Kembali ke Daftar KTI

Cover KTI
tidak tersedia
2023 ANALISIS KUALITATIF FORMALIN PADA IKAN ASIN BALUR YANG BEREDAR DI PASAR KANDANGAN KABUPATEN KEDIRI
Penulis: BINTI KHOLIFATUR ROHMAH
NIM: P17120204060
Program Studi: D3 ANALISIS FARMASI DAN MAKANAN
Dosen Pembimbing: Sandry Kesuma, S.T, M.Si.
Tahun: 2023
Tanggal Pengesahan: 2023-02-27
Kode KTI: 9300_610 ROH a-2 ROH a
Subjek: Formalin, Asam Kromatofat, Ikan Asin
Kata Kunci: Formalin, Asam Kromatofat, Ikan Asin
Bahasa: INDONESIA
Abstraksi
Formalin atau formaldehid merupakan bahan tambahan kimia yang efisien, akan tetapi dilarang jika ditambahkan pada bahan makanan. Namun banyak produsen yang menggunakan formalin sebagai pengawet pada makanan misalnya pada susu, tahu, mie, ikan asin, ikan basah, dan produk lainnya. Formalin sangat berbahaya jika dihirup dan mengenai kulit apalagi jika tertelan. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang formalin dapat merusak hati, ginjal, limpa, pankreas, dan organ lainnya yang ada didalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan formalin yang terdapat pada ikan asin balur yang beredar di Pasar Kandangan Kabupaten Kediri, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji kualitatif metode asam kromatofat. Asam kromatofat digunakan untuk mengikat formalin agar terlepas dari bahan. Penelitian ini dilakukan dengan menimbang sampel sebanyak 100 gram, kemudian sampel dihaluskan dengan menggunakan mortar dan stamper kemudian ditambahkan dengan aquadest sebanyak 200 mL hingga larut. Lalu asamkan dengan H3PO4 pekat, kemudian cek menggunakan kertas pH. Setelah dicek keasaman lakukan destilasi hingga menghasilkan destilat dari sampel ikan asin balur. Kemudian hasil destilat dipipet lalu dimasukan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan larutan pereaksi asam kromatofat dalam asam sulfat, sampel kemudian dimasukan kedalam penangas air selama kurang lebih 15 menit hingga terbentuknya perubahan warna menjadi ungu. Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu empat macam sampel yang diambil dari tiga penjual yang berbeda, jadi total sampel yaitu dua belas, sampel tersebut terdiri dari sampel ikan asin balur bloso, ikan asin balur samban, ikan asin balur gelomoh dan ikan asin balur kuniran. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa sampel ikan asin balur bloso dari ketiga penjual positif mengandung formalin yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna sampel yang semula bening menjadi ungu tua. Sedangkan pada sampel ikan asin balur samban, gelomoh, dan kuniran dari ketiga penjual negatif mengandung formalin yang ditandai dengan tidak adanya perubahan warna pada sampel tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Analisis Farmasi Makanan dan Minuman Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, maka dapat disimpulkan bahwa satu sampel positif mengandung formalin yaitu sampel ikan asin balur bloso dari ketiga penjual, sedangkan pada ketiga sampel yaitu sampel ikan asin balur samban, ikan asin balur gelomoh, dan ikan asin balur kuniran yang diambil dari tiga macam penjual negatif mengandung formalin.
Kata kunci : Formalin, Asam Kromatofat, Ikan Asin
Abstract (English)
Formalin or formaldehyde is an efficient chemical additive but is prohibited if added to food. However, many producers use formalin as a preservative in food, for example, milk, tofu, noodles, salted fish, wet fish, and other products. Formalin is dangerous if inhaled and absorbed through intact skin, especially if swallowed. If consumed in the long-term exposure, formalin can damage the liver, kidney, spleen, pancreas, and other organs in the body. This study aims to determine the presence or absence of formalin content in Balur salted fish in the Kandangan Kediri Regency Market. This study was conducted using a qualitative test of the chromotropic acid method. Chromotropic acid is used to bind formalin to be separated from the material. This research was conducted by weighing 100 grams of samples, then the sample was mashed using mortar and stamper, then added with 200 ml of distilled water until dissolved. Then use it with concentrated H3PO4, then check using pH paper. After checking the acidity, do the distillation to produce distillate from the salted fish sample. Then the distillate results are pipetted, put into a test tube, and added chromotropic acid reagents in sulfuric acid. The sample is then inserted into the water bath for approximately 15 minutes until the formation of color changes to purple. The sample used in this study was four kinds of samples taken from three different sellers, so the total sample was twelve. The sample consisted of Balur Bloso salted fish, Samban Balur salted fish, Balur Gelomoh salted fish, and Balur Kuniran salted fish. The results of this study found that the Balur Bloso salted fish from the three sellers contained formalin which is characterized by the change in the color of the sample from clear to dark purple. In contrast, the sample of Balur Samban, Gelomoh, and Kuniran salted fish from the three sellers negatively contain formalin which is marked by the absence of color changes in the sample. Based on the results of the study conducted in the Pharmaceutical Pharmacy and Beverage Laboratory of the Polytechnic Ministry of Health of Malang, it can be concluded that one positive sample contains formalin, Balur Bloso Salted Fish, from the three sellers. In contrast, Balur Samban salted fish, Balur Gelomoh salted fish, and Balur Kuniran salted fish taken from three sellers negatively containing formalin.
Key words : Formalin, Chromotropic Acid, Salted Fish
Akses berkas KTI mengikuti ketentuan perpustakaan. Tautan dokumen tidak ditampilkan sampai lokasi penyimpanan dan kebijakan hak_akses dikonfirmasi.