Perpustakaan Terpadu Poltekkes Kemenkes Malang
🇮🇩 ID | 🇬🇧 EN

Karya Tulis Dosen

Jelajahi koleksi karya tulis dosen Poltekkes Kemenkes Malang.

Reset
Menampilkan 781–790 dari 1395 karya tulis dosen
Karya Tulis
2018

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN ISPA NON PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS DINOYO KOTA MALANG

Lihat Detail Karya
Pengarang: NAYA ERNAWATI, S.KEP.NS, M.KEP
Penerbit: POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN (Malang)
Subjek: Faktor risiko, ISPA Non Pneumonia, Balita <5 tahun
Lihat Abstraksi
ABSTRAK
Pendahuluan: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyebab utama
morbiditas dan mortalitas pada balita. ISPA selalu menduduki peringkat pertama dari 10
penyakit terbanyak di Indonesia. Untuk dapat menanggulangi penyebaran ISPA perlu
diketahui faktor-faktor risiko kejadian ISPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
hubungan faktor predisposisi (pendidikan, pendapatan keluarga, pengetahuan, dan sikap ),
faktor pendukung (penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan, ventilasi, adanya perokok di
dalam rumah), faktor pendorong (peran petugas kesehatan) dengan risiko kejadian ISPA non
pneumonia berulang pada balita di wilayah kerja puskesmas Dinoyo Kota Malang. Metode:
Jenis penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan pendekatan cross sectional.
Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Populasi yaitu orang tua balita di wilayah
kerja puskesmas Dinoyo Kota Malang. Penelitian ini menggunakan purposive sampling,
dengan jumlah sampel 60 responden. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat
dengan chi square test dan oods ratio. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian
ISPA Non Pneumonia berulang pada balita memiliki hubungan yang dignifikan dengan
Pengetahuan (p value = 0,017; OR = 0,27, sikap (p value = 0,003; OR = 0,27), penggunaan
fasilitas pelayanan kesehatan (p value = 0,371; OR = 0,58), ventilasi (p value = 0,028; OR =
0,29), perokok di dalam rumah (p value = 0,000; OR = 7,56), peran petugas kesehatan (p
value = 0,000; OR= 0,17). Rekomendasi perlu penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan
model pencegahan ISPA NonPneumonia berulang pada balita sesuai faktor-faktor risiko
kejadian yang ditemukan.
Kata Kunci : Faktor risiko, ISPA Non Pneumonia, Balita <5 tahun
Karya Tulis
2018

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI KOTA DAN KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Pengarang: Dra. Suliastutik, M. Kes,. I Komang Suwita, SST, MP
Penerbit: POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG (Malang)
Karya Tulis
2018

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KETIDAKBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU BEKERJA DI KECAMATAN KASIYAN KABUPATEN JEMBER

Lihat Detail Karya
Pengarang: DIAN ABY RESTANTY, SST, M. Keb, ELFIRA NURUL AINI, SST, M.Keb
Penerbit: Poltekkes Kemenkes Malang (Malang)
Subjek: Faktor, ASI eksklusif
Lihat Abstraksi
ABSTRAK
ASI eksklusif merupakan pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir
tanpa makanan dan minuman lain hingga bayi berusia 6 bulan. ASI mengandung
antibodi yang dapat memberikan kekebalan pada bayi terutama pada sistem
pencernaan dan pernapasan sehingga dapat membantu menurunkan Angka
Kematian Bayi (AKB). Pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja seringkali
mengalami kegagalan. Data cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas
Kasiyan mencapai 19,93% merupakan cakupan terendah di Kabupaten Jember.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor
ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja di wilayah kerja
Puskesmas Kasiyan Kabupaten Jember.
Desain penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan
pendekatan croos sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang tidak
memberikan ASI eksklusif yang memiliki bayi berusia 6-12 bulan. Sampel
diperoleh dengan teknik purposive sampling. Alat ukur berupa kuesioner. Analisa
data dilakukan dengan uji statistik univariat dan analisis bivariat untuk
mengetahui faktor dominan.
Berdasarkan hasil penelitian, faktor dominan yang mempengaruhi
ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja di wilayah kerja
Puskesmas Kasiyan Kabupaten Jember antara lain : faktor umur (p-value=0.000),
faktor keterpaparan informasi (p-value=0.000), faktor sikap (p-value=0.000),
faktor ketersediaan fasilitas (p-value=0.000), faktor dukungan suami (pvalue=
0.000) dan dukungan atasan (p-value=0.000). Faktor tingkat pendidikan (pvalue=
0,042), dukungan tenaga kesehatan (p-value=0,008) dan dukungan atasan
(p-value=0,001) juga mempengaruhi secara signifikan.
Dalam penelitian ini ibu yang memiliki umur reproduktif cenderung
merasa ragu-ragu, meskipun sudah terpapar informasi tentang ASI eksklusif,
memiliki sikap yang mendukung baik dari diri sendiri, suami dan atasan, jika
tidak didukung oleh fasilitas menyusui di tempat kerja dan persepsi pengasuh
yang benar terhadap manfaat ASI eksklusif, maka pemberian ASI eksklusif akan
mengalami kegagalan.
Kata kunci : Faktor, ASI eksklusif
Karya Tulis
2018

ANALISIS KARAKTERISTIK DAN PERAN ORANGTUA DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN GIZI TERHADAP STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI KOTA MALANG

Lihat Detail Karya
Pengarang: WAHYU SETYANINGSIH, S.ST, M.Kes
Penerbit: POLITEKNIK KESEHATAN MALANG JURUSAN KEBIDANAN (Malang)
Lihat Abstraksi
ABSTRAK
Permasalahan gizi remaja perlu menjadi fokus perhatian karena status gizi
remaja putri (pranikah) memiliki pengaruh besar pada kesehatan kehamilan dan
kelahiran bila remaja tersebut menjadi ibu. Penelitian ini dilakukan untuk
menganalisis karakteristik dan peran orangtua dalam pemenuhan kebutuhan gizi
terhadap status gizi remaja putri di kota malang. Penelitian ini merupakan
penelitian cross-sectional yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Kota Malang,
dengan subjek 75 remaja putri yang dipilih dengan metode simple random
sampling. Data tentang karakteristik dan peran orangtua dalam pemenuhan gizi,
serta usia menarche dan pola menstruasi diperoleh dengan menggunakan
kuesioner dengan wawancara terstruktur. Data tentang BB, TB, LILA dan lingkar
perut didapatkan dengan pengukuran. Analisis data dilakukan secara univariat dan
bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 14,67% remaja putri
termasuk dalam status gizi kurang, 13,33% status gizi lebih (IMT/U), 25,33%
mengalami KEK, dan 22,67% status gizi lebih (lingkar perut >80cm). Dari hasil
analisis tidak terdapat hubungan bermakna antara umur ibu, pendidikan ibu dan
status pekerjaan ibu dengan status gizi (p>0,05). Penelitian ini menunjukkan tidak
terdapat hubungan bermakna antara usia menarche dengan status gizi(p>0,05).,
namun terdapat hubungan bermakna antara pola menstruasi dengan status gizi
(p<0,05). Terdapat hubungan bermakna antara peran orangtua dalam pemenuhan
kebutuhan gizi dengan status gizi berdasarkan IMT/U dan lingkar lengan
(p<0,05), namun tidak berdasarkan lingkar perut (p>0,05). Upaya peningkatan
status gizi untuk berkualitas harus dimulai sedini mungkin terutama pada anak
sekolah sebagai generasi penerus bangsa.
Karya Tulis
2018

Analisis Kebutuhan SDM Rekam Medis di Unit Filing Rumah Sakit Pemata Bunda Malang

Lihat Detail Karya
Pengarang: Rizki Fadila, SE, MSA, Ak
Penerbit: POLTEKKES KEMENKES MALANG (Malang)
Subjek: Analisis Beban kerja, Unit Filing Rekam Medis, WISN
Lihat Abstraksi
ABSTRAK
Beban kerja merupakan salah satu komponen penting dalam menghitung kebutuhan tenaga. Dalam hal ini jumlah tenaga yang dibutuhkan disesuaikan dengan beban kerja yang ada. Metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) adalah metode untuk menghitung kebutuhan tenaga berdasarkan beban kerja nyata yang dilaksanakan oleh tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya beban kerja perekam medis yang ada di unit Filing Rumah Sakit Permata Bunda dengan teknik work sampling, selanjutnya beban kerja digunakan untuk menganalisis kebutuhan tenaga perekam medis di Unit Filing Rumah Sakit Permata Bunda.
Penelitian ini dilaksanakan di Unit Filing Rekam Medis Rumah Sakit Permata Bunda Malang selama sepuluh hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan observasi, wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian didapatkan bahwa penggunaan waktu kerja staf untuk aktivitas produktif rata-rata 82,13%, aktivitas non produktif rata-rata 5,13% dan aktivitas pribadi 12,57%. Hasil perhitungan tenaga dengan metode WISN didapatkan jumlah tenaga Perekam Medis di Unit Filing adalah 6 orang dengan ratio 0,67. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada Manajemen Rumah Sakit Permata Bunda Malang bahwa perlu adanya pertimbangan untuk menambah tenaga Perekam Medis di Unit Filing sebanyak 2 orang sesuai dengan beban kerja yang ada.
Kata kunci: Analisis Beban kerja, Unit Filing Rekam Medis, WISN
Karya Tulis
2018

Analisis Pewarna Merah dan Kuning Non Food Grade pada Jajanan Anak Sekolah Menggunakan Metode Kromatografi Kertas dan Spektrofotometri UV-Visible

Lihat Detail Karya
Pengarang: RANI NURMAYANTI, SST., M.Gizi.
Penerbit: Poltekkes Kemenkes Malang (Malang)
Lihat Abstraksi
ABSTRAK

Mutu suatu produk pangan pada umumnya dinilai dari cita rasa, warna, tekstur
dan nilai gizinya. Untuk meningkatkan mutu produk pangan dapat dilakukan
dengan penambahan bahan tambahan pangan atau yang dikenal dengan sebutan
BTP pada makanan. Salah satu BTP yang sering digunakan adalah pewarna.
Warna merupakan daya tarik terbesar untuk menikmati makanan setelah aroma.
Oleh karena itu pedagang pun berlomba menawarkan aneka produknya dengan

warna-warna yang menarik tak terkecuali pedagang makanan jajanan di sekolah-
sekolah. Berdasarkan asalnya, pewarna dapat dibedakan menjadi pewarna alami

dan pewarna sintetik atau buatan. Kedua jenis pewarna ini dapat digunakan pada
jajanan,tetapi dengan syarat tetap mengacu kepada peraturan pemerintah yang
mengatur mengenai penggunaan BTP pewarna. Pemerintah melalui Kementerian
Kesehatan RI telah menetapkan peraturan terkait jenis pewarna yang diizinkan
untuk digunakan pada pangan olahan serta batas maksimum penggunaannya.
Kendati pemerintah telah menetapkan peraturan tentang penggunaan pewarna,
namun hingga kini konsumen masih dihadapkan pada masalah terkait
penyalahgunaan pewarna pada pangan. Dua jenis bahan kimia terlarang yang
masih sering dijumpai pada pangan adalah pewarna metanil yellow dan
rhodamine B, keduanya merupakan pewarna kuning dan merah. Menurut survey
yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM, 2004) setidaknya
50% makanan jajanan yang dijual di sekolah-sekolah sama sekali tidak baik untuk
kesehatan karena ditemukan adanya zat pewarna tekstil ini yang dapat merusak
system saraf, hati dan pernafasan. Pada penelitian ini dilakukan analisis deteksi
pewarna mettilen yellow dan rhodamine B pada makanan dan minuman ringan
yang dijajakan di sekolah-sekolah di wilayah Kelurahan Bareng. Sebanyak dua

sampel positif rhodamine B dengan konsentrasi 0,043 dan 0,67 ppm berturut-
turut. Untuk parameter methanyl yellow dua sampel positif dengan konsentrasi

masing-masing 0,568 dan 1,958 ppm.
Karya Tulis
2018

Analisis Pewarna Merah dan Kuning Non Food Grade pada Jajanan Anak Sekolah Menggunakan Metode Kromatografi Kertas dan Spektrofotometri UV-Visible

Lihat Detail Karya
Pengarang: RISKA YUDHISTIA ASWORO, S.Si, M.Si
Penerbit: Poltekkes Kemenkes Malang (Malang)
Lihat Abstraksi
ABSTRAK

Mutu suatu produk pangan pada umumnya dinilai dari cita rasa, warna, tekstur
dan nilai gizinya. Untuk meningkatkan mutu produk pangan dapat dilakukan
dengan penambahan bahan tambahan pangan atau yang dikenal dengan sebutan
BTP pada makanan. Salah satu BTP yang sering digunakan adalah pewarna.
Warna merupakan daya tarik terbesar untuk menikmati makanan setelah aroma.
Oleh karena itu pedagang pun berlomba menawarkan aneka produknya dengan

warna-warna yang menarik tak terkecuali pedagang makanan jajanan di sekolah-
sekolah. Berdasarkan asalnya, pewarna dapat dibedakan menjadi pewarna alami

dan pewarna sintetik atau buatan. Kedua jenis pewarna ini dapat digunakan pada
jajanan,tetapi dengan syarat tetap mengacu kepada peraturan pemerintah yang
mengatur mengenai penggunaan BTP pewarna. Pemerintah melalui Kementerian
Kesehatan RI telah menetapkan peraturan terkait jenis pewarna yang diizinkan
untuk digunakan pada pangan olahan serta batas maksimum penggunaannya.
Kendati pemerintah telah menetapkan peraturan tentang penggunaan pewarna,
namun hingga kini konsumen masih dihadapkan pada masalah terkait
penyalahgunaan pewarna pada pangan. Dua jenis bahan kimia terlarang yang
masih sering dijumpai pada pangan adalah pewarna metanil yellow dan
rhodamine B, keduanya merupakan pewarna kuning dan merah. Menurut survey
yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM, 2004) setidaknya
50% makanan jajanan yang dijual di sekolah-sekolah sama sekali tidak baik untuk
kesehatan karena ditemukan adanya zat pewarna tekstil ini yang dapat merusak
system saraf, hati dan pernafasan. Pada penelitian ini dilakukan analisis deteksi
pewarna mettilen yellow dan rhodamine B pada makanan dan minuman ringan
yang dijajakan di sekolah-sekolah di wilayah Kelurahan Bareng. Sebanyak dua

sampel positif rhodamine B dengan konsentrasi 0,043 dan 0,67 ppm berturut-
turut. Untuk parameter methanyl yellow dua sampel positif dengan konsentrasi

masing-masing 0,568 dan 1,958 ppm.
Cover Aplikasi SPSS Untuk Tenaga Kesehatan
2018

Aplikasi SPSS Untuk Tenaga Kesehatan

Lihat Detail Karya
Pengarang: HASAN ARONI, SKM, MPH
Penerbit: POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG (Malang)
Lihat Abstraksi
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena dengan berkat dan
rahmat-Nya Buku SPSS untuk Tenaga Kesehatan ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.
Selaku Ketua Jurusan Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang saya
menyambut baik terbitnya Buku ini. Kehadiran Buku ini mempunyai arti yang
sangat penting bagi Mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Malang.
Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Penulis yang sudah
mempersembahkan karya ini untuk kepentingan Jurusan Gizi Politeknik
Kesehatan Kemenkes Malang, namun demikian perlu disadari bahwa Buku ini
tetap membutuhkan masukan dari berbagai pihak, guna penyempurnaan dimasa
yang akan datang. Semoga Buku ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dalam
mengikuti perkuliahan.
Cover Beban Keluarga Dalam Merawat Klien Skizofrenia Di RSJ DR. Radjiman Wediodiningrat Lawang
2018

Beban Keluarga Dalam Merawat Klien Skizofrenia Di RSJ DR. Radjiman Wediodiningrat Lawang

Lihat Detail Karya
Pengarang: Eddi Sudjarwo, S.Kep., Ns., M.Kep
Penerbit: POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG (Malang)
Subjek: Keperawatan
Lihat Abstraksi
ABSTRAK
BEBAN KELUARGA DALAM MERAWAT KLIEN SKIZOFRENIA DI RSJ DR. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh: Eddi Sudjarwo
Pendahuluan: Stres keluarga yang muncul bisa berupa rasa iba, sedih, pasrah, malu, isolasi sosial, dan juga rasa kebingungan dalam pemenuhan kebutuhan treatment anggota keluarga yang sakit yang harus dilakukan secara terus menerus. Kondisi keluarga yang tertekan ini meliputi perasaan keluarga yang merasa sedih merawat pasien gangguan jiwa. Keluarga yang tertekan adalah keluarga terdesak dengan semua kondisi yang memicunya untuk mengambil keputusan pasung
Metode: Penelitian ini menggunakan desain riset kualitatif, Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi, jumlah responden 6 orang. analisis hasil penelitian menggunakan cara mendeskripsikan hasil wawancara partisipan
Hasil: Keluarga dalam merawat klien skizofrenia sebaiknya berorientasi pada membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak dapat dipenuhi oleh klien skizofrenia sendiri dan memberikan reinforcement pada kemandirian yang telah dicapai klien.
Kebutuhan keluarga dalam merawat klien skizofrenia dalam penelitian ini ditentukan oleh persepsi keluarga untuk memanfaatkan sumber yang ada dan tujuan yang ingin dicapai
Dukungan dalam bentuk pemberian nasihat yang dirasakan keluarga memberikan kedamaian secara emosional, sehingga dikelompokkan ke dalam bentuk dukungan emosional
Kesulitan keluarga juga ditemui saat membawa klien skizofrenia ke fasilitas pemeliharaan kesehatan, membawa klien ke tempat umum dan kebingungan keluarga dalam memahami keinginan klien yang tidak dapat dimengerti serta mendidik klien agar dapat mengendalikan perilaku dan menjadi lebih mandiri
Keluarga akan memberdayakan seluruh elemen dalam keluarga untuk berpartisipasi secara aktif melalui pembagian peran dan tanggung jawab, mempertahankan komunikasi yang efektif serta membina hubungan kebergantungan yang saling menguntungkan di dalam keluarga
Diskusi: Proses dalam penelitian ini digambarkan sebagai cara yang ditempuh oleh keluarga untuk mengatasi berbagai stimulus yang ada, melalui berbagai macam modifikasi cara merawat, penggunaan mekanisme koping dan pemberdayaan peran serta fungsi keluarga. Kemampuan keluarga dalam merawat dan menghadapi permasalahan akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dan menumbuhkan harapan baru saat keluarga memiliki dukungan sosial yang cukup dari dalam keluarga maupun lingkungan sekitar
Kata Kunci : Beban keluarga, penderita skizofrenia, Mekanisme Koping dan Adaptasi Keluarga
Cover BUKU AJAR PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
2018

BUKU AJAR PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

Lihat Detail Karya
Pengarang: MUJITO, A.Per,Pen, M.Kes Dr. GANIF DJUWADI, SST, M.Kes
Penerbit: Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Malang)
Subjek: Psikologi
Chatbot Perpustakaan
📚

Perpustakaan Digital

Poltekkes Kemenkes Malang

Halo 👋

Selamat datang di layanan digital perpustakaan.

Sistem ini membantu pencarian informasi perpustakaan secara cepat dan otomatis.

Contoh pertanyaan:
• cara menjadi anggota perpustakaan
• cara cek plagiarisme
• Jam buka perpustakaan