Kembali ke Daftar KTI
2017 PENGEMBANGAN TEPUNG KECAMBAH KEDELAI (Glysine max) DAN TEPUNG PISANG KEPOK MERAH (Musa normalis L) SEBAGAI SEREAL UNTUK PENDERITA INTOLERANSI LAKTOSA USIA 2 – 3 TAHUN
Penulis: LILIK NURUL FADLILAH
NIM: 1303410018
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA IV GIZI
Dosen Pembimbing: Sulistiastutik dan Astutik Pudjirahaju.
Tahun: 2017
Tanggal Pengesahan: 2017-07-01
Kode KTI: 9300_610 FAD p
Subjek: intoleransi laktosa, sereal, tepung kecambah kedelai, tepung pisang kepok merah.
Kata Kunci: intoleransi laktosa, sereal, tepung kecambah kedelai, tepung pisang kepok merah.
Bahasa: Indonesia
Abstraksi
ABSTRAK
LILIK NURUL FADLILAH. Pengembangan Tepung Kecambah Kedelai (Glysne
max) dan Tepung Pisang Kepok Merah (Musa normalis L) sebagai Sereal untuk
Penderita Intoleransi Laktosa Usia 2 – 3 Tahun. Pembimbing : Sulistiastutik dan
Astutik Pudjirahaju.
Prevalensi intoleransi laktosa di Indonesia tahun 2005 pada bayi baru lahir
sebesar 72,2%, anak usia 1 bulan – 2 tahun sebesar 51,3%, dan anak usia 2 – 6
tahun sebesar 72%. Tingginya angka prevalensi intoleransi laktosa pada anak
usia diatas 2 tahun maka diperlukan suatu upaya untuk mengurangi gejala yang
ditimbulkan oleh intoleransi laktosa melalui pemilihan jenis makanan tidak
mengandung laktosa dari bahan pangan lokal yaitu sereal kecambah kedelai dan
pisang kepok merah. Kecambah kedelai mengandung protein hingga dapat
mencapai 40% dan meningkatkan daya cerna protein. Pisang kepok merah
mengandung karbohidrat cukup tinggi dan jenis pati resisten sehingga dapat
digunakan sebagai terapi pencegahan untuk penyakit saluran pencernaan, salah
satunya adalah intoleransi laktosa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis
pengembangan tepung kecambah kedelai dan tepung pisang kepok merah
sebagai sereal untuk penderita intoleransi laktosa usia 2 – 3 tahun. Jenis
penelitian ini adalah penelitian eksperimen murni dengan menggunakan desain
percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang tesusun atas 3 taraf perlakuan
yaitu proporsi tepung kecambah kedelai : tepung pisang kepok merah adalah 25
: 75 (P1), 30 : 70 (P2), dan 35 : 65 (P3). Penelitian ini dlaksanakan pada bulan
Desember 2016 – Februari 2017. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa
proporsi tepung kecambah kedelai memberikan pengaruh yang tidak signifikan
terhadap nilai energi, mutu kimia (kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar
lemak, dan kadar karbohidrat) dan mutu organoleptik (warna, aroma, rasa, dan
tekstur) sereal pengembangan. Sereal pengembangan dengan proporsi tepung
kecambah kedelai : tepung pisang kepok merah sebesar 30 : 70 telah memenuhi
persyaratan SNI susu sereal yaitu SNI-01-4270-1996 kecuali protein dengan nilai
energi 418 Kalori/100g; kadar protein 3,8 g/100g; kadar lemak 7,5 g/100g; kadar
karbohidrat 83,7 g/100g; kadar air 2,5 g/100g; kadar abu 1,5 g/100g sehingga
telah sesuai untuk penderita intoleransi laktosa usia 2 – 3 tahun. Takaran saji
sereal pengembangan 15 gram sereal dan penambahan susu kedelai 100 ml
dengan frekuensi pemberian 1 - 2 kali sehari.
Kata kunci : intoleransi laktosa, sereal, tepung kecambah kedelai, tepung pisang
kepok merah.
Akses berkas KTI mengikuti ketentuan perpustakaan. Tautan dokumen tidak ditampilkan sampai lokasi penyimpanan dan kebijakan hak_akses dikonfirmasi.