2018
Karya Ilmiah Mahasiswa
Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.
Abstraksi
Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Keadaan ini dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan standar pertumbuhan menurut WHO (WHO, 2010). Balita pendek. Masalah Balita pendek di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat masuk dalam kategori masalah kronis (Kemenkes RI, 2016). Presentase ini menurun dibandingkan hasil Riskesdas 2013 yaitu 37,2%, sedangkan untuk Provinsi Jawa Timur pada tahun 2013 prevalensi stunting yaitu sebesar 35,8%.
Jenis Penelitian ini adalah penelitian observasi dengan desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif. Desain deskriptif menjawab atas pertanyaan-pertanyaan tentang siapa, apa, kapan, dimana, dan bagaimana keterkaitan dengan penelitian tertentu. Sampel penelitin terdiri dari 36 responden balita dengan status gizi stunting yang berumur 0-59 bulan di Desa Bakalan.
Sebanyak 17,0% balita tergolong sangat pendek serta 83,0% pendek. Stunting lebih banyak ditemukan pada balita dengan usia 25-40 bulan dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor yang memepengaruhi kejadian stunting pada balita yaitu faktor langsung meliputi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) asupan makan (tingkat konsumsi energi dan protein). Serta terdapat faktor tidak langsung yaitu; status penyakit infeksi responden, sanitasi lingkungan, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan orang tua, serta pendapatan keluarga. Saran dari penelitian ini yaitu diharapkan ibu balita lebih memperhatikan asupan makanan yang diberikan kepada anak hendaknya yang bergizi dan seimbang sehingga kebutuhan energi dan zat gizinya dapat terpenuhi serta tingkat konsumsi energi dan protein dapat kembali normal.
Kata Kunci: stunting, faktor resiko, balita usia 0-59 bulan
Abstract (English)
Stunting describes the chronic underweight status of growth and development from early life. This situation was presented with a z-score score of height by age (TB / U) of less than -2 standard deviation (SD) based on WHO growth standard (WHO, 2010). Toddler short. Short toddler problems in Indonesia is a public health problem included in the category of chronic problems (Ministry of Health RI, 2016). This percentage decreased compared to Riskesdas 2013 which was 37.2%, while for East Java Province in 2013 stunting prevalence was 35.8%.
This type of research is an observational research with the research design used is descriptive. Descriptive designs answer the questions about who, what, when, where, and how related to a particular study. The sample of penelitin consisted of 36 respondents under five years old with stunting nutritional status 0-59 months old in Bakalan Village.
A total of 17.0% of children are very short and 83.0% short. Stunting is more common in infants aged 25-40 months with the most male sex. The results showed that there are factors that influence the incidence of stunting in balita that is the direct factor include low birth weight (LBW) feed intake (energy consumption level and protein). And there are indirect factors namely; status of infectious diseases, environmental sanitation, mother's education level, parent's job, and family income. Suggestion from this research that is expected mother of toddler pay more attention intake of food given to child should be nourishing and balanced so that energy and nutritional needs can be fulfilled and energy consumption level and protein can return to normal.
Keywords: stunting, risk factors, toddlers 0-59 months of age.
Akses berkas KTI mengikuti ketentuan perpustakaan. Tautan dokumen tidak ditampilkan sampai lokasi penyimpanan dan kebijakan
hak_akses dikonfirmasi.