanpa merek. Hasil uji KLT menunjukkan bahwa tiga sampel jamu pegal linu yang mengandung parasetamol secara berurutan memiliki nilai Rf sampel A 0,24 baku pembanding 0,24, sampel B 0,36 baku pembanding 0,36, sampel C 0,30 baku pembanding 0,32. Sedangkan untuk BKO deksametason dari semua sampel tidak memiliki kandungan deksametason. Hal ini dikarenakan bercak sampel tidak memiliki nilai Rf dan warna yang sama dengan bercak baku pembanding dan kontrol positif deksametason. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tiga dari lima sampel jamu pegal linu mengandung BKO parasetamol.
Abstract (English)
The addition of medicinal chemicals in herbal medicine is still widely found among herbal medicine sellers. Herbal medicine circulating in the community must meet safety and quality requirements, one of which must not contain medicinal chemicals or Bahan Kimia Obat (BKO). The press release conducted by BPOM shows that in the last four years, there has been an increase in the number of traditional medicines containing BKO. Mostly, the BKOs added to traditional medicine are paracetamol and dexamethasone. Therefore, this study aims to determine the content of BKO paracetamol and dexamethasone in herbal medicine from Kelurahan Dampit, which has yet to be published. The method used is Thin-Layer Chromatography (KLT). The analysis with KLT used the stationary phase of the KLT plate GF254, and the mobile phase was chloroform: methanol (9:1). Samples were taken from 5 herbal medicine depots in Kelurahan Dampit in powder form, 3 of which were a powder with tablet or capsule without a label. The results of the KLT test showed that three samples of herbal medicine containing paracetamol had an Rf value of sample A 0.24 with a standard of 0.24, sample B 0.36 with a standard of 0.36, sample C with a standard of 0.32. As for the dexamethasone from all negative samples, it did not contain dexamethasone. The sample spots from the results of TLC do not have the same Rf value and color as the dexamethasone spot and positive control. This research concludes that three out of 5 herbal medicine samples contain BKO paracetamol.
Akses berkas KTI mengikuti ketentuan perpustakaan. Tautan dokumen tidak ditampilkan sampai lokasi penyimpanan dan kebijakan
hak_akses dikonfirmasi.