Perpustakaan Terpadu Poltekkes Kemenkes Malang
🇮🇩 ID | 🇬🇧 EN

Karya Ilmiah Mahasiswa

Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.

Reset
Menampilkan 4501–4510 dari 5188 KTI mahasiswa
Cover KTI
tidak tersedia
2015

JUS BERBASIS TERONG TAKOKAK (Solanum torvum) DENGAN PENAMBAHAN JAMBU BIJI MERAH SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL

Lihat Detail Karya
Penulis: FENNA PRIHAWI ARBINTA
NIM: 1203000067
Program Studi: Polkesma Gizi
Dosen Pembimbing: Nur Rahman
Lihat Abstraksi
ABSTRAKSI Arbinta, Fenna, Prihawi (2015). Jus Berbasis Terong Takokak (Solanum torvum) dengan Penambahan Jambu Biji Merah Sebagai Pangan Fungsional. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi DIII Gizi Malang, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing: Nur Rahman Prevalensi penyakit degeneratif dari tahun ketahun mengalami peningkatan akibat dari radikal bebas. Penyakit degeneratif dapat dicegah dengan diet pangan fungsional salah satunya antioksidan. Tanaman pangan yang memiliki aktivitas pembersih superoksida lebih dari 70% yaitu terong Takokak. Karakteristik terong Takokak yang memiliki rasa pahit dan sejuk ditambahkan dengan buah jambu biji merah agar dapat mempengaruhi daya terima jus. Tujuan penelitian, Pengembangan formulasi jus sebagai pangan fungsional yang memiliki aktivitas antioksidan dan kandungan vitamin C yang tinggi serta mutu organoleptik yang dapat diterima. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen dengan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 4 tarap perlakuan yaitu P0, P1, P2, dan P3. Hasil analisis statistik Kruskal Wallis pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa proporsi terong Takokak dan jambu biji merah memberikan pengaruh yang signifikan (p=0,000) terhadap aroma dan rasa jus g-torvum, begitu pula aktivitas antioksidan dari hasil analisis Oneway Anova pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa proporsi terong Takokak dan jambu biji merah memberikan pengaruh yang signifikan (p=0,000). Serta tidak signifikan pada warna, konsistensi dari mutu organoleptik dan vitamin C. Selain itu jus masih memiliki aroma langu dan rasa pahit sehingga perlu dilakukan proses blanching uap untuk meningkatkan kualitas jus g-torvum. Kata Kunci: Pangan Fungsional, Jus g-torvum
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KARAKTERISTIK, TINGKAT PENGETAHUAN, DAN TINGKAT KETERAMPILAN HIGIENE DAN SANITASI TENAGA PENJAMAH MAKANAN DI “HENNY CATERING” KOTA MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: HENI WAHYUNI
NIM: 1203000044
Program Studi: Polkesma Gizi
Dosen Pembimbing: Nurul Hakimah
Lihat Abstraksi
ABSTRAKSI Heni Wahyuni (2015). Karakteristik, Tingkat Pengetahuan Dan Tingkat Keterampilan Higiene dan Sanitasi Tenaga Penjamah Makanan Di “Henny Catering” Kota Malang. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi D III Gizi Malang. Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Dibawah Bimbingan Nurul Hakimah). Penerapan higiene dan sanitasi di “Henny Catering” Kota Malang masih kurang diantaranya dari segi dapur layout dapur kurang rapi, belum dilengkapi sarana dan prasarana yang sesuai serta belum adanya penggunaan APD (alat Pelindung Diri). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, tingkat pengetahuan, dan tingkat keterampilan tenaga penjamah makanan tentang higiene dan sanitasi di “Henny Catering” kota Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian observasional dengan menggunakan desain Cross Sectional. Responden penelitian ini adalah tenaga penjamah makanan di ”Henny Catering” yang berjumlah 8 orang. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara langsung dengan tenaga penjamah makanan di ”Henny Catering”. Cara pengolahan data tentang karakteristik, tingkat pengetahuan, dan tingkat keterampilan tenaga penjamah makanan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk diagram batang. Sedangkan hubungan karakteristik penjamah makanan dengan tingkat pengetahuan dan tingkat keterampilan diolah secara deskriptif dan disajikan dalam tabulasi silang. Karakteristik penjamah makanan meliputi usia 15-64 tahun, tingkat pendidikan sebagian besar SMA/SMEA/STM/SMK (50%), lama bekerja ≥2 tahun terdapat 3 orang (37,5%). Tingkat pengetahuan tentang higiene dan sanitasi 87,5% baik dan tingkat keterampilan higiene dan sanitasi 12,5% baik. Berdasarkan hasil tabulasi silang bahwa tenaga penjamah makanan dengan pendidikan terakhir SMA/SMEA/STM/SMK paling banyak yang memiliki keterampilan kurang (50%). Tenaga penjamah makanan dengan masa kerja <2 tahun memiliki tingkat pengetahuan yang baik (50%) lebih banyak, tenaga penjamah makanan dengan masa kerja ≥2 tahun lebih banyak yang mempunyai tingkat keterampilan higiene dan sanitasi kurang (62,5%). Tenaga penjamah makanan dengan tingkat pengetahuan baik relatif banyak dengan tingkat keterampilan yang kurang (50%). Karena tenaga penjamah makanan belum pernah mengikuti pendidikan dan kursus tentang higiene sanitasi makanan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan bagi penyelenggara makanan untuk menyediakan alat pelindung diri dan sarana prasarana lainnya. Bagi pengolah makanan untuk selalu memperhatikan higiene dan sanitasi dalam mengolah makanan khususnya terkait dengan keterampilan higiene dan sanitasi. Agar dilakukan pelatihan atau pembinaan minimal satu kali dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan higiene dan sanitasi makanan tenaga penjamah makanan. Kata Kunci: Karakteristik Tenaga Penjamah, Tingkat Pengetahuan, Tingkat Keterampilan, Higiene Sanitas
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KEAMANAN BAKSO DAGING SAPI KEMASAN DI KOTA MALANG (KARAKTERISTIK FISIK, TOTAL CEMARAN MIKROBA, KANDUNGAN FORMALIN DAN BORAKS)

Lihat Detail Karya
Penulis: DITA FEBRIANA RUSWANTA
NIM: 1203000127
Program Studi: Polkesma Gizi
Dosen Pembimbing: Sulistiastutik
Lihat Abstraksi
ABSTRAKSI Dita Febriana Ruswanta 1203000127. Keamanan Bakso Daging Sapi Kemasan di Kota Malang (Karakteristik Fisik, Total Cemaran Mikroba, dan Kandungan Formalin dan Boraks). Program Studi Diploma III Gizi Malang Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. 2015. (Dibawah bimbingan: Sulistiastutik). Bakso merupakan makanan khas dari kota Malang. Saat ini cara penjualannya yaitu dengan mengemasnya. Bakso kemasan adalah makanan setengah jadi yang mudah dan praktis dalam pengolahannya. Pada bulan Mei 2014 ditemukan keracunan makanan di Kabupaten Langkat, yang disebabkan makan jajanan bakso kemasan yang dijual pedagang di sekitar lingkungan sekolahannya. Sedangkan hasil penelitian Faradila dkk di kota Padang, didapatkan 47% sampel bakso yang positif mengandung formalin. Serta pada penelitian Panjaitan di Medan, menunjukkan bahwa 80% dari sampel yang diperiksa positif mengandung boraks. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis keamanan bakso daging sapi kemasan di kota Malang (karakteristik fisik, total cemaran mikroba, kandungan formalin dan boraks). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian observasional. Lokasi pengambilan sampel yaitu di pasar tradisional (pasar besar dan pasar blimbing) dan pasar modern (hypermart). Sampel dalam penelitian ini adalah bakso daging sapi kemasan. Pada pasar modern diambil dua sampel dengan merk yang berbeda sedangkan pada pasar tradisional hanya mengambil satu sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel yang mengalami penyimpangan dari segi karakteristik fisik meliputi tekstur, warna dan aroma yaitu “Bakso PB”, “Bakso PL”, dan “Bakso W”. Sedangkan pada penelitian total cemaran mikroba didapatkan hasil bahwa semua sampel berada di bawah ambang batas yaitu 1x105 koloni/gram, sehingga sampel masih memenuhi syarat jika dilihat dari segi total cemaran mikroba. Namun pada penelitian formalin dan boraks didapatkan hasil bahwa 4 sampel yaitu “Bakso PB”, “Bakso PL”,“Bakso W” dan “Bakso V” mengandung formalin dan 3 sampel yaitu “Bakso PB”, “Bakso PL”,dan “Bakso W” mengandung boraks sehingga untuk semua sampel tidak layak untuk di konsumsi. Disarankan kepada pemerintah untuk membatasi peredaran formalin dan boraks dengan cara penjual dan pembeli formalin atau boraks harus memiliki surat ijin resmi dari dinas kesehatan untuk membelinya serta dilakukan penyuluhan pada produsen makanan dan penggiling daging. Kata kunci : Bakso, Boraks, Formalin, Malang, Total cemaran mikroba
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KEAMANAN PANGAN DAN MUTU GIZI IKAN ASIN PEDA (Rastrelliger sp) YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERNKOTA MALANG (KARAKTERSITIK FISIK, TOTAL CEMARAN MIKROBA, KANDUNGAN FORMALIN, KADAR GARAM DAN KADAR PROTEIN)

Lihat Detail Karya
Penulis: Rika Oktafiana
NIM: 1203000066
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII GIZI
Dosen Pembimbing: Sulistiastutik
Lihat Abstraksi
ABSTRAKSI Rika Oktafiana. 1203000066. Keamanan Pangan Dan Mutu Gizi Ikan Asin Peda (Rastrelliger sp) Yang Dijual Di Pasar Tradisional Dan Pasar Modern Kota Malang (Karakteristik Fizik, Total Cemaran Mikroba, Kandungan Formalin, Kadar Garam Dan Kadar Protein) Program Studi Diploma III Gizi Malang Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. 2015 (Dibawah bimbingan : Sulistiastutik) Ikan merupakan bahan pangan yang mudah sekali mengalami kerusakan. untuk mempertahankan mutu agar ikan tetap baik sampai ke tangan konsumen dilakukan pengawetan salah satunya yaitu penggaraman. Hasil akhir dari penggaraman adalah ikan asin. Ikan asin merupakan produk olahan hasil perikanan yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis keamanan pangan ikan asin peda (Rastrelliger sp) yang dijual di pasar tradisional dan pasar modern kota malang berdasarkan karaktersitik fisik, total cemaran mikroba, kandungan formalin, kadar garam dan kadar protein. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan desain penelitian yaitu penelitian observasional. Lokasi pengambilan sampel yaitu pasar tradisional (pasar oro-oro dowo, pasar besar, pasar gadang) dan pasar modern (hypermart). Hasil penelitian terhadap karakteristik fisik ikan asin menunjukkan warna putih kecoklatan, aroma amis serta tekstur padat, daging keras, dan ikan kering. Hasil ujiTotal Cemaran Mikroba semua sampel berada di bawah ambang batas SNI 2721-1:2009 yaitu 1,0 x 105. Hasil uji kimia terhadap formalin menunjukkan semua sampel mengandung formalin. Standar ketepatan kadar garam menurut SNI 2721-1:2009 adalah 20%. Hasil uji kadar garam terhadap ikan asin peda menunjukkan bahwa 2 sampel mempunyai kadar garam kurang dari SNI 2721-1:2009 yaitu 19,5% dan 18,6%, serta 2 sampel lainnya mempunyai kadar garam yang telah memenuhi SNI 2721-1:2009 yaitu 24,2% dan 25,3%. Hasil uji kadar protein rata-rata sebesar 47% lebih tinggidibandingkan kadar protein ikan segar yaitu 18 – 20%. Kata Kunci : Ikan asin, Total cemaran mikroba, Formalin, Kadar garam, Kadar protein, Malang.
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KEAMANAN PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH (Tempura, Sosis, Saos Tomat dan Saos Cabai) DI SEKOLAH DASAR DESA DAMPIT KECAMATAN DAMPIT KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: ARINA KHOIRIL HAQ
NIM: 1203000065
Program Studi: Polkesma Gizi
Dosen Pembimbing: Maryam Razak STP, M.Si
Lihat Abstraksi
ABSTRAKSI Arina Khoiril Haq, 2015. Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah (Tempura, Sosis, Saos Tomat dan Saos Cabai) di Sekolah Dasar Desa Dampit Kecamatan Dampit Kabupaten Malang (Kajian Kandungan Boraks dan Rhodamin B) (Di bawah bimbingan Maryam Razak STP, M.Si). Keamanan pangan jajanan anak sekolah merupakan salah satu prasyarat yang harus dipenuhi untuk mengonsumsi makanan. Ketidakamanan makanan dapat membahayakan kesehatan tubuh. Makanan jajanan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat terutama anak-anak memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap keamanan pangan. Berdasarkan sampling PJAS tahun 2013 dari 884 SD dan Madrasah Ibtidaiyah di 30 kota jumlahnya 5.566 dengan hasilnya yang tidak memenuhi syarat ada 1.703 atau 31,08%. Walaupun demikian masih perlu adanya pencegahan dan pengawasan terhadap makanan berbahaya yang beredar di masyarakat. Pangan jajanan anak sekolah yang dijual misalnya : tempura, sosis, saos tomat dan saos cabai sebagai pelengkap dikhawatirkan mengandung bahan tambahan pangan berbahaya seperti boraks dan rhodamin B. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana keamanan kimia pangan jajanan anak sekolah (Tempura, Sosis, Saos Tomat dan Saos Cabai) di Sekolah Dasar Desa Dampit Kecamatan Dampit Kabupaten Malang meliputi kandungan borkas dan rhodamin B. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Januari – Februari 2015 dengan mengambil sampel di tujuh Sekolah Dasar yaitu : SDN Dampit 01, SDN Dampi 02, SDN Dampit 03, SDN Dampit 04, SDN Dampit 05, SD Taman Siswa dan SD Diponegoro dari kantin sekolah dan penjaja kaki lima di sekitar sekolah. Jenis Penelitian adalah eksploratif yaitu menggali data tentang kandungan boraks dan rhodamin B pada pangan jajanan anak sekolah (tempura, sosis, saos tomat dan saos cabai) di Sekolah Dasar Desa Dampit Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan hasil uji kualitatif pada tujuh sampel tempura dan tujuh sampel sosis ditemukan adanya boraks. Hasil uji kuantitatif menunjukkan bahwa rata-rata total boraks pada tempura sebesar 2931.224 mg/1000 g dan rata-rata total boraks pada sosis sebesar 3456.634 mg/1000 g. Berdasarkan hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa tidak terdapat sampel sosis dan saos yang mengandung rhodamin B. Akan tetapi ada pewarna makanan lain yang dilarang penggunaannya yaitu fast red terdapat pada semua sampel sosis yang diteliti dan sampel saos tomat di lokasi pengambilan sampel SD Diponegoro. Perlu pengawasan dan pembinaan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dalam hal penggunaan BTP, yaitu larangan untuk menggunakan BTP berbahaya seperti boraks dan rhodamin B serta anjuran penggunaan BTP alternatif yang relative lenih aman untuk dikonsumsi dengan batas penggunaan tertentu. Selain itu perlu penyuluhan tentang makanan jajanan sehat bagi siswa-siswa sekolah dasar agar lebih cermat dan berhati-hati dalam memilih makanan jajanan yang sehat. Kata kunci : Keamanan pangan jajanan anak sekolah, boraks dan rhodamin B
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KEAMANAN PANGAN JUS BUAH ALPUKAT DI KOTA MALANG (Kajian Mutu Mikrobiologis dan Mutu Kimia)

Lihat Detail Karya
Penulis: NURSADA ADININGTYAS PUTRI BIMA
NIM: 1203000072
Program Studi: Polkesma Gizi
Dosen Pembimbing: Maryam Razak STP, MSi
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KEAMANAN PANGAN SARI KEDELAI DI KOTA MALANG (Analisis Mutu Mikrobiologi dan Bahan Tambahan Makanan Siklamat Sari Kedelai)

Lihat Detail Karya
Penulis: UMMUL KARIMAH
NIM: 1203000090
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII GIZI
Dosen Pembimbing: Agus Heri Santoso, S.TP, M.Si
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Ummul Karimah, 2015. Keamanan Pangan Sari Kedelai di Kota Malang (Mutu Mikrobiologis dan Bahan Tambahan Makanan Siklamat Sari Kedelai). Karya Tulis Ilmiah, Program Studi DIII Gizi Malang, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. (Pembimbing : Agus Heri Santoso, S.TP, M.Si) Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia. Keamanan pangan bukan hanya merupakan isu dunia tapi juga menyangkut kepedulian individu. Jaminan akan keamanan pangan adalah merupakan hak azasi konsumen. Saat ini konsumsi susu bangsa Indonesia masih sangat rendah. Susu mengandung bermacam-macam unsur dan sebagian besar terdiri dari zat makanan yang juga diperlukan bagi pertumbuhan bakteri. Oleh karenanya pertumbuhan bakteri dalam susu sangat cepat pada suhu yang sesuai. Cairan putih ini bisa diperoleh dari sapi, kambing, kerbau, dan kedelai. Sebagai minuman pengganti susu sapi, ternyata susu kedelai lebih aman. Padahal sari kedelai juga berpotensi terancam bakteri patoghen. Menururt data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Malang tahun 2013 kejadian luar biasa yang sering terjadi adalah diare. Kejadian diare pada tahun 2013 sebanyak 14.788 kasus dengan angka tertinggi pada perempuan yaitu (53%) dan untuk laki-laki (47%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keamanan pangan pada Sari Kedelai yang dijual di Kota Malang ditinjau dari mutu mikrobiologis (total cemaran mikroba) dan mutu kimia (pemanis buatan). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksploratif dengan sampel sari kedelai yang dijual di pasar tradisional dan penjual jajanan di luar pasar. Dari pengamatan diperoleh secara umum pembuatan pada sari kedelai pada masing-masing produksi rumahan berbeda. Dilihat dari sisi peralatan, penjamah makanan dan proses pengolahannya berbeda-beda. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa nilai total cemaran mikroba semua sari kedelai dibawah standar ketetapan batas maksimal mikroorganisme pada sari kedelai yaitu 5,0 x 104 koloni/mL, sehingga sari kedelai aman ditinjau dari mutu mikrobiologi dan layak untuk dikonsumsi karena adanya faktor pengolahan yaitu pemanasan dan pengemasan. Semua sampel susu kedelai positif menggunakan bahan tambahan makanan pemanis buatan (Siklamat)., terdapat 4 (empat) sampel sari kedelai yang menggunakan bahan tambahan makanan pemanis buatan (siklamat) diatas ambang batas maksimal yang diijinkan sesuai Standar Nasional Indonesia yaitu 400 mg/kg. Saran untuk penelitian ini perlunya kerjasama Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dengan Dinas Kesehatan Kota Malang untuk mengadakan sosialisasi baik kepada produsen tentang hygiene dan sanitasi pengolahan makanan. Kata Kunci : Sari Kedelai, Pangan, Keamanan Pangan, Mutu Mikrobiologi, Mutu Kimia, Total cemaran mikroba, Pemanis buatan (Siklamat)
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KEMAMPUAN IBU NIFAS DALAM MELAKUKAN PERAWATAN LUKA PERINEUM DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) NGUDI WALUYO WLINGI (Deskriptif Survei)

Lihat Detail Karya
Penulis: INTAN FARADELA AHMAD
NIM: 1201100025
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII KEPERAWATAN
Dosen Pembimbing: Dra. Goretti Maria Sindharti., M.Kes, dan Ngesti W. Utami, S.Kp, M.Pd.
Subjek: Nifas
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Ahmad, Intan Faradela (2015). Kemampuan Ibu Nifas dalam Melakukan Perawatan Luka Perineum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi. Karya Tulis Ilmiah Deskriptif Survei. Program Studi D-III Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing (Utama) Dra. Goretti Maria Sindharti., M.Kes, (Pendamping) Ngesti W. Utami, S.Kp, M.Pd. Kata Kunci: Masa Nifas, Perawatan Luka Perineum. Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai enam minggu setelah melahirkan. Perawatan luka perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah perineum sampai dengan kembalinya organ genetik seperti waktu sebelum hamil. Desain penelitian ini deskriptif survei dengan pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Responden yang digunakan berjumlah 44 ibu nifas dengan luka perineum. Pengambilan data menggunakan instrumen kuisioner untuk melihat data pengetahuan ibu nifas dan lembar observasi untuk melihat data kemampuan dalam meyiapkan alat dan bahan serta tindakan dalam melaksanakan perawatan luka perineum. Data yang didapatkan dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang perawatan luka perineum, paling banyak adalah berpengetahuan baik 75% (33 orang), berpengetahuan cukup baik 21% (9 orang), dan berpengetahuan kurang baik 4,45% (2 orang). Kemampuan ibu nifas untuk menyiapkan alat dan bahan dalam melaksanakan perawatan luka perineum, paling banyak adalah tidak baik 64% (28 orang), kemudian kemampuan baik 36% (16 orang). Kemampuan melaksanakan tindakan perawatan luka perineum sebanyak 52% (23 orang) memiliki kemampuan tidak baik, sedangkan 48% (21 orang) memiliki kemampuan baik. Rekomendasi penelitian selanjutnya dapat dilakukan penelitian tentang perawatan luka perineum dengan menggunakan metode observasi langsung kepada responden sehingga didapatkan data yang lebih akurat.
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KETERSEDIAAN ZAT GIZI MENU MAKAN PAGI DAN MAKAN MALAM PADA SISTEM PENYELENGGARAAN MAKANAN DI PONDOK PESANTREN KHA WAHID HASYIM BANGIL

Lihat Detail Karya
Penulis: DWI VITA NURHAYATI
NIM: 1203000094
Program Studi: Polkesma Gizi
Dosen Pembimbing: Dwie Soelistyorini
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Dwi Vita Nurhayati, 2015. Ketersediaan Zat Gizi Pada Menu Makan Pagi dan Makan Malam pada Sistem Penyelenggaraan Makanan di Pondok Pesantren KHA Wahid Hasyim Bangil. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi DIII Gizi Malang, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. ( Dibimbing : Dwie Soelistyorini ) Masalah gizi remaja adalah salah satu masalah gizi yang harus diperhatikan, karena usia ini membutuhkan asupan zat gizi yang dapat memenuhi kebutuhannya. Hal ini dikarenakan, usia remaja rentan terhadap masalah gizi terutama anemia, KEP dan gizi lebih. Pondok Pesantren KHA Wahid Hasyim Bangil dihuni oleh santri putri dengan rentang usia 13 - 18 tahun. Di pondok pesantren ini pola menu yang disediakan belum memenuhi 5 komponen, yang akan mempengaruhi proporsi menu makan pagi dan makan malam serta kecukupan energi dan zat gizi yang diberikan pada santri nantinya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui siklus menu, pola menu yang disediakan, porsi makan, proporsi menu makan pagi dan makan malam serta sumbangan energi dan zat gizi yang terkandung pada menu makan pagi dan makan malam santri. Jenis penelitian adalah observasional dengan sampel penelitian adalah menu yang disajikan sebanyak 14 menu selama 7 hari. Sedangkan untuk pengamatan sumbangan energi dan zat gizi pada menu makan pagi dan makan malam dilakukan selama 7 hari. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pola menu yang disediakan masih kurang memperhatikan pola menu seimbang, karena sebagian besar menu masih terdiri dari 3 jenis makanan. Besar porsi yang disajikan dalam kategori kurang yaitu pada porsi Lauk dan sayur, dan pada penyajian nasi dalam kategori cukup, sedangkan untuk proporsi makan pagi seluruhnya belum sesuai dengan standar proporsi makan pagi yaitu 25% dari kebutuhan energi, namun ada satu menu yang memenuhi standart proporsi yaitu menu makan malam pada hari ke 1 sebesar 25,4%. Sumbangan energi dan zat gizi pada menu 7 hari yang disajikan masih banyak yang tergolong dalam kategori kurang, adapun yang dikatakan dalam kategori cukup yaitu pada sumbangan KH. Saran penelitian ini adalah menambah anggaran untuk buah sebesar Rp 1000,- perhari/org, Pemilihan bahan makanan lebih selektif serta perbaikan jenis menu agar lebih bervariasi dan pola menu dapat memenuhi pola menu seimbang. . Kata Kunci : Pola menu, Besar
Cover KTI
tidak tersedia
2015

KINERJA POSYANDU DAN KEAKTIFAN KADER DENGAN CAPAIAN SPM PELAYANAN GIZI TERHADAP STATUS GIZI BALITA ANTAR POSYANDU DI DESA SUKODADI KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG TAHUN 2014

Lihat Detail Karya
Penulis: FEBRY DIAN PERMATASARI
NIM: 1203000034
Program Studi: POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI DIII GIZI
Dosen Pembimbing: Diniyah Kholidah, SGz., MPH
Lihat Abstraksi
ABSTRAKSI “Kinerja Posyandu dan Keaktifan Kader dengan Capaian SPM Pelayanan Gizi terhadap Status Gizi Balita antar Posyandu di Desa Sukodadi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang Tahun 2014.” Kinerja Posyandu dilihat dari penyelenggaraan pelaksanaan Posyandu.Kinerja program gizi di Posyandu harus melalui indikator SKDN (K/S, D/S, N/D, D/K dan N/S) dengan target pencapaian yang sudah ditetapkan.Keaktifan kader dapat diasumsikan bahwa yang aktif melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya. SPM Pelayanan Gizi terdiri dari cakupan balita mendapat vitamin S 2 kali per tahun, cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe, cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi bawah garis merah dari keluarga miskin dan balita gizi buruk mendapat perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kinerja Posyandu dan Keaktifan Kader dengan SPM Pelayanan Gizi terhadap Status Gizi antar Posyandu di Desa Sukodadi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang tahun 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif.Populasi penelitian ini adalah seluruh kader posyandu berjumlah 30 orang dan balita di Desa Sukodadi Kecamatan Wagir selama tahun 2014.Kegitan hasil penimbangan dilihat dari balok SKDN.Keaktifan kader dilihat dari absensi kader selama tahun 2014. SPM pelayanan gizi dilihat dari laporan bulanan pelayanan gizi dan status gizi didapat dari register penimbangan. Hasil penelitian diketahui kinerja posyandu dari 5 indikator SKDN untuk tingkat cakupan program (K/S) sudah mencapai target 100%, tingkat partisipasi masyarakat (D/S) dan tingkat kelangsungan penimbangan sudah mencapai target 80%. Untuk tingkat keberhasilan program (N/D) belum mencapai target 80% dan pencapaian program juga belum mencapai target 70%. Pencapaian SPM Pelayanan gizi di Desa Sukodadi terdapat indikator yang mencapai target yaitu cakupan pemberian MP-ASI untuk bayi BGM dari keluarga miskin dan cakupan gizi buruk mendapat perawatan dapat mencapai target 100%. Status gizi balita di semua posyandu sudah dalam kategori baik karena balita yang BB/U kurang sudah <15%. Diharapkan pada petugas kesehatan untuk lebih aktif melakukan penyuluhan dan meningkatkan cakupan kinerja posyandu, ibu aktif membawa anaknya ke posyandu. Kata kunci: kinerja posyandu, Keaktifan kader, SPM Pelayanan Gizi, Status Gizi
Chatbot Perpustakaan
📚

Perpustakaan Digital

Poltekkes Kemenkes Malang

Halo đź‘‹

Selamat datang di layanan digital perpustakaan.

Sistem ini membantu pencarian informasi perpustakaan secara cepat dan otomatis.

Contoh pertanyaan:
• cara menjadi anggota perpustakaan
• cara cek plagiarisme
• Jam buka perpustakaan