Kembali ke Daftar KTI
2013 PENGARUH PENGOLAHAN TERHADAP KADAR ASAM SALISILAT PADA SAYURAN
Penulis: MAYANGSARI KUSUMANING PUTRI
NIM: 1003000022
Program Studi: POLTEKES MALANG PRODI DIII GIZI
Dosen Pembimbing: Pembimbing : Bapak Agus Heri Santosodan Ibu Sulistiastutik.
Tahun: 2013
Tanggal Pengesahan: 2013-07-31
Kode KTI: 9300_8183 PUT p
Subjek: Gizi,Makanan
Kata Kunci: Asam salisilat, Pencucian, Perebusan
Bahasa: Indonesia
Abstraksi
ABSTRAK
Mayangsari Kusumaning Putri, 2013. Pengaruh Pengolahan Terhadap Kadar
Asam Salisilat Pada Sayuran. Karya Tulis Ilmiah, Jurusan Gizi, Politeknik
Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing : Bapak Agus Heri Santosodan Ibu
Sulistiastutik.
Sayuran merupakan bahan pangan segar yang mudah rusak, sehingga untuk
mengatasi masalah tersebut pedagang menggunakan asam salisilat yang bertujuan
untuk mencegah kerusakan. Asam salisilat merupakan bahan tambahan pangan
yang dilarang digunakan kedalam bahan makanan karena berbahaya bagi
kesehatan. Asam salisilat dapat direduksi dengan pemanasan. Untuk itu perlu
dilakukan penelitian tentang pengaruh pengolahan terhadap kadar asam salisilat
pada sayur tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
pengolahan terhadap kadar asam salisilat. Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimen dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan
dua variabel bebas, yaitu pencucian dan perebusan. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa sayur bayam dan kangkung yang beredar di Pasar Induk
Kota Gresik terdapat asam salisilat dengan kadar rata-rata bayam 9,43 mg/100 gr
dan kangkung 8,33 mg/100 gr. Proses pencucian dapat menurunkan kadar asam
salisilat begitu juga dengan proses perebusan. Peningkatan frekuensi pencucian
dapat menurunkan kadar asam salisilat lebih tinggi yaitu pada sayur bayam
17,53% dan kangkung 12,73%. Begitu juga dengan peningkatan waktu perebusan
dapat menurunkan kadar asam salisilat lebih tinggi yaitu pada sayur bayam
38,42% dan kangkung 28,63%. Kombinasi perlakuan antara pencucian dan
perebusan yang dapat memberikan pengaruh lebih besar dalam penurunan kadar
asam salisilat yaitu pencucian dua kali dan perebusan dua menit. Mengingat
dengan pengaruh pengolahan tidak dapat menetralisir kadar asam salisilat namun
hanya bisa menurunkannya saja, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut tentang frekuensi pencucian dan waktu perebusan yang tepat sehingga dapat
menurunkan kadar asam salisilat semaksimal mungkin pada sayuran. Selain itu
menjadi tugas bagi Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian Kabupaten Gresik untuk
mengadakan sidak terhadap pelaku kecurangan yang menambahkan asam salisilat
untuk mengawetkan sayuran yang selama ini belum terpublikasikan sekaligus
melakukan penyuluhan tentang cara memasak sayuran yang benar agar dapat
meminimalisir residu asam salisilat yang masuk kedalam tubuh konsumennya.
Untuk faktor yang lebih pentingnya adalahmengadakan sebuah program pelatihan
kepada petugas penyuluh pertanian untuk membahas cara penyimpanan sayuran
yang benar, diantaranya dengan cara pendinginan pada suhu rendah. Dengan
adanya program seperti itulah diharapkan para penyuluh pertanian dapat
memberikan solusi untuk para distributor agar tidak lagi menggunakan asam
salisilat guna mengawetkansayuran yang akan di jual di Kota Gresik.
Kata kunci: Asam salisilat, Pencucian, Perebusan.
Akses berkas KTI mengikuti ketentuan perpustakaan. Tautan dokumen tidak ditampilkan sampai lokasi penyimpanan dan kebijakan hak_akses dikonfirmasi.