Perpustakaan Terpadu Poltekkes Kemenkes Malang
🇮🇩 ID | 🇬🇧 EN

Karya Ilmiah Mahasiswa

Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.

Reset
Menampilkan 4111–4120 dari 5188 KTI mahasiswa
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PERILAKU PEROKOK AKTIF REMAJA SEBELUM DAN SESUDAH MEMBACA KOMIK KESEHATAN TENTANG BAHAYA MEROKOK PADA REMAJA DI SMA TAMAN SISWA (STUDI KASUS)

Lihat Detail Karya
Penulis: TAUFIQ FADHLURROHMAN
NIM: 1401100023
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: (1) Isnaeni DTN, SKM, M.Kes (2) Dr. Atti Yudiernawati, S.Kp. M.pd.
Subjek: Perilaku, Bahaya Merokok, Komik Kesehatan
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Perilaku Perokok Aktif Remaja Sebelum Dan Sesudah Membaca Komik Kesehatan Tentang Bahaya Merokok Pada Remaja Di SMA Taman Siswa Kota Malang. Taufiq Fadhlurrohman (2017) Karya Tulis Ilmiah Deskriptif Studi Kasus. Program Studi Diploma III Keperawatan Malang. Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing (1) Isnaeni DTN, SKM, M.Kes (2) Dr. Atti Yudiernawati, S.Kp. M.pd. Remaja adalah masa adolsecense yang banyak mencakup arti luas, dalam hal ini kematangan mental, emosional, dan sosial mempengaruhi perkembangan dan perilaku remaja. Masa remaja adalah dimana kita memiliki rasa ingin tau yang tinggi, seperti keingintahuan dengan rokok. Data Depkes (2016) menunjukan pravelensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada 2014. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perilaku tentang bahaya merokok sebelum dan sesudah diberikan komik kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, dengan mengambil 2 subjek penelitian. Hasil dari penelitian sebelum diberikan komik kesehatan pengetahuan kedua subjek dalam kategori kurang, sikap kedua subjek dalam kategori sikap positif, serta perilaku kedua subjek termasuk perilaku negatif. Setelah diberikan komik kesehatan pengetahuan kedua subjek berubah menjadi pengetahuan cukup, sikap kedua subjek termasuk sikap positif, dan perilaku kedua subjek termasuk perilaku negatif. Rekomendasi penelitian ini adalah pendidikan kesehatan tentang bahaya merokok sebaiknya dilakukan di semua kalangan remaja baik perokok aktif maupun perokok pasif, serta ditambahkan motivasi untuk mengubah perilaku. Kata Kunci : Perilaku, Bahaya Merokok, Komik Kesehatan
Cover KTI
2017

PERILAKU REMAJA TENTANG PERSONAL HYGIENE KULIT DI PONDOK PESANTREN NURUL JADID WAGIR – MALANG (DESKRIPTIF STUDI KASUS)

Lihat Detail Karya
Penulis: RENDA RETNO SARI
NIM: 1401100030
Program Studi: PRODI DIII KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Wahyuningsri, S.Pd, M.Kes, Ngesti W Utami, S.Kp, M.Pd.
Subjek: Personal Hygiene, Pondok Pesantren, dan Remaja
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Perilaku Remaja Tentang Personal Hygiene Kulit di Pondok Pesantren Nurul Jadid Wagir – Malang.Renda Retno Sari (2017). Karya Tulis Ilmiah Deskriptif Studi Kasus, Program Studi DIII Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing (Utama) Wahyuningsri, S.Pd, M.Kes, (Pendamping) Ngesti W Utami, S.Kp, M.Pd. Kata kunci : Personal Hygiene, Pondok Pesantren, dan Remaja Personal hygiene kulit adalah hal yang perlu diperhatikan pada remaja karena hal ini bisa menyebebkan masalah kesehatan pada remaja, biasanya remaja kurang memperhatikan tentang kebersihan kulit, apabila terus dibiarkan dalam kondisi yang tidak bersih maka remaja bisa terkena gangguan infeksi pada kulit. Penelitian ini dilaksanakan pada 25 April sampai 28 Mei 2017 bertempat di Pondok Pesantren Nurul Jadid Wagir-Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perilaku remaja tentang personal hygiene kulit dipondok pesantren.Desain penelitian ini adalah deskriptif studi kasus yang menggunakan 2 remaja sebagai responden.Pengambilan data menggunakan lembar wawancara dan observasi.Hasil penelitian menunjukan bahwa personal hygiene kulit subyek 1 dan subyek 2 baik.Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk meneliti faktor-faktor lingkungan lain yang berpengaruh terhadap kesehatan dan kebersihan diri remaja pondok pesantren sehingga dapat mencegah penyakit kulit.
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PERUBAHAN TINGKAT NYERI SENDI PADA LANSIA SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKAN TERAPI GUIDED IMAGERY (IMAJINASI TERBIMBING) DI GRIYA ASIH LAWANG

Lihat Detail Karya
Penulis: NUR RANI HARFIKRI ANDINI
NIM: 1401100081
Program Studi: DIPLOMA III KEPERAWATAN
Dosen Pembimbing: Fiashriel Lundy, S.Kep, Ns. M.Kes, Joko Wiyono, S.Kp, M.Kep Sp.Kom
Subjek: Lansia, Nyeri Sendi, Terapi Imajinasi Terbimbing
Lihat Abstraksi
Perubahan Tingkat Nyeri Sendi Pada Lansia Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Guided Imagery (Imajinasi Terbimbing) Di Griya Asih Lawang (studi kasus) Nur Rani Harfikri Andini (2017) Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus, Program Studi D III Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan Malang, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing I Fiashriel Lundy, S.Kep, Ns. M.Kes, Pembimbing II Joko Wiyono, S.Kp, M.Kep Sp.Kom. Kata Kunci: Lansia, Nyeri Sendi, Terapi Imajinasi Terbimbing Lansia sering mengeluhkan nyeri pada sendi dikarenakan telah terjadi proses penuaan. Nyeri sendi merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan sendi. Guided imagery (imajinasi terbimbing) merupakan salah satu alternatif yang dapat diberikan untuk menurunkan tingkat intensitas nyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perubahan tingkat nyeri sendi pada lansia setelah diberikan terapi Guided Imagery (imajinasi terbimbing) di Griya Asih Lawang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan metode studi kasus, peneliti berperan sebagai tutor dalam pemberian terapi Guided Imagery (imajinasi terbimbing). Dalam pengambilan data, peneliti melakukan studi kepada dua subjek. Pengambilan data tersebut dilakukan selama 1 minggu dan di observasi sebanyak 3 kali sehari mulai tanggal 14 mei-29 mei 2017. Untuk mengukur fokus penelitian peneliti melakukan wawancara tentang nyeri dan mengobservasi menggunakan skala nyeri Hayward. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skala nyeri dari skala nyeri sedang menjadi skala nyeri ringan. Keberhasilan terapi Guided Imagery (imajinasi terbimbing) sangat dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi subjek sehingga diperlukan pendekatan oleh tenaga kesehatan untuk mengkaji riwayat psikologis lansia dan dapat memberikan terapi Guided Imagery (imajinasi terbimbing) pada lansia yang mengalami nyeri sendi sehingga dapat menurunkan tingkat nyeri tanpa mengkonsumsi obat-obatan.
Cover KTI
2017

POLA ASUH DALAM PEMBERIAN MAKAN PADA ANAK USIA BALITA DENGAN STATUS GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KENDAL KEREP

Lihat Detail Karya
Penulis: MAULIDIA RIZKA
NIM: 1401100005
Program Studi: D-III KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Wahyuningsri, S.Pd, M.Kes, Rossyana Septyasih, S.Kp, M.Pd.
Subjek: Gizi Kurang, Balita, Pola Asuh
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Maulidia Rizka (2017). Pola Asuh Dalam Pemberian Makan Pada Anak Usia Balita Dengan Status Gizi Kurang Di Wilayah Kerja Puskesmas Kendal Kerep. Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus dengan pendekatan riset deskriptif. Program Studi DIII Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan. Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing (Utama) Wahyuningsri, S.Pd, M.Kes, (Pendamping) Rossyana Septyasih, S.Kp, M.Pd. Status gizi pada balita perlu mendapatkan perhatian serius dari orang tua, gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan zat gizi. Pola pengasuhan turut berkontribusi terhadap status gizi anak, pola asuh yang diterapkan oleh ibu berpengaruh terhadap pertumbuhan anak khususnya status gizi anak. Pada anak dengan status gizi kurang sebaiknya menggunakan pola asuh yang baik dan memperhatikan asupan gizi yang cukup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola asuh ibu dalam pemberian makan anak usia balita dengan status gizi kurang di wilayah puskesmas Kendal Kerep. Penelitian ini dilakukan selama 2 minggu pada tanggal 7 Juni-21 Juni 2017. Metode yang dilakukan yaitu dengan studi kasus yang menggunakan kuesioner dan observasi yang disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa subyek Ny.S menerapkan pola asuh permisif dalam pemberian makan pada anak. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya adalah Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memperhatikan fokus studi penelitian lainnya yang mempengaruhi status gizi pada anak seperti pola makan dan asupan gizi anak yang diberikan kepada anak dengan status gizi kurang. Kata Kunci : Gizi Kurang, Balita, Pola Asuh
Cover KTI
tidak tersedia
2017

POLA KONSUMSI TINGGI BAHAN TAMBAHAN PANGAN NATRIUM BENZOAT TERHADAP PANJANG BADAN DAN BERAT BADAN TIKUS PUTIH GALUR WISTAR

Lihat Detail Karya
Penulis: RIZKA NIZAR KURNIAWATI
NIM: 1603400014
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA IV GIZI
Dosen Pembimbing: (1) Maryam Razak, dan (2) I Komang Suwita.
Subjek: Natrium Benzoat, Pola Konsumsi , Berat Badan, Panjang Badan.
Lihat Abstraksi
ABSTRAK RIZKA NIZAR KURNIAWATI (2017). Pola Konsumsi Tinggi Bahan Tambahan Pangan Natrium Benzoat Terhadap Panjang Badan Dan Berat Badan Tikus Putih Galur Wistar. Skripsi. Program Studi DIV Gizi Malang, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Dibimbing oleh : (1) Maryam Razak, dan (2) I Komang Suwita. Stunting menjadi salah satu program prioritas pembangunan kesehatan dalam periode 2015 – 2019, dimana intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskan pada kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Estimasi kehilangan potensi ekonomi di Provinsi Jawa Timur karena stunting dengan asumsi penurunan produktivitas sebesar 2 – 9 % adalah sebesar 339 – 1.526 milyar, sedangkan secara nasional sebesar 3.057 – 13.758 milyar atau 0,04 – 0,16 % dari total GDP Indonesia (Renyoet, 2016). Kejadian stunting dipengaruhi oleh banyak faktor, dengan faktor penyebab terbesar adalah rendahnya kuantitas dan kualitas asupan makan sehari-hari. Faktor lain yang diduga menjadi penyebab terjadinya stunting adalah adanya anti-nutrient seperti xenobiotik yang dapat meningkatkan beban metabolisme apabila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan dan/atau dalam jangka waktu yang lama. Penelitian ini menganalisis dampak konsumsi Natrium Benzoat sebagai salah satu jenis xenobiotik terhadap panjang badan dan berat badan tikus putih jantan galur wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Pre-Post Test Control Group Desaign. Pengambilan data dilakukan mulai tikus usia 1,5 bulan pada kelompok kontrol pemberian ransum standar (P0), kelompok pemberian biskuit tanpa pengawet Natrium Benzoat (P1), kelompok perlakuan pemberian biskuit dengan pengawet Natrium Benzoat 100 ppm (P2), dan perlakuan pemberian biskuit dengan pengawet Natrium Benzoat 500 ppm (P3). Jumlah asupan rata-rata tiap 4 hari cenderung mengalami penurunan pada tiap perlakuan kecuali pada perlakuan P3 meningkat di akhir penimbangan. Efisiensi pakan menunjukkan bahwa P3 lebih tinggi dibanding dengan P0, P1, dan P2 yaitu 87,2%. Jumlah asupan tertinggi adalah pada taraf perlakuan P3 sedangkan jumlah asupan terendah ada pada taraf perlakuan P2. Secara statistik tidak ada hubungan/korelasi antara jumlah asupan dengan berat badan, namun hasil uji menunjukkan adanya hubungan/korelasi antara jumlah asupan dengan panjang badan meskipun lemah. Persentase peningkatan berat badan tikus pada perlakuan P3 lebih tinggi dibandingkan dengan dengan perlakuan P0, P1, dan P2 yaitu 51,7%. Peningkatan panjang badan pada perlakuan P0 lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan P1, P2 dan P3 yaitu 24,4%. berat badan diperoleh dari hasil tumpukkan lemak visceral yang ada pada tubuh tikus. Faktor yang mempengaruhi persentase peningkatan berat badan dan panjang badan dalam penelitian ini adalah jumlah asupan dan penambahan Natrium Benzoat . Saran untuk penelitian selanjutnya, perlu dilakukan penelitian dalam jangka waktu yang lebih lama untuk mencapai keadaan kronis (stunting). Kata Kunci : Natrium Benzoat, Pola Konsumsi , Berat Badan, Panjang Badan.
Cover KTI
tidak tersedia
2017

POLA MAKAN, TINGKAT KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN SERTA STATUS GIZI IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI PUSKESMAS MODOPURO KAB. MOJOKERTO

Lihat Detail Karya
Penulis: NUR KHOLIFAH ANGGRAINI
NIM: 1403000094
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA III GIZI
Dosen Pembimbing: drg. Rinawati Basuki, M.Kes
Subjek: Pola Makan, Tingkat Konsumsi Energi dan Protein, Status Gizi, Hiperemesis Gravidarum.
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Nur Kholifah Anggraini, (2017), “Pola Makan, Tingkat Konsumsi Energi dan Protein Serta Status Gizi Ibu Hamil dengan Hiperemesis Gravidarum di Puskesmas Modopuro Kabupaten Mojokerto.” Tugas Akhir, Program Study DIII Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. (Dibawah Bimbingan drg. Rinawati Basuki, M.Kes). Komplikasi kehamilan salah satunya adalah mual dan muntah atau dikenal dengan Hiperemesis Gravidarum. Mual muntah terus menerus setiap kali makan dan minum akibatnya pola makan ibu akan berubah, dan asupan makan berkurang yang dapat mempengaruhi tingkat konsumsi, hal ini dapat mempengaruhi status gizi ibu hamil. Prevalensi hiperemesis gravidarum antara 1-3% atau 5-20 kasus per 1000 kehamilan (Simpson et.al, 2001). Berdasarkan data awal, di puskesmas Modopuro Kab. Mojokerto pada tahun 2016 terdapat 5 ibu hamil penderita hiperemesis gravidarum dari 586 kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola makan, tingkat konsumsi energi, protein dan status gizi ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum di Puskesmas Modopuro Kab. Mojokerto. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dan penelitian dilakukan 14 hari yaitu 31 Maret – 13 April 2017 di wilayah kerja Puskesmas Modopuro Kab. Mojokerto. Data tentang gambaran umum, pola makan, asupan energi dan protein diperoleh dengan cara wawancara, dan data status gizi diperoleh dengan cara pengukuran. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis. Data gambaran umum dan status gizi disajikan dan dianalisis secara diskriptif. Data pola makan dan tingkat konsumsi energi dan protein disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola makan responden yang mengalami hiperemesis gravidarum ini masih belum menerapkan pola makan ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum karena masih makan dengan porsi biasa, seharusnya ibu hamil dengan gravidarum makan dengan makanan bentuk kering, mudah cerna dan dalam porsi kecil. Rata-rata tingkat konsumsi energi responden adalah defisit tingkat sedang dan rata-rata tingkat konsumsi protein responden adalah defisit tingkat berat. Status gizi responden berdasarkan %LLA termasuk dalam katagori status gizi kurang atau beresiko KEK (81,15%) dengan LLA 21,5 cm. Responden perlu diberi motivasi dan edukasi untuk mengkonsumsi makanan lebih banyak dibandingkan biasanya. Responden perlu diberi konseling dan edukasi mengenai diet hiperemesis gravidarum. Kata kunci : Pola Makan, Tingkat Konsumsi Energi dan Protein, Status Gizi, Hiperemesis Gravidarum.
Cover KTI
tidak tersedia
2017

POLA PERHITUNGAN KEBUTUHAN TENAGA REKAM MEDIS RUANG FILING MENGGUNAKAN APLIKASI DELPHI 7 DENGAN METODE WORKLOAD INDICATOR OF STAFFING NEEDS DI RUMAH SAKIT BAPTIS BATU

Lihat Detail Karya
Penulis: RIKA AMALIA SARI
NIM: 1404000033
Program Studi: DIII PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
Dosen Pembimbing: drg. Rinawati Basuki, M.Kes)
Subjek: kebutuhan pegawai, rekam medis, WISN
Lihat Abstraksi
Rika Amalia Sari, 2017. “Pola Perhitungan Kebutuhan Tenaga Rekam Medis Ruang Filing Menggunakan Aplikasi Delphi 7 dengan Metode Workload Indicator of Staffing Needs di Rumah Sakit Baptis Batu”. Jurusan DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (Dibawah bimbingan drg. Rinawati Basuki, M.Kes) Beban kerja adalah sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan survey pendahuluan di Rumah Sakit Baptis Batu terdapat permasalahan terkait beban kerja yaitu job description petugas filing yang belum bisa dikerjakan maksimal, petugas hanya berjumlah satu orang dengan kapasitas kunjungan perhari mencapai 300 pasien. Hal ini menyebabkan beban kerja petugas mencapai 86% dan dinyatakan tinggi karena proporsi mencapai 80% (Ilyas,2004). Salah satu faktor yang mempengaruhi pelayanan di rumah sakit adalah berkaitan dengan sumber daya manusia, oleh karena itu SDM di rumah sakit perlu direncanakan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jumlah kebutuhan tenaga rekam medis ruang filing menggunakan aplikasi delphi 7. Metode yang digunakan untuk menghitung kebutuhan pegawai adalah WISN. Metode penelitian ini secara deskriptif kuantitatif, desain survey cross sectional. Variabel penelitian ini adalah pola perhitungan kebutuhan tenaga rekam medis ruang filing berdasarkan metode WISN. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai rekam medis. Sampel dalam penelitian ini yaitu petugas rekam medis ruang filing Rumah Sakit Baptis Batu. Data diambil dengan menggunakan instrumen kuesioner. Pengolahan data menggunakan aplikasi program delphi 7 dengan uji kelayakan aplikasi menggunakan uji blackbox. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pegawai yang dibutuhkan sebanyak 3 orang. Pegawai yang sudah ada sebanyak 1 orang, perlu penambahan tenaga 2 orang lagi untuk perencanaan kebutuhan pegawai pada tahun berikutnya. Kata kunci : kebutuhan pegawai, rekam medis, WISN
Cover KTI
tidak tersedia
2017

POLA PERTUMBUHAN BADUTA 6-24 BULAN DAN HUBUNGAN RIWAYAT PEMBERIAN MP-ASI DENGAN STATUS GIZI BADUTA 6- 24 BULAN DI KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: SALSABILA MAHDIYAH SARI
NIM: 1403000012
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA III GIZI
Dosen Pembimbing: Sugeng IwanS., STP, M.Kes
Subjek: Pola Pertumbuhan, Baduta, MP-ASI,Status Gizi
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Pola Pertumbuhan Baduta 6-24 Bulan dan Hubungan Riwayat Pemberian MP-ASI dengan Status Gizi Baduta 6-24 Bulan di Kabupaten Malang, Karya Tulis Ilmiah , Program Studi DIII Gizi Malang Jurusan Gizi , Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Di bawah bimbingan Sugeng IwanS., STP, M.Kes) Masa balita merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan berat badan yang paling pesat dibanding dengan kelompok umur lain, masa ini tidak terulang sehingga disebut window of opportunity, untuk mengetahui apakah balita tumbuh dan berkembang secara normal atau tidak, penilaian tumbuh kembang balita yang mudah diamati adalah pola tumbuh kembang fisik, salah satunya dalam mengukur berat badan balita (Soetjiningsih, 2002). Badan kesehatan dunia (WHO, 2011) memperkirakan bahwa 54% kematian anak disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk. Di Indonesia, saat ini tercatat 4,5% dari 22 juta balita atau 900 ribu balita di Indonesia mengalami gizi kurang atau gizi buruk dan mengakibatkan lebih dari 80% kematian anak (Kemenkes,2012). Hasil Riskesdas (2010), menunjukkan pravelensi gizi kurang menjadi 17,9% dan gizi buruk menjadi 4,9%, artinya kemungkinan besar sasaran pada tahun 2014 sebesar 15,0% untuk gizi kurang dan 3,5% untuk gizi buruk dapat tercapai (Depkes RI, 2010). Berdasarkan keadaan tersebut maka perlu dilakukan studi lebih lanjut berkaitan dengan pola pertumbuhan baduta dengan masalah gizi sebagai deteksi dini dalam rangka pencegah kejadian masalah gizi di Kabupaten Malang. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian survei dekriptif analitik dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini semua batita yang memiliki KMS dan timbang pada usia 24 bulan di 3 (tiga) kecamatan di wilayah Kabupaten Malang, yaitu Kecamatan Wagir, Kecamatan Pagak, dan Kecamatan Pujon dengan jumlah total 27 responde. Uji statistik yang digunakan ada korelasi peaerson product moment. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar ibu responden berusia antara 20-29 tahun (56%), pendidikan terakir ibu responden SMP (63%), menjadi ibu rumah tangga (63%), pendapatan keluarga <UMR Kabupaten Malang (93%). Total responden di Kabupaten Malang berjumlah 43 baduta. Rata-rata pola pertumbuhan baduta perempuan di 3 kecamatan Kabupaten Malang berada di bawah median dan rata-rata pola pertumbuhan baduta laki-laki di 3 kecamatan Kabupaten Malang berada di sekitar garis -1 SD namun secara umum masih dikatakan normal. Kenaikan berat badan (KBM) di Kabupaten Malang menunjukkan bahwa kelompok umur baduta laki-laki usia 6-24 bulan rerata kenaikan berat badan lebih kecil dari kenaikan berat badan minimal. Sedangkan pada kelompok umur baduta perempuan usia 6-24 bulan rerata kenaikan berat badan lebih besar dari kenaikan berat badan minimal. Riwayat pemberian MP-ASI di Kabupaten Malang (74%) berkategori baik. Ada hubungan yang signifikan antara riwayat pemberian MP-ASI dengan status gizi didapatkan hasil p-value 0,003 maka p-value > dari α (0,003 < 0,05).Berdasarkan hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa baduta yang mendapatkan MP-ASI baik maka status gizi baduta baik. Kata Kunci : Pola Pertumbuhan, Baduta, MP-ASI,Status Gizi
Cover KTI
tidak tersedia
2017

POLA PERTUMBUHAN BALITA DAN HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH TERKAIT PENYAKIT INFEKSI DENGAN STATUS GIZI ANAK DI KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: Prillinsya Violetha Herlambang
NIM: 1403000023
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA III GIZI
Dosen Pembimbing: Sugeng Iwan, STP, M.Kes
Subjek: Penyakit Infeksi, Pola Asuh, Pola Pertumbuhan, Status Gizi
Lihat Abstraksi
POLA PERTUMBUHAN BALITA DAN HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH TERKAIT PENYAKIT INFEKSI DENGAN STATUS GIZI ANAK DI KABUPATEN MALANG Prillinsya Violetha Herlambang Program Studi DIII Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang email: prillinsya.violetha62@gmail.com ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu faktor yang dapat menyebabkan masalah gizi pada balita adalah penyakit infeksi yang pernah atau sering diderita. Hal tersebut dikarenakan penyakit infeksi dapat menurunkan nafsu makan serta balita tidak merasa lapar. Penyakit ini juga menghabiskan sejumlah kalori dan protein yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan. Tidak semua orang tua dapat mengasuh balitanya yang sedang sakit dengan benar. Beberapa orang tua tidak membawa balitanya ke petugas kesehatan dan hanya memberikan obat biasa yang dijual bebas diwarung, serta banyak orang tua yang mengiyakan ketika balita tidak mau makan saat sakit. Hal tersebut dapat memperburuk keadaan kesehatan balita serta dapat menurunkan berat badan dan status gizi balita. Berdasarkan hasil kegiatan Riskesdas tahun 2013, prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita di Kabupaten Malang sebesar 14,9%. Penelitian dilakukan di 3 kecamatan yaitu di Kecamatan Wagir, Pagak, dan Pujon dengan prevalensi gizi buruk masing-masing sebesar 0,95%, 0,86%, dan 0,30%. Berdasarkan data tersebut, maka diperlukan penelitian mengenai pola pertumbuhan balita dan hubungan antara pola asuh terkait penyakit infeksi dengan status gizi anak di Kabupaten Malang. Tujuan: Mengetahui pola pertumbuhan balita dan hubungan antara pola asuh terkait penyakit infeksi dengan status gizi anak di Kabupaten Malang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan desain cross sectional. Responden penelitian ini berjumlah 60 anak. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner dan buku KMS yang dimiliki. Cara pengolahan data akan diolah dan dianalisis secara deskriptif dengan uji chi square. Hasil dan Kesimpulan: Sebagian besar usia ibu responden antara 30-39 tahun, berpendidikan SMP sederajat, dengan pekerjaan ibu rumah tangga, pendapatan keluarga sebagian besar <UMR Kabupaten Malang. Pola pertumbuhan balita (BB/U) di tiga kecamatan di Kabupaten Malang pada umumnya termasuk dalam daerah normal. Namun, ada beberapa yang pola pertumbuhannya masih fluktuatif. Pola asuh terkait penyakit infeksi di Kecamatan Wagir, Pagak, dan Kabupaten Malang paling banyak termasuk dalam kategori baik dengan presentase masingmasing 63,6%, 52,6%, dan 53,3%. Di Kecamatan Pujon, pola asuh terkait penyakit infeksi dalam kategori kurang baik dan baik memiliki presentase sama yaitu 50%. Hasil analisis statistik chi square pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p = 0,002) antara pola asuh terkait penyakit infeksi dengan status gizi anak di Kabupaten Malang. Kata kunci: Penyakit Infeksi, Pola Asuh, Pola Pertumbuhan, Status Gizi
Cover KTI
tidak tersedia
2017

POLA PERTUMBUHAN BALITA DAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI ANAK DI KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: ROSDIANA NUR HIDAYATI
NIM: 1403000014
Program Studi: DIPLOMA III GIZI
Dosen Pembimbing: Sugeng Iwan S., STP, M.Kes
Subjek: Pola Pertumbuhan, Balita, Tingkat Konsumsi Energi, Tingkat Konsumsi Protein, Status Gizi
Lihat Abstraksi
Rosdiana Nur Hidayati (2017). Pola Pertumbuhan Balita dan Hubungan Antara Tingkat Konsumsi Energi dan Protein dengan Status Gizi Anak di Kabupaten Malang. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi Diploma III Gizi Malang Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Di bawah bimbingan Sugeng Iwan S., STP, M.Kes). Masalah gizi yang terjadi pada anak balita merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masyarakat. Secara nasional, prevalensi gizi kurang pada balita (BB/U < - 2SD) memberikan gambaran yang fluktuatif dari 18,4% (2007) menurun menjadi 17,9% (2010) kemudian meningkat lagi menjadi 19,6% (2013), sedangkan di Kabupaten Malang, prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada Tahun 2013 sebesar 14,9% (RISKESDAS,2013). Berdasarkan keadaan tersebut maka diperlukan studi lebih lanjut berkaitan dengan pola pertumbuhan balita dengan masalah gizi sejak kelahirannya sebagai bahan deteksi dini dalam rangka pencegahan kejadian masalah gizi pada balita di Kabupaten Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan desain cross sectional dan juga merupakan penelitian yang bersifat deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita yang sudah berusia 5 tahun di 3 kecamatan di wilayah Kabupaten Malang, yaitu Kecamatan Wagir, Kecamatan Pagak, dan Kecamatan Pujon dengan jumlah total 60 responden. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar ibu responden di Kabupaten Malang berusia antara 30 - 39 tahun (42%), berpendidikan terakhir lulusan SMP (45%), menjadi ibu rumah tangga (75%), dan berpendapatan < UMR (90%). Total responden berjumlah 60 anak dengan kriteria telah berusia 5 tahun. Jenis kelamin laki-laki di Kabupaten Malang sebesar 43% responden, sedangkan perempuan 57% responden. Rata-rata pola pertumbuhan balita di 3 kecamatan di wilayah Kabupaten Malang mengalami perubahan yang fluktuatif, terutama di Kecamatan Wagir. Meski begitu rerata pertambahan berat badannya sebagian besar sudah sesuai dengan KBM (Kenaikan Berat Badan Minimal) dan masih berada pada garis normal.Tingkat konsumsi energi responden di Kabupaten Malang masih tergolong defisit (78,34%). Begitu pula dengan tingkat konsumsi protein yang juga masih tergolong defsit (45%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi anak (BB/U) di Kabupaten Malang (nilai sig = 0,427), tetapi ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi protein dengan status gizi anak (BB/U) di Kabupaten Malang (nilai sig = 0,027). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan rata-rata pola pertumbuhan balita di 3 kecamatan di wilayah Kabupaten Malang mengalami perubahan yang fluktuatif. Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi anak (BB/U) di Kabupaten Malang, tetapi ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi protein dengan status gizi anak (BB/U) di Kabupaten Malang
Chatbot Perpustakaan
📚

Perpustakaan Digital

Poltekkes Kemenkes Malang

Halo 👋

Selamat datang di layanan digital perpustakaan.

Sistem ini membantu pencarian informasi perpustakaan secara cepat dan otomatis.

Contoh pertanyaan:
• cara menjadi anggota perpustakaan
• cara cek plagiarisme
• Jam buka perpustakaan