Perpustakaan Terpadu Poltekkes Kemenkes Malang
🇮🇩 ID | 🇬🇧 EN

Karya Ilmiah Mahasiswa

Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.

Reset
Menampilkan 5121–5130 dari 5188 KTI mahasiswa
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN INTENSITAS NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF PADA IBU PRIMIGRAVIDA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MASSAGE DAN TEKNIK KOMPRES HANGAT DI BPS SITI RUGAYAH PAKIS KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: KYKY YUNITA SARI SUHARTO
NIM: 1002100071
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing (1) : Naimah, SKM., M.Kes, Pembimbing (2) : Rita Yulifah, S.Kp., M.Kes
Subjek: persalinan,message
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Suharto, Kyky Yunita Sari. 2013. Perbedaan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Pada Ibu Primigravida Dengan Menggunakan Teknik Massage dan Teknik Kompres Hangat Di BPS Siti Rugayah Pakis Kabupaten Malang. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing (1) : Naimah, SKM., M.Kes, Pembimbing (2) : Rita Yulifah, S.Kp., M.Kes Sebagian besar wanita setidaknya mengalami nyeri selama proses persalinan, hampir 85,7% wanita merasa nyeri. Massage dan kompres hangat merupakan metode non farmakologi yang dapat dijadikan alternatif untuk menangani nyeri persalinan karena dapat menurunkan rasa cemas dan meningkatkan rasa nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perbedaan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif pada ibu primigravida dengan menggunakan teknik massage dan kompres hangat di BPS Siti Rugayah Pakis Kabupaten Malang. Desain penelitian analitik komparatif dengan pre-post-test one group design dengan populasi seluruh ibu inpartu primigravida kala I fase aktif di BPS Siti Rugayah pada bulan April-Mei 2013. Sampling menggunakan teknik accidental sampling. Sebelum memberikan kompres hangat dan massage, intensitas nyeri seluruhnya berada pada nyeri sedang dan setelah dilakukan massage dan kompres hangat, intensitas nyeri seluruhnya berada pada intensitas nyeri sedang dan ringan. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dan Mann Whitney U-Test, penyajian data berupa tabel. Dari hasil pengujian pada taraf signifikansi α = 0,05 didapatkan U hitung = 101,5 dan U tabel = 64, sehingga U hitung > U tabel (101,5 > 64), yang berarti tidak ada perbedaan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif pada ibu primigravida dengan menggunakan teknik massage dan teknik kompres hangat di BPS Siti Rugayah Pakis Kabupaten Malang. Sehingga dapat diketahui bahwa kedua metode tersebut dapat digunakan sebagai terapi untuk mengalihkan perhatian ibu terhadap rasa nyeri selama persalinan kala I fase aktif. Kata Kunci : Kompres Hangat, Massage, Nyeri, Persalinan
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN KEJADIAN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR ANTARA PERSALINAN PERVAGINAM DAN SEKSIO SESAREA DI RSUD KANJURUHAN KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: FIRDA AZIZAH
NIM: 1002100020
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing Utama: Dra. Susilaningsih, M.Kes. Pembimbing Pendamping: Ardi Panggayuh, S.Kp.,M.Kes.
Subjek: ASFIKSIA
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Azizah, Firda. 2013. Perbedaan Kejadian Asfiksia Bayi Baru Lahir Antara Persalinan Pervaginam dan Seksio Sesarea di RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang. Karya Tulis Ilmiah, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Prodi DIII Kebidanan Malang. Pembimbing Utama: Dra. Susilaningsih, M.Kes. Pembimbing Pendamping: Ardi Panggayuh, S.Kp.,M.Kes. Persalinan seksio sesarea umum dilakukan pada faktor kehamilan dengan resiko tinggi. Keadaan ibu yang kurang baik saat menjelang persalinan tentunya akan mempengaruhi keadaan bayi baru lahir. Gangguan yang paling sering terjadi adalah asfiksia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan kejadian asfiksia bayi baru lahir antara persalinan pervaginam dan seksio sesarea. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik komparatif dengan pendekatan retrospektif. Populasi adalah seluruh ibu bersalin di RSUD Kanjuruhan pada bulan Desember 2012 yakni sejumlah 257 orang. Sampel penelitian adalah 105 persalinan pervaginam, dan 105 persalinan seksio sesarea. Pengambilan sampel dengan teknik proportional random sampling. H1 menyatakan terdapat perbedaan kejadian asfiksia bayi baru lahir antara persalinan pervaginam dan seksio sesarea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi baru lahir dengan persalinan seksio sesarea yang mengalami asfiksia sebesar 17,1% sedangkan pada persalinan pervaginam sebesar 15,2%. Bayi baru lahir yang tidak mengalami asfiksia pada persalinan pervaginam sebesar 84,8%, sedangkan pada persalinan seksio sesarea sebesar 82,9%. Setelah data dianalisa menggunakan rumus t – test Independent didapatkan t-hitung 0 dan t-tabel 2 serta didapatkan sig t-hitung 0,659 dengan α 0,05. Nilai t-hitung 0 < 2 dan nilai sig t-hitung 0,703 > 0,05 yang berarti Ho diterima, artinya tidak terdapat perbedaan kejadian asfiksia bayi baru lahir antara persalinan pervaginam dan seksio sesarea di RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang. Kata Kunci: Asfiksia, Perbedaan, Pervaginam, Seksio Sesarea
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN KEJADIAN SAKIT PADA BAYI ANTARA YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN YANG TIDAK ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH POLINDES KENDALPAYAK KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: EROS CITRA WADON
NIM: 1002100016
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing (Utama) : Rita Yulifah, S.Kp., M.Kes, (Pendamping) Didien Ika Setyarini, SSiT., M.Keb
Subjek: asi
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Wadon, Eros Citra.2013. Perbedaan Kejadian Sakit pada Bayi antara Yang Diberi ASI Eksklusif dan Yang Tidak ASI Eksklusif. Karya Tulis Ilmiah, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Jurusan Kebidanan Prodi D III Kebidanan Malang, Pembimbing (Utama) : Rita Yulifah, S.Kp., M.Kes, (Pendamping) Didien Ika Setyarini, SSiT., M.Keb. Kata Kunci : Kejadian Sakit, ASI Eksklusif, Tidak ASI Eksklusif Sistem kekebalan tubuh pada bayi saat lahir sampai berumur 6 bulan masih sangat terbatas dan akan berkembang sesuai dengan meningkatnya paparan mikroorganisme di dalam saluran cernanya dan bayi rentan mengalami kejadian sakit. Makanan yang terbaik bagi bayi pada usia 0-6 bulan adalah ASI (Air Susu Ibu). ASI sangat baik dan penting untuk pertumbuhan bayi terutama pada umur 0-6 bulan. Penelitian oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) membuktikan bahwa pemberian ASI sampai usia 2 tahun dapat menurunkan angka kematian anak akibat penyakit diare dan infeksi saluran napas akut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kejadian sakit pada bayi antara yang diberi ASI Eksklusif dan yang tidak ASI Eksklusif di Polindes Kendalpayak Kecamatan Pakisaji. Desain penelitian ini adalah Analitik Komparatif dengan menggunakan pendekatan studi retrospektif dan sampel sebanyak 22 bayi, yaitu 11 bayi dengan pemberian ASI Eksklusif dan 11 bayi dengan tidak diberi ASI Eksklusif dengan kriteria inklusi tertentu. Instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah kuisioner dan wawancara. Hasil yang didapat adalah prosentase kejadian sakit sebanyak 68, 2 % dari 22 bayi, hasil analisis data dengan uji Mann Whitney U- Test dengan tingkat signifikasi (α = 0, 05) didapatkan hasil Uhitung > U tabel (11, 11). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 diterima atau tidak ada perbedaan kejadian sakit yang bermakna pada bayi antara yang diberi ASI Eksklusif dan Yang Tidak ASI Eksklusif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, hendaknya menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti selanjutnya sebagai pemahaman dalam mengidentifikasi gejala- gejala kejadian sakit yang terjadi pada bayi.
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN KEMANDIRIAN MERAWAT BAYI PADA IBU DALAM FASE LETTING GO BERDASARKAN PARITAS DI BPS NY. HANNA KOTA MALANG TAHUN 2013

Lihat Detail Karya
Penulis: DIAN ANGGRAINI
NIM: 1202420016
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing I: Sri Rahayu, S. Kep, Ns, M. Kes. Pembimbing II: Hupitoyo, S. Kep, Ns, M. Kes
Subjek: letting go, Kemandirian ibu, perawatan bayi
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Anggraini, Dian. 2013. Perbedaan Kemandirian Merawat Bayi Pada Ibu Dalam Fase “Letting Go” Berdasarkan Paritas di BPS Ny. Hanna Kota Malang. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi DIV Kebidanan Klinik Malang Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing I: Sri Rahayu, S. Kep, Ns, M. Kes. Pembimbing II: Hupitoyo, S. Kep, Ns, M. Kes Kemandirian perawatan bayi pasca persalinan di Indonesia masih dipengaruhi faktor sosial budaya yang kental. Pengalaman ibu dalam merawat bayi sebelumnya sampai saat ini merupakan indikator dalam memprediksi tingkat kemandirian ibu dalam merawat bayinya, pada kenyataannya, tidak semua ibu yang berpengalaman pada bayi sebelumnya pasti memiliki tingkat kemandirian yang tinggi dalam merawat bayinya pada fase letting go. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan kemandirian ibu dalam merawat bayi pada fase letting go berdasarkan paritas. Desain penelitian komparatif dengan pendekatan cross sectional digunakan. Sampel yaitu 20 orang dari 20 ibu yang melahirkan di bulan Mei-Juni 2013 di BPS Ny. Hanna dengan menggunakan teknik Convenience Sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner yang ditujukan pada keluarga terdekat ibu. 70% responden pada kelompok primipara dan 70% pada kelompok multipara berada dalam tingkat mandiri parsial Pada uji chi square dengan tabel kontingensi 3x2 (α=0,05) diperoleh p=1,00 sehingga tidak terdapat perbedaan pada tingkat kemandirian ibu dalam fase letting go pada kedua kelompok. Penting untuk mengajarkan ibu tentang cara merawat bayi sejak antenatal care sehingga dapat meningkatkan kemandirian ibu pada fase letting go baik pada primipara maupun multipara. Kata kunci: letting go, Kemandirian ibu, perawatan bayi
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN LAMA HARI RAWAT BAYI IKTERUS NEONATORUM YANG LAHIR SECARA INDUKSI DAN SECTIO CAESAREA DI RSUD KANJURUHAN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: RAHMANIA LAILY
NIM: 1202420027
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing Utama: Naimah, S.KM., M.Kes. Pembimbing Pendamping: Isman Amin, S.KM., M.Kes.
Subjek: rawat, ikterus neonatorum
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Laily,iIiRahmania. 2013. Perbedaan Lama Hari Rawat Bayi Ikterus Neonatorum yang Lahir secara Induksi dan Sectio Caesarea di RSUD Kanjuruhan Malang. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Progam Studi DIV Kebidanan Klinik. Pembimbing Utama: Naimah, S.KM., M.Kes. Pembimbing Pendamping: Isman Amin, S.KM., M.Kes. Memanjang dan memendeknya lama hari rawatan dapat dijadikan gambaran untuk mengetahui kedaaan suatu penyakit, misalnya ikterus neonatorum. Salah satu faktor risiko maternal yang dianggap sebagai pemicu timbulnya ikterus adalah persalinan patologis, seperti persalinan dengan induksi dan sectio caesarea. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya perbedaan lama hari rawat bayi ikterus neonatorum yang lahir secara induksi dan sectio caesarea. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi ikterus neonatorum yang lahir secara induksi dan sectio caesarea di RSUD Kanjuruhan periode 1 Januari - 31 Desember 2012. Jumlah sampel sebesar 75 kasus dengan 36 kasus Induksi dan 39 kasus sectio caesarea. Pengumpulan data melalui rekam medik RSUD Kanjuruhan Malang. Hasil penelitian menunjukkan 2,78% bayi ikterus neonatorum yang lahir secara induksi, dan 5,13% bayi ikterus neonatorum yang lahir secara sectio caesarea memiliki hari rawatan dalam kategori lama. Berdasarkan analisis uji Mann Whitney U-Test didapatkan harga z hitung (2,295) > z tabel (1,96). Maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan lama hari rawat bayi ikterus neonatorum yang lahir secara induksi dan sectio caesarea. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi rumah sakit agar lebih fokus pada penanganan dini dan pencegahan kejadian ikterus neonatorum khususnya yang lahir secara induksi dan sectio caesarea, sehingga dapat menurunkan lama hari perawatan dan meningkatkan mutu asuhan. Kata kunci: lama hari rawat, ikterus neonatorum
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN MUTU PROTEIN MAKANAN ANTARA BALITA BGM DAN NON BGM TERHADAP PENYAKIT INFEKSI DI KECAMATAN WONOASIH KOTA PROBOLINGGO

Lihat Detail Karya
Penulis: Melinda Dita Amelia
NIM: 1203400011
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV GIZI
Dosen Pembimbing: bimbingan Bernadus R. Sunindya, MPH dan Ir. AAG. Anom Aswin, MPS
Subjek: Status Gizi, Mutu Protein, Diare, ISPA
Lihat Abstraksi
ABSTRAKSI Melinda Dita Amelia. 2013. Perbedaan Mutu Protein Makanan Antara Balita BGM dan Non BGM terhadap Penyakit Infeksi di Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo (di bawah bimbingan Bernadus R. Sunindya, MPH dan Ir. AAG. Anom Aswin, MPS) Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, diketahui bahwa Kota Probolinggo memiliki prevalensi tertinggi dari seluruh kota dan kabupaten se-Jawa Timur yang berjumlah 38, prevalensinya yaitu 3,6%. Di Kota Probolinggo terdiri dari 6 puskesmas yaitu, Wonoasih, Ketapang, Sukabumi, Jati, Kedopok, dan Kanigaran. Prevalensi tertinggi berada di puskesmas Wonoasih dengan prevalensi 7,98%. Dari latar belakang tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang perbedaan mutu protein makanan balita BGM dan non BGM terhadap penyakit infeksi di Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 minggu, yaitu pada tanggal 7 – 19 Juli 2013. Pengambilan data meliputi BB, TB, status gizi, jenis kelamin, mutu protein berdasarkan recall, dan kuisioner tentang penyakit infeksi. Balita yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah 40 balita dimana 20 balita BGM dan 20 balita non BGM. Pengumpulan data dengan cara wawancara langsung dengan ibu responden dan data dari puskesmas Wonoasih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin responden 45% laki-laki dan 55% perempuan. Status gizi balita BGM memiliki status gizi kurang dan non BGM memilik status gizi normal. Mutu protein makanan yang dikonsumsi balita BGM dan non BGM rata-rata diatas nilai normal dari yang dianjurkan. Balita BGM yang menderita diare dalam sebulan terakhir ini adalah 9 responden mengalami diare dan 11 responden tidak mengalami diare sedangkan balita non BGM adalah 2 responden mengalami diare dan 18 responden tidak mengalami diare. Sedangkan balita BGM yang menderita ISPA sebulan terakhir sebanyak 2 responden dan 18 responden tidak menderita ISPA. Sedangkan balita non BGM tidak ada yang menderita ISPA sebulan terakhir. Kata kunci : Status Gizi, Mutu Protein, Diare, ISPA.
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN PENURUNAN INTENSITAS NYERI PERINEUM PADA IBU POST PARTUM ANTARA YANG DIBERI TERAPI RENDAM DUDUK AIR ES DAN RENDAM DUDUK AIR HANGAT DI BPS YAYUK BROTO PAKISAJI

Lihat Detail Karya
Penulis: MEYANDA AYU SAPUTRI
NIM: 1202420006
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing I : Herawati Mansur, S. ST, M. Pd, M. Psi. Pembimbing II : Sri Rahayu, S. Kep, Ns, M. Kes
Subjek: Nyeri Perineum, Rendam Duduk
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Saputri, Meyanda Ayu. Perbedaan Penurunan Intensitas Nyeri Perineum pada Ibu Post Partum antara yang Diberi Terapi Rendam Duduk Air Es dan Rendam Duduk Air Hangat di BPS Yayuk Broto Pakisaji Malang. Karya Tulis Ilmiah. Pembimbing I : Herawati Mansur, S. ST, M. Pd, M. Psi. Pembimbing II : Sri Rahayu, S. Kep, Ns, M. Kes Beberapa persalinan menyebabkan trauma dan nyeri di daerah perineum. Kondisi ketidaknyamanan atau nyeri perineum dapat menunda proses mobilisasi dini, trauma fisiologis seperti dispareunia superficial sebanyak 20% ibu, inkontinensia urin sebanyak 20% ibu dan 10% ibu mengalami rasa nyeri yang akan berakhir 3-18 bulan setelah pelahiran. Upaya yang dapat dilakukan dengan metode non farmakologis, salah satunya adalah rendam duduk dengan air es atau dengan air hangat. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi perbedaan penurunan intensitas nyeri perineum pada ibu post partum antara yang diberi terapi rendam duduk air es dan rendam duduk air hangat. Desain penelitian adalah quasy experiment dengan jenis non equivalent control group design. Populasi sebanyak 24 ibu post partum yang mengalami robekan perineum dengan teknik sampling purposive sampling, diperoleh sampel sejumlah 22 responden. Analisa data yang digunakan adalah Mann-Whitney U test. Hasil analisis data didapatkan Zhitung (2,126) > Ztabel (1,96), sehingga Ho ditolak yang artinya ada perbedaan penurunan intensitas nyeri perineum pada ibu post partum antara yang diberi terapi rendam duduk air es dan rendam duduk air hangat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terapi rendam duduk air es lebih efektif dalam menurunkan nyeri perineum pada ibu post partum karena rendam duduk air es dapat memberikan efek analgesik yang bersifat lokal dengan segera. Kata Kunci : Nyeri Perineum, Rendam Duduk
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN PERKEMBANGAN BAYI USIA 3-6 BULAN ANTARA YANG MENDAPAT ASI DAN PASI DI POSYANDU DESA PATEBON KEJAYAN TAHUN 2013

Lihat Detail Karya
Penulis: NILAM SEPTIAN KASIH
NIM: 1102420015
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing I: Sri Rahayu, S.Kep,Ns., M.Kes, Pembimbing II: Jupriyono, S.Kep.M.,Kes
Subjek: Perkembangan, Bayi Usia 3-6 Bulan, ASI, PASI
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Kasih, Nilam Septian. 2013. Perbedaan Perkembangan Bayi Usia 3-6 Bulan Antara Yang Mendapat ASI dan PASI Di Posyandu Dusun Krajan Desa Patebon Kejayan. Karya Tulis Ilmiah. Program Studi DIV Kebidanan Malang Klinik Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing I: Sri Rahayu, S.Kep,Ns., M.Kes, Pembimbing II: Jupriyono, S.Kep.M.,Kes Menyusui adalah suatu cara yang baik dalam memberikan makanan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tetapi tidak semua bayi mendapat ASI sepenuhnya. Pada beberapa situasi bayi harus diberi PASI dalam periode yang lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perkembangan bayi usia 3-6 bulan antara yang mendapat ASI dan PASI di Desa Patebon Kejayan. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik komparatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu dan bayi usia 3-6 bulan di Posyandu Desa Patebon Kejayan yang mendapat ASI dan PASI berjumlah 30 bayi. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Pengumpulan data melalui wawancara terstruktur dan KPSP. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan uji Mann Whitney U Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil penelitian, bayi usia 3-6 bulan yang diberi ASI hampir setengahnya perkembangannya sesuai dengan umur (43,3%) dan sebagian kecil meragukan (6,7%). Sedangkan pada bayi usia 3-6 bulan yang diberikan PASI hampir setengahnya perkembangannya sesuai dengan umur (36,7%), dan sebagian kecil meragukan (13,3%). Dari hasil uji Mann-Whitney didapatkan p=0,369 (>0,05), disimpulkan bahwa H0 diterima yang berarti tidak ada perbedaan perkembangan bayi usia 3-6 bulan antara yang mendapat ASI dan PASI di Posyandu Desa Patebon Kejayan. Perkembangan bayi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor gizi. Agar perkembangan bayi optimal maka keluarga khususnya ibu harus memaksimalkan faktor yang mendorong perkembangan bayi dan meminimalisir timbulnya faktor yang menghambat perkembangan bayi. Kata Kunci: Perkembangan, Bayi Usia 3-6 Bulan, ASI, PASI
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN PERUBAHAN BERAT BADAN IBU YANG MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF DAN YANG TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF DI POSKESKEL DADAPREJO, JUNREJO BATU

Lihat Detail Karya
Penulis: YOSEFIN FELINA SARI
NIM: 1002100038
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing I Pratiwi, B.Sc, S.Pd, M.Biomed, Pembimbing II Heny Astutik, S.Kep,Ns,.M.Kes
Subjek: asi
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Sari, Yosefin Felina. 2013. Perbedaan Perubahan Berat Badan Ibu yang Memberikan ASI Eksklusif dan yang Tidak Memberikan ASI Eksklusif di Poskeskel Dadaprejo, Junrejo Batu. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Jurusan Kebidanan Prodi D III Kebidanan Malang. Pembimbing I Pratiwi, B.Sc, S.Pd, M.Biomed, Pembimbing II Heny Astutik, S.Kep,Ns,.M.Kes. ASI eksklusif dapat menyebabkan lebih cepat langsing kembali karena menyusui memerlukan energi sebanyak 3500 kalori yang sebagian diambil dari lemak yang tertimbun selama hamil. Kelebihan berat badan yang diperoleh selama kehamilan pada ibu setelah melahirkan menjadi perhatian karena ibu menjadi tidak percaya diri dan ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan ibu memilih tidak menyusui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perubahan berat badan pada ibu yang memberikan ASI Eksklusif dan yang tidak memberikan ASI Eksklusif di Poskeskel Dadaprejo, Junrejo Batu. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan metode pendekatan Case Control. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai bayi usia 6 - 12 bulan di Poskeskel Dadaprejo bulan Juli 2013 sebanyak 61 orang. Sampel yang digunakan sebanyak 37 orang yang dikelompokkan menjadi kelompok ASI Eksklusif sebanyak 21 orang dan 16 orang pada kelompok tidak ASI Eksklusif. Sampel diambil menggunakan simple random sampling. Hasil uji Mann Whitney U-Test didapatkan P = 0.073 berarti p > α maka H0 diterima yang berarti tidak terdapat perbedaan perubahan berat badan antara ibu yang memberikan ASI Eksklusif dan yang tidak memberikan ASI Eksklusif. Hal ini menunjukkan bahwa ASI eksklusif bukan salah satu faktor utama pada perubahan berat badan ibu menyusui. Kata kunci : Berat Badan Ibu, ASI Eksklusif.
Cover KTI
tidak tersedia
2013

PERBEDAAN POLA ASUH ANAK ANTARA PASANGAN YANG MENIKAH USIA DINI DENGAN PASANGAN YANG MENIKAH USIA DEWASA PENUH DI WILAYAH PUSKESMAS WAGIR KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: LUH PUTU MEGA ESA PRANI
NIM: 1202420033
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Afnani Toyibah, A.Per.Pen.,M.Pd, Erni Dwi Widyana, SST.,M.Kes.
Subjek: Pola Asuh, Pasangan Usia Dini, Pasangan Usia Dewasa.
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Perbedaan Pola Asuh Anak antara Pasangan yang Menikah Usia Dini dengan Pasangan yang Menikah Usia Dewasa Penuh di Wilayah Puskesmas Wagir Kabupaten Malang. Luh Putu Mega Esa Prani (2013) Karya Tulis Ilmiah, Program Studi DIV Kebidanan Klinik Malang Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing (Utama) Afnani Toyibah, A.Per.Pen.,M.Pd, Pembimbing (Pendamping) Erni Dwi Widyana, SST.,M.Kes. Kata kunci: Pola Asuh, Pasangan Usia Dini, Pasangan Usia Dewasa. Pernikahan dibawah usia 21 tahun merupakan suatu pernikahan usia dini yang masih banyak ditemui di masyarakat. Berdasarkan studi pendahuluan sebanyak 75 pasangan suami istri menikah dibawah usia 21 tahun. Pasangan yang menikah pada usia dini sering mengalami kesulitan dalam mengasuh anak karena kurangnya pengetahuan serta pengalaman. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan pola asuh anak antara pasangan yang menikah usia dini dengan pasangan yang menikah usia dewasa penuh di wilayah kerja Puskesmas Wagir Malang. Desain penelitian ini adalah analitik komparatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 75 pasangan usia dini dan 179 pasangan usia dewasa penuh dengan sampel sebanyak 41 pasangan usia dini dan 41 pasangan usia dewasa penuh. Teknik sampling adalah Proporsional Random Sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Teknik analisa dengan menggunakan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan dari 41 pasangan usia dini hampir seluruhnya (95,1%) menerapkan pola asuh permisif, dan sebagian kecil (4,9%) menerapkan pola asuh demokratis, sedangkan seluruh (100%) pasangan usia dewasa penuh menerapkan pola asuh demokratis. Berdasarkan uji statistik Chi Square diperoleh sebesar 70,607 dengan p value = 0,001 maka Ho ditolak, berarti ada perbedaan pola asuh anak antara pasangan yang menikah usia dini dengan pasangan yang menikah usia dewasa penuh. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor usia dan tingkat pendidikan, sehingga diharapkan para calon pasangan suami istri menunggu usia 21 tahun untuk menikah.
Chatbot Perpustakaan
📚

Perpustakaan Digital

Poltekkes Kemenkes Malang

Halo đź‘‹

Selamat datang di layanan digital perpustakaan.

Sistem ini membantu pencarian informasi perpustakaan secara cepat dan otomatis.

Contoh pertanyaan:
• cara menjadi anggota perpustakaan
• cara cek plagiarisme
• Jam buka perpustakaan