Perpustakaan Terpadu Poltekkes Kemenkes Malang
🇮🇩 ID | 🇬🇧 EN

Karya Ilmiah Mahasiswa

Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.

Reset
Menampilkan 4961–4970 dari 5188 KTI mahasiswa
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN GIZI IBU, PENYAKIT INFEKSI, DAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI, PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA SUKOLILO KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: VIKA WIDIYANING SULARTO
NIM: 1003000103
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII GIZI
Dosen Pembimbing: bimbingan Sugeng Iwan S dan Bernadus Rudy Sunindya
Subjek: Gizi,Protein,Energi
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Vika Widiyaning Sularto, 2013. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu, Penyakit Infeksi, Dan Tingkat Konsumsi Energi, Protein Dengan Status Gizi Balita Di Desa Sukolilo Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. (Dibawah bimbingan Sugeng Iwan S dan Bernadus Rudy Sunindya). Di Indonesia, salah satu masalah gizi yang belum selesai yaitu gizi. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang 2012, Prevalensi balita Gizi buruk di Kabupaten Malang sebesar 1,28%. Menurut Depkes 2000, daerah yang mempunyai pravelensi gizi buruk ≥ 1%, maka daerah tersebut diklasifikasikan sebagai daerah dengan masalah berat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu, penyakit infeksi, tingkat konsumsi energy, protein dengan status gizi pada anak balita di Puskesmas Wajak Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1 – 8 Juli 2013 di Desa Sukolilo Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. Jenis penelitian adalah Cross Sectional dengan jumlah sampel 58 anak balita usia 12 - 60 bulan. Analisa yang digunakan secara deskriptif dengan uji statistik Chi Square (x2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi anak balita di Desa Sukolilo sebesar 47 % berststus gizi kurang . Dari hasil uji statistik Chi – Squre diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energy dengan status gizi (p=0,031). Selain itu juga tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan tingkat energi (p=0,787). Dan juga tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan tingkat konsumsi protein (p=0,452), dan tidak ada hubungan yang signifikan anatara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan penyakit infeksi (p=0,187), Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat protein dengan status gizi (p=0,658), juga tidak ada hubungan yang signifikan antara penyakit infeksi dengan status gizi (p=0,077). Kata Kunci: Status Gizi, Pengetahuan, Penyakit Infeksi, Konsumsi Energi, Protein
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU, TINGKAT PENDAPATAN KELUARGA, TINGKAT KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA NGADIREJO KECAMATAN JABUNG KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: DESINTA RAHMAWATI PUTRI
NIM: 1003000055
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII GIZI
Dosen Pembimbing: Ibnu Fajar dan Bernadus Rudy Sunindya
Subjek: gizi
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Desinta Rahmawati Putri, 2013. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu, Tingkat Pendapatan Keluarga, Tingkat Konsumsi Energi dan Protein dengan Status Gizi Balita di Desa Ngadirejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. (Dibawah bimbingan : Ibnu Fajar dan Bernadus Rudy Sunindya). Di Indonesia, salah satu masalah gizi yang belum selesai yaitu gizi buruk. Berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar 2010, di Jawa Timur prevalensi gizi buruk yaitu sebesar 1,16% termasuk dalam klasifikasi masalah berat. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang 2012, prevalensi balita gizi buruk di Kabupaten Malang sebesar 1,28%. Menurut Depkes (2000), daerah yang mempunyai prevalensi gizi buruk ≥1%, maka daerah tersebut diklasifikasikan sebagai daerah dengan masalah berat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu, tingkat pendapatan keluarga, tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi balita di Desa Ngadirejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 5-16 Juli 2013 di Desa Ngadirejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Jenis penelitian adalah Cross Sectional dengan jumlah sampel 35 anak balita usia 25 – 60 bulan. Analisa yang digunakan secara deskriptif dengan uji statistik Chi Square (x 2 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi buruk anak balita di Desa Ngadirejo sebesar 5% termasuk dalam klasifikasi masalah berat. Dari hasil uji statistik Fisher Exact diketahui bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan tingkat konsumsi energi (p value= 1>0,05) dan protein (p value= 0,146<0,05). Selain itu juga tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan keluarga dengan tingkat konsumsi energi (p value= 0,685>0,05) dan protein (p value= 0,709<0,05). Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi balita menurut indeks BB/U (p value= 0,077<0,05). Serta tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi protein dengan status gizi balita menurut indeks BB/U (p value= 0,435<0,05). Bagi unit pelayanan kesehatan dalam pelaksanaan posyandu tidak hanya melakukan kegiatan menimbang dan memberikan PMT saja, tetapi juga perlu memberikan informasi tentang status gizi balita sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya serta memberikan edukasi tentang makanan sehat bergizi sesuai kebutuhan balita. Kata Kunci: Status Gizi, Pengetahuan, Pendapatan, Tingkat Konsumsi Energi dan Protein
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU, TINGKAT PENDAPATAN, TINGKAT KONSUMSI PROTEIN DAN KALSIUM DENGAN STATUS STUNTING PADA ANAK BALITA DI PUSKESMAS LEKOK KABUPATEN PASURUAN

Lihat Detail Karya
Penulis: LAILAH QOMARIYAH
NIM: 1003000075
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII GIZI
Dosen Pembimbing: Pembimbing: I Nengah Tanu Komalyna dan Bernadus Rudy Sunindya
Subjek: Gizi ,Balita
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Lailah Qomariyah, 2013. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu, Tingkat Pendapatan, Tingkat Konsumsi Protein Dan Kalsium Dengan Status Stunting Pada Anak Balita Di Puskesmas Lekok Kabupaten Pasuruan. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi D III Gizi Malang, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. (Pembimbing: I Nengah Tanu Komalyna dan Bernadus Rudy Sunindya). Stunting (pendek) merupakan salah satu bentuk gizi kurang yang ditandai dengan indikator tinggi badan menurut umur. Indikator TB/U memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu, tingkat pendapatan, tingkat konsumsi protein dan kalsium dengan status gizi stunting pada anak balita usia 25 – 59 bulan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan menggunakan uji chi square. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu dengan anak balita usia 25 – 59 bulan yang tinggal di desa Jatirejo Puskesmas Lekok Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 36 responden. Pengambilan data tingkat pengetahuan dan tingkat pendapatan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner, tingkat konsumsi protein dan konsumsi kalsium menggunakan metode recall 3x24 jam yang kemudian hasilnya dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG), status gizi (TB/U) dengan pengukuran langsung. Hasil penelitian menunjukkan status stunting anak sebesar 69,4%, tingkat pengetahuan ibu kurang sebesar 63,9%, tingkat pendapatan dalam kategori miskin sebesar 66,7%, tingkat konsumsi protein kurang sebesar 83,3% dan tingkat konsumsi kalsium kurang sebesar 91,7%. Dari hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendapatan (p=0,747) dengan tingkat konsumsi protein, tidak ada hubungan antara tingkat konsumsi protein (p=0,343), tingkat konsumsi kalsium (0,678) dengan stunting pada anak balita, ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan (p=0,004) dengan tingkat konsumsi protein pada anka balita. Kata Kunci: Balita, Stunting (pendek), Pengetahuan Ibu, Pendapatan Kelurga, Protein dan Kalsium
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN ANTARA USIA IBU MELAHIRKAN DENGAN KEJADIAN BBLR DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGIL KABUPATEN PASURUAN

Lihat Detail Karya
Penulis: PURWATI
NIM: 1102420009
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing I : Naimah, SKM. M.Kes, Pembimbing II : Wandi, S.Kep. Ns, M.Pd
Subjek: Usia Ibu, Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Purwati, 2013. Hubungan Antara Usia Ibu Melahirkan Dengan Kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Daerah Bangil Kabupaten Pasuruan. Karya Tulis Ilmiah. Program Studi D-IV Kebidanan Klinik Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing I : Naimah, SKM. M.Kes, Pembimbing II : Wandi, S.Kep. Ns, M.Pd Pada usia kurang dari 20 tahun, organ-organ reproduksi belum berfungsi secara optimal, rahim dan panggul ibu belum tumbuh mencapai ukuran dewasa sehingga apabila terjadi kehamilan dan persalinan akan lebih mudah mengalami komplikasi sedangkan pada usia lebih dari 35 tahun terjadi penurunan kesehatan reproduktif karena proses degeneratif sudah mulai muncul karena proses ini menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak maksimal sehingga aliran nutrisi dari ibu ke janin berkurang yang akan berakibat resiko terjadinya BBLR. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia ibu melahirkan dengan kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Daerah Bangil Kabupaten Pasuruan. Desain penelitian analitik korelasional. Populasi penelitian berjumlah 773 orang, dan sampel berjumlah 263 orang yang diambil secara sistematic random sampling. Data diambil dengan cara studi dokumentasi. Teknik analisa data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian adalah: (1) 28,5% usia ibu melahirkan tergolong resiko tinggi (2) 25,9% mengalami kejadian BBLR. Hasil analisa nilai X2 hitung adalah 97,209, sedangkan X2 tabel dengan α adalah 0,05 adalah 3,841. dikarenakan nilai X2 hitung > X2 tabel maka Ho ditolak kesimpulannya ada hubungan antara usia ibu melahirkan dengan kejadian BBLR di Rumah Sakit Bangil Kabupaten Pasuruan Tahun 2012. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada pihak Rumah Sakit bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas dan tokoh masyarakat untuk meningkatkan program penyuluhan tentang usia resiko rendah dan resiko tinggi melahirkan kepada masyarakat khususnya pada wilayah kerja Puskesmas angka kejadian BBLRnya tinggi akibat resiko tinggi usia ibu melahirkan Kata Kunci : Usia Ibu, Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN ANTARA USIA MENARCHE DENGAN KEJADIAN DISMENOREA PRIMER PADA REMAJA PUTRI DI MTS AL-MA’ARIF KECAMATAN SINGOSARI, KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: QORIUMZIAH REIDA PUTRI
NIM: 1002100084
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing Utama: Temu Budiarti, S.Pd., M.Kes. Pembimbing Pendamping: Isman Amin, S.KM., M.Kes.
Subjek: Usia Menarche, Dismenorea Primer
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Putri, Qoriumziah Reida, 2013. Hubungan Usia Menarche Dengan Kejadian Dismenorea Pada Remaja Putri Di MTS Al-Ma’arif Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Karya Tulis Ilmiah. Poltekkes Kemenkes Malang Jurusan Kebidanan Malang. Pembimbing Utama: Temu Budiarti, S.Pd., M.Kes. Pembimbing Pendamping: Isman Amin, S.KM., M.Kes. Masa pubertas merupakan masa transisi antara masa anak dan dewasa. Kejadian terpenting dalam pubertas ialah timbulnya haid yang pertama kali (menarche). Meskipun demikian pada kenyataannya banyak wanita yang mengalami masalah menstruasi, diantaranya adalah nyeri haid atau dismenorea. Angka kejadian nyeri haid di dunia sangat besar, rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalaminya. Kejadian dismenorea primer dengan karakteristik responden pada umur <12 tahun 60,0%, umur 12-13 tahun 73,1%, dan umur >13 tahun 71,1%. Salah satu faktor resiko terjadi dismenorea primer yaitu usia pertama kali menstruasi <12 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia menarche dengan kejadian dismenorea primer pada remaja putri di MTS Al Ma’arif Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Desain penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional, dengan jumlah populasi dan sampel sama yaitu 39 siswi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan frekuensi responden yang menarche dini dan mengalami dismenorea primer sejumlah 71,4%, sedangkan yang menarche dini dan tidak dismenorea primer sejumlah 2 siswi (28,6%). Sebaliknya, yang menarche normal dan mengalami dismenorea primer sejumlah 9,4% sedangkan yang menarche normal dan tidak dismenorea primer sejumlah 90,6%. Dari hasil uji statistik Chi Square, dengan taraf signifikasi 0,05 diperoleh χ2hitung= 10,03 sedangkan χ2tabel=3,841. Karena χ2hitung > χ2tabel maka H0 ditolak yang berarti ada hubungan usia menarche dengan kejadian dismenorea primer. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin dini usia menarche maka semakin tinggi kejadian dismenorea primer. Disarankan para remaja putri hendaknya menjaga pola makan yang sehat dan teratur, istirahat cukup, dan aktifitas yang cukup. Kata kunci : Usia Menarche, Dismenorea Primer
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN ASUPAN ANTIOKSIDAN (VITAMIN A, VITAMIN C, VITAMIN E DAN SELENIUM) DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI RUANG RAWAT INAP RSUD KANJURUHAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: RINA FITROTUL MUKAROMAH
NIM: 1203400022
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV GIZI
Dosen Pembimbing: Pembimbing I: Dwie Soelistyorini, Pembimbing II: Tapriadi
Subjek: Asupan vitamin A, Asupan vitamin C, Asupan vitamin E, Asupan selenium, kadar gula darah puasa
Lihat Abstraksi
ABSTRAKSI Fitrotul M, Rina (2013) Hubungan Asupan Antioksidan (Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E Dan Selenium) Dengan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Melitus Di Ruang Rawat Inap RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi DIV Gizi Poltekkes Kemenkes Malang. Pembimbing I: Dwie Soelistyorini, Pembimbing II: Tapriadi. Menurut estimasi data WHO maupun IDF (International Diabetes Federation), memaparkan data angka kasus diabetes di Indonesia berdasarkan hasil survey tahun 2008 menempati urutan ke empat tertinggi di dunia yaitu sebesar 8,4 juta jiwa Diabetes mellitus adalah kelainan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Pada seseorang dengan kondisi diabetes mellitus, pembentukan reactive oxidative species (ROS) meningkat sehingga dapat memperparah kondisi strees oksidatif. Radikal bebas merupakan penyebab terjadinya penyakit degeneratif seperti kanker, aterosklerosis, diabetes melitus, jantung koroner akibat peningkatan dan penumpukan radikal bebas dalam tubuh. Untuk mencapai kondisi stabil, oksigen radikal bebas akan menangkap elektron dari senyawa-senyawa penyusun sel maupun organ. Salah satu zat gizi untuk menangkal radikal bebas tersebut adalah antioksidan diantaranya adalah vitamin A, vitamin C, vitamin E dan selenium. Penelitian ini dilakukan di RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional. Untuk mengetahui hubungan asupan antioksidan (vitamin A, vitamin C, vitamin E dan selenium) dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus menggunakan Uji Pearson. Sampel yang digunakan adalah semua pasien diabetes mellitus di ruang rawat inap RSUD Kanjuruhan Kepanjen dan pada waktu pengambilan data, responden sebagai pasien di ruang rawat inap RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Pengambilan data tentang asupan vitamin A, C, E, selenium dan kadar gula darah puasa diambil melalui wawancara dan form rekam medis, sedangkan data status gizi responden diambil melalui pengukuran anthropometri berat badan dan tinggi badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan kejadian diare dengan p-value 1,0. Tidak ada hubungan antara asupan vitamin A dan kadar gula darah puasa dengan p-value 0,564. Tidak ada hubungan antara asupan vitamin C dan kadar gula darah puasa dengan p-value 0,233. Tidak ada hubungan antara asupan vitamin E dan kadar gula darah puasa dengan p-value 0,06. Tidak ada hubungan antara asupan selenium dan kadar gula darah puasa dengan p-value 0,784. Dari hasil penelitian disarankan pada Ahli Gizi untuk melakukan edukasi terhadap responden mengenai jenis buah-buahan yang merupakan sumber fruktose yang justru dapat menungkatkan kadar gula darah puasa dikarenakan pada penderita diabetes melitus terdapat pembatasan terhadap jenis buah dan sayur. Kata kunci : Asupan vitamin A, Asupan vitamin C, Asupan vitamin E, Asupan selenium, kadar gula darah puasa
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN ASUPAN ENERGI DAN ZAT GIZI DENGAN TEKANAN DARAH TINGGI DAN KEJADIAN OBESITAS REMAJA DI SMP KOTA BLITAR

Lihat Detail Karya
Penulis: DWI WIDIYANTI
NIM: 1203400021
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV GIZI
Dosen Pembimbing: Dibimbing oleh Sutomo Rum Teguh K. Dan Agus Heri Santoso
Subjek: Obesitas, Asupan Energi dan Zat Gizi, Hipertensi
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Widiyanti, Dwi (1203400021). Hubungan Asupan Energi dan zat Gisi dengan Tekanan Darah Tinggi dan Kejadian Obesitas Remaja di SMP Kota Blitar. Program Studi DIV Malang, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. (Dibimbing oleh Sutomo Rum Teguh K. Dan Agus Heri Santoso) World Health Organization (WHO) pada tahun 2003 mencatat bahwa sekitar satu milyar penduduk dunia mengalami overweight dan sedikitnya 300 juta menderita obesitas secara klinis. WHO juga memprediksikan bahwa pada tahun 2015, 2,3 milyar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 juta yang mengalami obesitas. Hal ini tercermin dalam survey pendahuluan yang dilaksanakan bulan Maret 2013 di di SMP Kota Blitar diketahui bahwa rata-rata kejadian obesitas pada responden golongan usia 12-15 tahun. Prevalensi overweight pada anak-anak usia 6-14 tahun adalah 9,5% pada laki-laki dan 6,4% pada perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan asupan energi dan zat gizi terhadap tekanan darah tinggi dan kejadian obesitas remaja di SMP Kota Blitar. Jenis penelitian ini adalah Observasional dengan desain cross sectional study yaitu mempelajari tentang asupan energy dan zat gizi dengan tekanan darah tinggi dan kejadian obesitas remaja di SMP Kota Blitar. Pengumpulan data dilakukan dalam 3 hari, dimana peneliti dalam pelaksanaanya hanya melakukan pengamatan tanpa melakukan perlakuan. Waktu yang digunakan untuk penelitian ini adalah 3 hari. Dari gambaran umum responden obesitas berumur 13 tahun dan 15 tahun dan jenis kelamin paling banyak terdapat pada laki-laki. Sebagian besar resonden memiliki tekanan darah normal yaitu 61,5 % dan sisanya 38,5 % berada dalam kategori pre-hipertensi. Responden obesitas memiliki asupan energi normal, asupan lemak normal dan asupan karbohidrat lebih. Analisis korelasi pearson menunjukkan nilai p-value sebesar 0,657 yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi dengan status gizi. Analisis korelasi pearson menunjukkan nilai p-value sebesar 0,008 berarti terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi dengan tekanan darah. Analisis korelasi pearson menunjukkan nilai p-value sebesar 0,495 berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan karbohidrat dengan tekanan darah.Analisis korelasi pearson menunjukkan nilai p-value sebesar 0,800 berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan lemak dengan tekanan darah tinggi. Disarankan Perlu diberikan edukasi berupa penyuluhan tentang gizi pada remaja dan perlu dilakukan pendekatan dengan memberikan motivasi kepada responden obesitas untuk mengatur pola konsumsi dan aktifitas fisik dengan seimbang guna mencapai status gizi optimal. Kata Kunci : Obesitas, Asupan Energi dan Zat Gizi, Hipertensi
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN ASUPAN ENERGI DAN ZAT GIZI DENGAN OBESITAS DAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA SISWA OBESITAS DI SMP KOTA BLITAR

Lihat Detail Karya
Penulis: NAERA DESY AULIA
NIM: 1203400016
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV GIZI
Dosen Pembimbing: Pembimbing Utama : Sutomo Rum Teguh K. Pembimbing Pendamping : Sulistiastutik
Subjek: Obesitas, Asupan Energi Zat Gizi, Glukosa Darah
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Aulia, Naera Desy (2013). Hubungan Asupan Energi dan Zat Gizi Dengan Obesitas dan Kadar Glukosa Darah Pada Siswa Obesitas di SMP Kota Blitar. Skripsi, Program Studi DIV Gizi Malang, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing Utama : Sutomo Rum Teguh K. Pembimbing Pendamping : Sulistiastutik. Obesitas merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Kelebihan gizi yang menimbulkan obesitas dapat terjadi baik pada anak-anak hingga usia dewasa. Obesitas pada anak berkaitan dengan berbagai penyakit degenartif yaitu hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, dislipidemia, hipertrofi ventrikel kiri, masalah ortopedi dan masalah psikososial pada anak. Anak yang mengalami obesitas memiliki risiko 3 kali lipat terhadap terjadinya sindrome metabolik dibandingkan anak yang non-obesitas. Sindrom metabolik sangat erat kaitnya dengan resistensi insulin yang akhirnya berdampak pada penyakit Diabetes mellitus tipe 2 (Martalina, 2012). Dari hasil survey pendahuluan didapat 42 siswa memiliki IMT/U >2 SD dari 2550 jumlah siswa yang di survey di Kota Blitar (1,64%). Menunjukkan bahwa kegemukan merupakan masalah yang harus diperhatikan, sama pentingnya dengan penanggulangan gizi buruk. Tujuan penelitian secara umum untuk mengetahui hubungan asupan energi dan zat gizi dengan obesitas dan kadar glukosa darah pada siswa obesitas di SMP Kota Blitar. Jenis penelitian observational dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian sebanyak 39 siswa SMP Kota Blitar dengan status gizi obesitas. Uji statistic yang digunakan adalah korelasi pearson. Hasil penelitian, responden memiliki umur 13-15 tahun dan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. Dari hasil analisis diketahui bahwa 71,8% responden obesitas memiliki tingkat asupan energi normal, 53,85% responden obesitas memiliki asupan lemak normal, 84,62% responden obesitas memiliki asupan karbohidrat lebih serta 100% responden obesitas memiliki kadar glukosa darah puasa normal. Berdasarkan analisis korelasi pearson Tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi obesitas dengan kadar glukosa darah puasa (p value = 0,136), asupan energi dengan z-score (obesitas) (p value = 0,657), asupan karbohidrat dengan z-score (obesitas) (p value = 0,106), asupan energi dengan glukosa darah puasa (p value = 0,576) dan asupan lemak dengan glukosa darah puasa (p value = 0,129) dan terdapat hubungan yang signifikan antara asupan lemak dengan z-score (obesitas) (p value = 0,018) dan asupan karbohidrat dengan glukosa darah puasa (p value = 0,018). Kata kunci : Obesitas, Asupan Energi Zat Gizi, Glukosa Darah
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR DENGAN KEJADIAN RUPTUR PERINEUM PADA IBU BERSALIN DI BPS LINA KARTIKASARI PASURUAN

Lihat Detail Karya
Penulis: PRISTA YUSTI RUSDINI
NIM: 1102420001
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIV KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing I: Heny Astutik, S.Kep.Ns, M.Kes, Pembimbing II: Afnani Thoyibah, A.Per.Pen, M.Pd.
Subjek: Berat Badan Bayi Baru Lahir, Ruptur Perineum
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Rusdini, Prista Yusti. 2013. Hubungan Berat Badan Bayi Baru Lahir dengan Kejadian Ruptur Perineum di BPS Lina Kartikasari Pasuruan. Karya Tulis Ilmiah. Program Studi D IV Kebidanan Malang Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing I: Heny Astutik, S.Kep.Ns, M.Kes, Pembimbing II: Afnani Thoyibah, A.Per.Pen, M.Pd. Ruptur perineum merupakan salah satu penyebab terjadinya perdarahan pada ibu post partum yang dapat menyebabkan timbulnya kematian. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya ruptur perineum adalah berat badan bayi baru lahir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan berat badan bayi baru lahir dengan kejadian ruptur perineum. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah semua ibu primigravida yang melahirkan di BPS Lina Kartikasari Pasuruan sebanyak 23 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu primigravida yang melahirkan di BPS Lina Kartikasari Pasuruan sebanyak 22 orang yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan Data dengan menggunakan timbangan berat badan bayi dan lembar observasi. data yang terkumpul di analisa dengan uji Spearman Rank (Rho) dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir < 2500 gram, sebanyak 50 % tidak mengalami ruptur, responden yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir 2500 – 4000 gram, hampir setengahnya mengalami ruptur derajat 2 (43,7%) dan responden yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir > 4000 gram semuanya mengalami rupture (100%). Hasil uji Spearman Rank (Rho) didapatkan p=0,010 (<0,05) yang berarti H0 ditolak yang berarti ada hubungan berat badan bayi baru lahir dengan kejadian ruptur perineum pada sebagian ibu bersalin primigravida di BPS Lina Kartikasari Pasuruan. Pada penelitian ini antar variabel mempunyai hubungan yang kuat dengan koefisien korelasi 0,538. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman atau acuan petugas kesehatan khususnya bidan di BPS Lina Kartikasari Pasuruan dalam memberikan pelayanan kepada pasien terutama terutama pelayanan persalinan. Kata Kunci: Berat Badan Bayi Baru Lahir, Ruptur Perineum
Cover KTI
tidak tersedia
2013

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR ASAM URAT WANITA MENOPAUSE DI POSYANDU LANSIA POLAMAN PUSKESMAS LAWANG KOTA MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: NI PUTU RATNA PRIANDARI
NIM: 1002100026
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Pembimbing I : Ardi Panggayuh, S.Kp., M.Kes. Pembimbing II : Didien Ika Setyarini, S.Si,T.M.Keb
Subjek: pernikahan dini,usia ibu
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Kartika Rini, Ni Putu Ayu Esti (2013) Gambaran Kejadian Abortus Yang Disebabkan Pernikahan Dini di Rumah Sakit Kanjuruhan. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi DIII Kebidanan Malang, Jurusan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing I : Ardi Panggayuh, S.Kp., M.Kes. Pembimbing II : Didien Ika Setyarini, S.Si,T.M.Keb Abortus adalah salah satu proses berakhirnya kehamilan dimana janin belum mampu hidup di luar rahim (belum viable) dengan kriteria usia kehamilan <20 minggu atau berat janin <500 g. Endometrium yang belum siap menerima hasil konsepsi adalah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya abortus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian abortus yang disebabkan pernikahan dini di Rumah Sakit kanjuruhan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi dari penelitian ini adalah ibu yang terdiagnosa abortus usia < 16 tahun dengan jumlah sampel 21 diambil secara Purposive Sampling dari buku register. Data disajikan menggunakan distribusi frekuensi dan prosentase dalam bentuk narasi. Dari hasil penelitian diperoleh sebagian besar abortus terjadi pada usia 16 tahun sebesar 47,62 %, jenis abortus yang banyak terjadi abortus Inkomplet 57,14%, dan tindakan yang umum dilakukan tindakan curratage 71,43%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kejadian abortus yang terjadi pada usia <16 sebagian besar adalah abortus inkomplet. Setiap ibu sebaiknya mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya abortus. Kata Kunci: abortus, usia ibu, pernikahan dini
Chatbot Perpustakaan
📚

Perpustakaan Digital

Poltekkes Kemenkes Malang

Halo 👋

Selamat datang di layanan digital perpustakaan.

Sistem ini membantu pencarian informasi perpustakaan secara cepat dan otomatis.

Contoh pertanyaan:
• cara menjadi anggota perpustakaan
• cara cek plagiarisme
• Jam buka perpustakaan