Karya Tulis
Karya Tulis Dosen
Jelajahi koleksi karya tulis dosen Poltekkes Kemenkes Malang.
Menampilkan
671–680
dari
1395
karya tulis dosen
Karya Tulis
2019
Peer Riview KEPATUHAN KUNJUNGAN ULANG IBU NIFAS DENGAN REMINDER “BUFAS” DI PUSKESMAS SUMBERJO KABUPATEN KEDIRI
Lihat Detail Karya
2019
Peer Riview Pengaruh Stimulasi dengan Menggunakan Flash Chart terhadap Perkembangan Bicara dan Bahasa Anak Usia 48 – 72 Bulan Di Taan Kanak – Kanak Perba Ceria Kota Kediri
Lihat Detail Karya
2019
Peer Riview PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG NUTRISI IBU NIFAS MENGGUNAKAN MEDIA APLIKASI “SINNIA” DI RUMAH SAKIT AURA SYIFA KEDIRI
Lihat Detail Karya
2019
PEMBENTUKAN KAMPUNG IVA DI KELURAHAN BANDAR LOR KOTA KEDIRI
Lihat Detail KaryaLihat Abstraksi
RINGKASAN
Data Global Cancer Observatory 2018 dari World Health Organization (WHO) menunjukkan kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Kanker serviks (leher rahim) merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak terjadi di Indonesia sebanyak 32.469 kasus atau 9,3% dari total kasus. Faktor penyebab terjadinya kanker serviks adalah virus HPV (human papilloma virus). Infeksi virus HPV didapat melaului hubungan seksual atau yang berhubungan dengan kemaluan. Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan vaksinasi dan deteksi dini kanker serviks. Beberapa metode deteksi dini dapat dilakukan diantaranya dengan metode pemeriksaan visual yakni inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).
Tim pengabmas memberikan sosialisasi kepada WUS RW.02 dan RW.05 selama bulan Juli-Agustus 2019. Pada saat melakukan sosialisasi, tim memberikan pre-test dan post-test pada WUS guna mengetahui peningkatan pemahaman WUS terhadap kanker serviks dan pemeriksaan IVA. Sosialisasi ini bertujuan untuk menggugah kesadaran kelompok sasaran untuk mau periksa IVA secara mandiri. Sebelum dilakukan sosialisasi, sebagian besar sikap WUS dalam kategori cukup sebesar 58%. Sedangkan setelah dilakukan sosialisasi, sebagian WUS (50%) memiliki sikap cukup dalam program IVA. Pemeriksaan IVA diikuti sebanyak 157 orang wanita usia subur, hasilnya didapatkan hasil dari 157 orang yang melakukan pemeriksaan, ditemukan 9 orang mengalami erosi pada serviksnya, 4 orang mengalami cysta naboti, 2 orang mengalami polip, 2 orang mengalami kebiruan pada serviksnya, dan ditemukan 1 orang yang terdiagnosis suspek kanker serviks. Tenaga kesehatan diharapkan untuk terus memberikan motivasi WUS agar mereka terus sadar untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, khususnya pemeriksaan kesehatan reproduksi.
Data Global Cancer Observatory 2018 dari World Health Organization (WHO) menunjukkan kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Kanker serviks (leher rahim) merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak terjadi di Indonesia sebanyak 32.469 kasus atau 9,3% dari total kasus. Faktor penyebab terjadinya kanker serviks adalah virus HPV (human papilloma virus). Infeksi virus HPV didapat melaului hubungan seksual atau yang berhubungan dengan kemaluan. Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan vaksinasi dan deteksi dini kanker serviks. Beberapa metode deteksi dini dapat dilakukan diantaranya dengan metode pemeriksaan visual yakni inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).
Tim pengabmas memberikan sosialisasi kepada WUS RW.02 dan RW.05 selama bulan Juli-Agustus 2019. Pada saat melakukan sosialisasi, tim memberikan pre-test dan post-test pada WUS guna mengetahui peningkatan pemahaman WUS terhadap kanker serviks dan pemeriksaan IVA. Sosialisasi ini bertujuan untuk menggugah kesadaran kelompok sasaran untuk mau periksa IVA secara mandiri. Sebelum dilakukan sosialisasi, sebagian besar sikap WUS dalam kategori cukup sebesar 58%. Sedangkan setelah dilakukan sosialisasi, sebagian WUS (50%) memiliki sikap cukup dalam program IVA. Pemeriksaan IVA diikuti sebanyak 157 orang wanita usia subur, hasilnya didapatkan hasil dari 157 orang yang melakukan pemeriksaan, ditemukan 9 orang mengalami erosi pada serviksnya, 4 orang mengalami cysta naboti, 2 orang mengalami polip, 2 orang mengalami kebiruan pada serviksnya, dan ditemukan 1 orang yang terdiagnosis suspek kanker serviks. Tenaga kesehatan diharapkan untuk terus memberikan motivasi WUS agar mereka terus sadar untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, khususnya pemeriksaan kesehatan reproduksi.
2019
PEMBERDAYAAN IBU DALAM PEMBERIAN MP-ASI BAGI BADUTA DI KELURAHAN BANDUNGREJOSARI KOTA MALANG
Lihat Detail KaryaLihat Abstraksi
RINGKASAN
Program pembangunan kesehatan di Indonesia, dewasa ini masih
diprioritaskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan, utamanya pada
kelompok paling rentan kesehatan, yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan nifas (ibu
menyusui), serta bayi pada masa pranatal. Hal ini ditandai dengan masih
tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Tingginya
AKI dan AKB disebabkan karena ketidak berdayaan seorang ibu dalam
memutuskan untuk mendapatkan pertolongan medis apabila terjadi permasalahan
pada kehamilan dan bayinya. Pengetahuan dan keterampilan ibu tentang
kesehatan ibu dan anak juga perlu ditingkatkan agar permasalahan kesehatan
bagi
ibu dan anak
dapat teratasi. Data pemantauan status gizi di Indonesia
(2017) menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif masih rendah (35,7%)
yang masih jauh dari target cakupan ASI eksklusif yang ditetapkan WHO dan
Kemenkes (50%). Menurut data Riskesdas, tingkat stunting di Indonesia tertinggi
kedua di Asia Tenggara, bahkan lebih tinggi dari beberapa negara Afrika, dan
satu dari tiga balita Indonesia menderita stunting. Stunting merupakan masalah
kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang
cukup
lama
(periode
1000
HPK)
sehingga
mengakibatkan
gangguan
pertumbuhan (tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar usianya).
Salah satu upaya untuk dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada
ibu adalah melalui Pemberdayaan Ibu dalam pemberian MP-ASI bagi anak
bawah dua tahun. Untuk maksud tersebut kegiatan pengabdian kepada
masyarakat tentang Pemberdayaan ibu dalam pemberian MP-ASI bagi baduta
perlu dilakukan sebagai dukungan terhadap program Kesehatan Ibu dan Anak di
Kota Malang serta untuk mencegah terjadinya stunting dengan memperbaiki
status gizi ibu dan anak di periode 1000 Hari Pertama Kehidupan.
Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk
memberdayakan ibu agar dapat memberikan MP-ASI yang tepat dan sehat bagi
anak dengan manfaat yang ingin diperoleh agar terjadi peningkatan pengetahuan
dan
keterampilan
dalam
mempersiapkan
dan
mengolah
MP-ASI
agar
meningkatkan tingkat konsumsi energi dan zat gizi anak bawah dua tahun
sehingga terpenuhi kebutuhan gizinya dan tidak terjadi stunting. Luaran dari
kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah tersusunnya buku dengan judul
Baduta”,
“MP-ASI tepat & Sehat Bagi
publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal dari
hasil kegiatan pengabmas, dan HaKI resep MP-ASI yang telah diuji cobakan di
laboratorium. Metode kegiatan pengabmas berupa pendidikan dan pelatihan
(diklat) mengolah MP-ASI yang dilanjutkan pendampingan di rumah untuk
monitoring dan evaluasi tentang perilaku makan anak (porsi, variasi jenis bahan
makanan, pengolahan, dan kebersihan), serta tumbuh kembang anak (berat badan
dan panjang badan).
Hasil pre test dan post test menunjukkan ada peningkatan pengetahuan
pada ibu setelah diberikan pendidikan dan pelatihan, terbukti dari hasil post test
nilai yang jauh lebih baik dibandingkan nilai pre test. Bayi yang dilahirkan
dengan berat badan normal (60%) dan 30% bayi yang dilahirkan besar (berat
badan >3 kg). Jenis kelamin responden 60% perempuan, 90% ibu melahirkan
normal, ibu yang melakukan Inisiasi Menyusui Dini / IMD (50%), tidak ada ibu yang memberikan MP-ASI dini, serta 60% anak belum lengkap status
imunisasinya. Berat Badan dan Panjang Badan anak tidak ada yang berada di
bawah -2SD, semua berada di rentangan -1SD s/d 1 SD (status gizi baik). Bahan
makanan yang dipilih ibu sudah bervariasi, porsinyapun sudah sesuai serta jenis
makanan yang dipilih ibu sudah berdasarkan pada manfaat makanan bagi tubuh
bayi / anak..
Kegiatan ini perlu dilanjutkan untuk memantau pola makan anak agar
anak mau menerima semua makanan pada tahun 2020, dengan harapan anak
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dengan gizi yang sesuai dengan
tumbuh kembangnya sehingga dapat mencegah terjadinya stunting, karena usia
2-3 tahun merupakan usia yang rentan bagi anak dimana anak sudah bisa
memilih makanan sendiri sehingga perlu kreativitas ibu dalam mengolah
makanan bagi anak balita.
Program pembangunan kesehatan di Indonesia, dewasa ini masih
diprioritaskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan, utamanya pada
kelompok paling rentan kesehatan, yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan nifas (ibu
menyusui), serta bayi pada masa pranatal. Hal ini ditandai dengan masih
tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Tingginya
AKI dan AKB disebabkan karena ketidak berdayaan seorang ibu dalam
memutuskan untuk mendapatkan pertolongan medis apabila terjadi permasalahan
pada kehamilan dan bayinya. Pengetahuan dan keterampilan ibu tentang
kesehatan ibu dan anak juga perlu ditingkatkan agar permasalahan kesehatan
bagi
ibu dan anak
dapat teratasi. Data pemantauan status gizi di Indonesia
(2017) menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif masih rendah (35,7%)
yang masih jauh dari target cakupan ASI eksklusif yang ditetapkan WHO dan
Kemenkes (50%). Menurut data Riskesdas, tingkat stunting di Indonesia tertinggi
kedua di Asia Tenggara, bahkan lebih tinggi dari beberapa negara Afrika, dan
satu dari tiga balita Indonesia menderita stunting. Stunting merupakan masalah
kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang
cukup
lama
(periode
1000
HPK)
sehingga
mengakibatkan
gangguan
pertumbuhan (tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar usianya).
Salah satu upaya untuk dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada
ibu adalah melalui Pemberdayaan Ibu dalam pemberian MP-ASI bagi anak
bawah dua tahun. Untuk maksud tersebut kegiatan pengabdian kepada
masyarakat tentang Pemberdayaan ibu dalam pemberian MP-ASI bagi baduta
perlu dilakukan sebagai dukungan terhadap program Kesehatan Ibu dan Anak di
Kota Malang serta untuk mencegah terjadinya stunting dengan memperbaiki
status gizi ibu dan anak di periode 1000 Hari Pertama Kehidupan.
Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk
memberdayakan ibu agar dapat memberikan MP-ASI yang tepat dan sehat bagi
anak dengan manfaat yang ingin diperoleh agar terjadi peningkatan pengetahuan
dan
keterampilan
dalam
mempersiapkan
dan
mengolah
MP-ASI
agar
meningkatkan tingkat konsumsi energi dan zat gizi anak bawah dua tahun
sehingga terpenuhi kebutuhan gizinya dan tidak terjadi stunting. Luaran dari
kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah tersusunnya buku dengan judul
Baduta”,
“MP-ASI tepat & Sehat Bagi
publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal dari
hasil kegiatan pengabmas, dan HaKI resep MP-ASI yang telah diuji cobakan di
laboratorium. Metode kegiatan pengabmas berupa pendidikan dan pelatihan
(diklat) mengolah MP-ASI yang dilanjutkan pendampingan di rumah untuk
monitoring dan evaluasi tentang perilaku makan anak (porsi, variasi jenis bahan
makanan, pengolahan, dan kebersihan), serta tumbuh kembang anak (berat badan
dan panjang badan).
Hasil pre test dan post test menunjukkan ada peningkatan pengetahuan
pada ibu setelah diberikan pendidikan dan pelatihan, terbukti dari hasil post test
nilai yang jauh lebih baik dibandingkan nilai pre test. Bayi yang dilahirkan
dengan berat badan normal (60%) dan 30% bayi yang dilahirkan besar (berat
badan >3 kg). Jenis kelamin responden 60% perempuan, 90% ibu melahirkan
normal, ibu yang melakukan Inisiasi Menyusui Dini / IMD (50%), tidak ada ibu yang memberikan MP-ASI dini, serta 60% anak belum lengkap status
imunisasinya. Berat Badan dan Panjang Badan anak tidak ada yang berada di
bawah -2SD, semua berada di rentangan -1SD s/d 1 SD (status gizi baik). Bahan
makanan yang dipilih ibu sudah bervariasi, porsinyapun sudah sesuai serta jenis
makanan yang dipilih ibu sudah berdasarkan pada manfaat makanan bagi tubuh
bayi / anak..
Kegiatan ini perlu dilanjutkan untuk memantau pola makan anak agar
anak mau menerima semua makanan pada tahun 2020, dengan harapan anak
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dengan gizi yang sesuai dengan
tumbuh kembangnya sehingga dapat mencegah terjadinya stunting, karena usia
2-3 tahun merupakan usia yang rentan bagi anak dimana anak sudah bisa
memilih makanan sendiri sehingga perlu kreativitas ibu dalam mengolah
makanan bagi anak balita.
2019
PEMBERDAYAAN KADER KESEHATAN DALAM MENGATASI EFEK PENGOBATAN KANKER DENGAN TERAPY OMPLEMENTARY DI WILAYAH KERJA PONKESDES SUMBER PORONG
Lihat Detail KaryaLihat Abstraksi
RINGKASAN
Terapi yang paling banyak digunakan pada penderita kanker adalah
kemoterapi dan radioterapi . Efek dari pengobatan kemoterapi dan radioterapi
bisa menimbulkan masalah fisik maupun psikologis seperti gangguan mual
muntah, kelelahan, dll , hal ini berdampak pada siklus penundaan atau pembatalan
pengobatan
berikutnya.
Masalah
tersebut
disebabkan
karena
keterbatasan
pengetahuan tentang perawatan
efek pengobatan pengobatan pada keluarga
penderita maupun masyarakat khususnya kader kesehatan. Berdasarkan penelitian
Grunberg (2004), bahwa sekitar 60% pasien yang mendapatkan kemoterapi
mengalami mual dan
30%
mengalami muntah meskipun sudah menggunakan
antiemetik regimen terbaru.
Tujuan
dan
sasaran
kegiatan
pengabdian
masyarakat
adalah
untuk
meningkatkan pengetahuan kader tentang cara mengatasi efek pengobatan kanker
dengan terapy complementary. Sasaran pengabmas adalah kader kesehatan di
Wilayah Kerja Ponkesdes Desa Sumber Porong. Pelaksanaan tahap pertama
menyampaikan materi tentang konsep pengobatan kanker, efek samping,cara
mengatasi dan konsep aromatherapy dan akupressur, serta menyampai teknik
aromaterapi,
akuressur
sedangkan
tahap
berikutnya
evaluasi,
rencana
implementasi.
Hasil evaluasi setelah dilakukan pemberdayaan kader kesehatan pada
kegiatan pengabdian masyakat memiliki pengetahuan dan kemampuan meningkat
tentang
terapy
complementary
seperti
aromaterapi
dan
akupressur
untuk
mengatasi mual muntah.
Teknik aromaterapi dan akupressur adalah salah satu
cara
mengatasi mual muntah efek pengobatan kanker atau yang lain
tanpa efek
samping, murah ,
aman bila dilakukan dengan benar.
Terapi yang paling banyak digunakan pada penderita kanker adalah
kemoterapi dan radioterapi . Efek dari pengobatan kemoterapi dan radioterapi
bisa menimbulkan masalah fisik maupun psikologis seperti gangguan mual
muntah, kelelahan, dll , hal ini berdampak pada siklus penundaan atau pembatalan
pengobatan
berikutnya.
Masalah
tersebut
disebabkan
karena
keterbatasan
pengetahuan tentang perawatan
efek pengobatan pengobatan pada keluarga
penderita maupun masyarakat khususnya kader kesehatan. Berdasarkan penelitian
Grunberg (2004), bahwa sekitar 60% pasien yang mendapatkan kemoterapi
mengalami mual dan
30%
mengalami muntah meskipun sudah menggunakan
antiemetik regimen terbaru.
Tujuan
dan
sasaran
kegiatan
pengabdian
masyarakat
adalah
untuk
meningkatkan pengetahuan kader tentang cara mengatasi efek pengobatan kanker
dengan terapy complementary. Sasaran pengabmas adalah kader kesehatan di
Wilayah Kerja Ponkesdes Desa Sumber Porong. Pelaksanaan tahap pertama
menyampaikan materi tentang konsep pengobatan kanker, efek samping,cara
mengatasi dan konsep aromatherapy dan akupressur, serta menyampai teknik
aromaterapi,
akuressur
sedangkan
tahap
berikutnya
evaluasi,
rencana
implementasi.
Hasil evaluasi setelah dilakukan pemberdayaan kader kesehatan pada
kegiatan pengabdian masyakat memiliki pengetahuan dan kemampuan meningkat
tentang
terapy
complementary
seperti
aromaterapi
dan
akupressur
untuk
mengatasi mual muntah.
Teknik aromaterapi dan akupressur adalah salah satu
cara
mengatasi mual muntah efek pengobatan kanker atau yang lain
tanpa efek
samping, murah ,
aman bila dilakukan dengan benar.
2019
Pemberdayaan Kader Posyandu Lansia Sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan Dan Ketrampilan Membuat PMT di wilayah Puskesmas Kedungkandang
Lihat Detail KaryaLihat Abstraksi
Ini pak Amin.
RINGKASAN
Masalah penyakit tidak menular utama yang timbul di Puskesmas Kedungkandang kota Malang adalah penyakit Hipertensi dan DM (Dinkes Malang, 2017). Tujuan pengabmas adalah untuk memperbaiki tingkat pengetahuan kader posyandu lansia dalam membuat PMT lansia bagi penderita DM komplikasi hipertensi. Keterangan: signifikan pada p<0,05
Terdapat 13 posyandu lansia yang terpilih untuk mengikuti pelatihan pembuatan PMT bagi lansia. Sebelum dilakukannya pelatihan, terdapat 7 posyandu yang telah memberikan PMT bagi lansia setiap dilaksanakannya posyandu, dan terdapat 6 posyandu yang belum memberikan PMT lansia. Setelah dilakukannya pelatihan, terjadi kenaikan menjadi 9 posyandu memberikan PMT bagi lansia. Tabel 2 menunjukkan setelah dilakukan Uji McNemar bahwa terdapat perbedaan pada penyelenggaraan PMT lansia di posyandu sebelum dengan setelah pelatihan dengan p=0,025 (p<0,05).
Tabel 3 menunjukkan bahwa setelah dilakukan pelatihan pembuatan PMT lansia, tidak terdapat perbedaan dalam hal rasa, tekstur, dan warna pada PMT lansia (p>0,05). Sebanyak 6 posyandu mendapat apresiasi ‘suka’ dari segi rasa pada pemberian PMT lansia setelah pelatihan. Sedangkan dari tekstur, peserta memberikan apresiasi ‘suka’ pada 2 posyandu dan ‘sangat suka’ pada 4 posyandu setelah pelatihan. Dari penilaian warna, terdapat 1 posyandu yang mendapat apresiasi ‘suka’ dan 5 posyandu mendapat apresiasi ‘sangat suka’ setelah pelatihan.
Tabel 4 menunjukkan perbandingan penggunaan jumlah jenis bahan peningkat tekanan dan gula darah serta nilai kader sebelum dengan setelah pelatihan. Tidak ditemukan adanya perbedaan jumlah jenis bahan makanan peningkat tekanan dan gula darah yang digunakan dalam PMT lansia (p>0,05). Sebaliknya, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan kader lansia antara sebelum dengan setelah pelatihan, yang ditunjukkan dengan nilai p<0,001.
Kesimpulan terdapat perbedaan pada penyelenggaraan PMT lansia di posyandu sebelum dengan setelah pelatihan. Tidak ditemukan adanya perbedaan jumlah jenis bahan makanan peningkat tekanan dan gula darah yang digunakan dalam PMT lansia. Sebaliknya, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan kader lansia antara sebelum dengan setelah pelatihan.
RINGKASAN
Masalah penyakit tidak menular utama yang timbul di Puskesmas Kedungkandang kota Malang adalah penyakit Hipertensi dan DM (Dinkes Malang, 2017). Tujuan pengabmas adalah untuk memperbaiki tingkat pengetahuan kader posyandu lansia dalam membuat PMT lansia bagi penderita DM komplikasi hipertensi. Keterangan: signifikan pada p<0,05
Terdapat 13 posyandu lansia yang terpilih untuk mengikuti pelatihan pembuatan PMT bagi lansia. Sebelum dilakukannya pelatihan, terdapat 7 posyandu yang telah memberikan PMT bagi lansia setiap dilaksanakannya posyandu, dan terdapat 6 posyandu yang belum memberikan PMT lansia. Setelah dilakukannya pelatihan, terjadi kenaikan menjadi 9 posyandu memberikan PMT bagi lansia. Tabel 2 menunjukkan setelah dilakukan Uji McNemar bahwa terdapat perbedaan pada penyelenggaraan PMT lansia di posyandu sebelum dengan setelah pelatihan dengan p=0,025 (p<0,05).
Tabel 3 menunjukkan bahwa setelah dilakukan pelatihan pembuatan PMT lansia, tidak terdapat perbedaan dalam hal rasa, tekstur, dan warna pada PMT lansia (p>0,05). Sebanyak 6 posyandu mendapat apresiasi ‘suka’ dari segi rasa pada pemberian PMT lansia setelah pelatihan. Sedangkan dari tekstur, peserta memberikan apresiasi ‘suka’ pada 2 posyandu dan ‘sangat suka’ pada 4 posyandu setelah pelatihan. Dari penilaian warna, terdapat 1 posyandu yang mendapat apresiasi ‘suka’ dan 5 posyandu mendapat apresiasi ‘sangat suka’ setelah pelatihan.
Tabel 4 menunjukkan perbandingan penggunaan jumlah jenis bahan peningkat tekanan dan gula darah serta nilai kader sebelum dengan setelah pelatihan. Tidak ditemukan adanya perbedaan jumlah jenis bahan makanan peningkat tekanan dan gula darah yang digunakan dalam PMT lansia (p>0,05). Sebaliknya, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan kader lansia antara sebelum dengan setelah pelatihan, yang ditunjukkan dengan nilai p<0,001.
Kesimpulan terdapat perbedaan pada penyelenggaraan PMT lansia di posyandu sebelum dengan setelah pelatihan. Tidak ditemukan adanya perbedaan jumlah jenis bahan makanan peningkat tekanan dan gula darah yang digunakan dalam PMT lansia. Sebaliknya, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan kader lansia antara sebelum dengan setelah pelatihan.
2019