Perpustakaan Terpadu Poltekkes Kemenkes Malang
🇮🇩 ID | 🇬🇧 EN

Karya Ilmiah Mahasiswa

Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.

Reset
Menampilkan 4081–4090 dari 5188 KTI mahasiswa
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PENGEMBANGAN TEPUNG KECAMBAH KEDELAI (Glysine max) DAN TEPUNG PISANG KEPOK MERAH (Musa normalis L) SEBAGAI SEREAL UNTUK BALITA OBESITAS USIA 4–5 TAHUN

Lihat Detail Karya
Penulis: EVI FULL DEWI RISKINA
NIM: 1303410006
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA IV GIZI
Dosen Pembimbing: Astutik Pudjirahaju dan Sulistiastutik.
Subjek: Obesitas, sereal, tepung kecambah kedelai, tepung pisang kepok merah.
Lihat Abstraksi
ABSTRAK EVI FULL DEWI RISKINA, 2017. Pengembangan Tepung Kecambah Kedelai (Glysine max) dan Tepung Pisang Kepok Merah (Musa normalis L) sebagai Sereal untuk Balita Obesitas Usia 4–5 Tahun. Pembimbing : Astutik Pudjirahaju dan Sulistiastutik. Prevalensi obesitas pada balita tahun 2007 mengalami peningkatan dari 12,2% menjadi 14,0% dan terjadi penurunan pada tahun 2013 yaitu 11,8%. Obesitas pada balita disebabkan oleh asupan makanan yang berlebih. Faktor resiko yang lebih besar yaitu konsumsi unhealthy food seperti susu full cream karena memiliki kandungan whey protein dan estrone yang menyebabkan kegemukan/obesitas. Kecambah kedelai mengandung soy protein yang dapat menurunkan berat badan 1,1 kali lebih tinggu dibandingkan dengan whey protein yang terdapat pada makanan. Pisang kepok merah mengandung karbohidrat pati tinggi yang dapat meningkatkan mutu produk pangan. Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis pengembangan tepung kecambah kedelai dan tepung pisang kepok merah sebagai sereal terhadap balita obesitas usia 4-5 tahun. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang tesusun atas 3 taraf perlakuan yaitu proporsi tepung kecambah kedelai : tepung pisang kepok merah adalah 30 : 70 (P1), 35 : 75 (P2), dan 40 : 60 (P3). Penelitian ini dlaksanakan pada bulan Februari 2017. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa proporsi tepung kecambah kedelai memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap nilai energi, mutu kimia (kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan kadar serat) dan mutu organoleptik (warna, rasa, dan tekstur) sereal pengembangan. Sedangkan mutu oragnoleptik (aroma) memberikan pengaruh yang signifikan. Sereal pengembangan dengan proporsi tepung kecambah kedelai : tepung pisang kepok merah sebesar 30 : 70 telah memenuhi persyaratan SNI susu sereal yaitu SNI-01-4270-1996 kecuali protein dan serat dengan nilai energi 416 Kalori/100g; kadar air 2,2 g/100g; kadar abu 4,0 g/100g; kadar protein 3,3 g/100g; kadar lemak 8,2 g/100g; kadar karbohidrat 82,4 g/100g sehingga dapat digunakan untuk balita obesitas usia 4-5 tahun. Takaran saji sereal pengembangan 30 gram sereal dan penambahan susu kedelai 100 ml dengan frekuensi pemberian 1-2 kali sehari. Kata kunci : Obesitas, sereal, tepung kecambah kedelai, tepung pisang kepok merah.
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PENGEMBANGAN TEPUNG KECAMBAH KEDELAI (Glysine max) DAN TEPUNG PISANG KEPOK MERAH (Musa normalis L) SEBAGAI SEREAL UNTUK PENDERITA INTOLERANSI LAKTOSA USIA 2 – 3 TAHUN

Lihat Detail Karya
Penulis: LILIK NURUL FADLILAH
NIM: 1303410018
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA IV GIZI
Dosen Pembimbing: Sulistiastutik dan Astutik Pudjirahaju.
Subjek: intoleransi laktosa, sereal, tepung kecambah kedelai, tepung pisang kepok merah.
Lihat Abstraksi
ABSTRAK LILIK NURUL FADLILAH. Pengembangan Tepung Kecambah Kedelai (Glysne max) dan Tepung Pisang Kepok Merah (Musa normalis L) sebagai Sereal untuk Penderita Intoleransi Laktosa Usia 2 – 3 Tahun. Pembimbing : Sulistiastutik dan Astutik Pudjirahaju. Prevalensi intoleransi laktosa di Indonesia tahun 2005 pada bayi baru lahir sebesar 72,2%, anak usia 1 bulan – 2 tahun sebesar 51,3%, dan anak usia 2 – 6 tahun sebesar 72%. Tingginya angka prevalensi intoleransi laktosa pada anak usia diatas 2 tahun maka diperlukan suatu upaya untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan oleh intoleransi laktosa melalui pemilihan jenis makanan tidak mengandung laktosa dari bahan pangan lokal yaitu sereal kecambah kedelai dan pisang kepok merah. Kecambah kedelai mengandung protein hingga dapat mencapai 40% dan meningkatkan daya cerna protein. Pisang kepok merah mengandung karbohidrat cukup tinggi dan jenis pati resisten sehingga dapat digunakan sebagai terapi pencegahan untuk penyakit saluran pencernaan, salah satunya adalah intoleransi laktosa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengembangan tepung kecambah kedelai dan tepung pisang kepok merah sebagai sereal untuk penderita intoleransi laktosa usia 2 – 3 tahun. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen murni dengan menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang tesusun atas 3 taraf perlakuan yaitu proporsi tepung kecambah kedelai : tepung pisang kepok merah adalah 25 : 75 (P1), 30 : 70 (P2), dan 35 : 65 (P3). Penelitian ini dlaksanakan pada bulan Desember 2016 – Februari 2017. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa proporsi tepung kecambah kedelai memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap nilai energi, mutu kimia (kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat) dan mutu organoleptik (warna, aroma, rasa, dan tekstur) sereal pengembangan. Sereal pengembangan dengan proporsi tepung kecambah kedelai : tepung pisang kepok merah sebesar 30 : 70 telah memenuhi persyaratan SNI susu sereal yaitu SNI-01-4270-1996 kecuali protein dengan nilai energi 418 Kalori/100g; kadar protein 3,8 g/100g; kadar lemak 7,5 g/100g; kadar karbohidrat 83,7 g/100g; kadar air 2,5 g/100g; kadar abu 1,5 g/100g sehingga telah sesuai untuk penderita intoleransi laktosa usia 2 – 3 tahun. Takaran saji sereal pengembangan 15 gram sereal dan penambahan susu kedelai 100 ml dengan frekuensi pemberian 1 - 2 kali sehari. Kata kunci : intoleransi laktosa, sereal, tepung kecambah kedelai, tepung pisang kepok merah.
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PENGGUNAAN MEDIA LEMBAR BALIK UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN KADER POSYANDU DI DESA KARANGNONGKO KECAMATAN PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: NABILLA AMALLIA SETYANINGTYAS
NIM: 1403000053
Program Studi: DIPLOMA III GIZI
Dosen Pembimbing: Hasan Aroni SKM, MPH
Subjek: Penyuluhan, Kader Posyandu, Media Lembar Balik, Pengetahuan, Keterampilan
Lihat Abstraksi
Nabilla Amallia Setyaningtyas, 2017. “Penggunaan Media Lembar Balik untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Kader Posyandu di Desa Karangnongko Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang”. (Di bawah Bimbingan : Hasan Aroni SKM, MPH.) Berdasarkan laporan Baseline data 2016 di Desa Karangnongko Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang didapatkan data dari 60 balita (0-59 bulan) ditemukan 22% balita pendek dan 44% balita sangat pendek. Dan diketahui bahwa semua kader posyandu balita tidak terampil dalam melakukan pengukuran panjang/tinggi badan bayi/balita. Data tersebut menunjukkan prevalensi balita pendek (stunting) di Desa Karangnongko masih sangat tinggi, sehingga diharapkan peran kader untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang pengukuran panjang/tinggi badan bayi/balita. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan kajian penelitian tentang penggunaan media lembar balik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu di Desa Karangnongko Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan di Desa Karangnongko Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang pada tanggal 26 April 2017. Jenis penelitian ini adalah adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian Non-Randomized Control Group Pre test-Post test Design. Intrumen yang digunajan adalah kuesioner Pre-Test, PostTest dan media lembar balik. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 18 responden. Dimana 9 orang untuk kelompok eksperimen (penyuluhan dengan media lembar balik) dan 9 orang untuk kelompok kontrol (penyuluhan tanpa media lembar balik). Hasil peneliian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada tingkat pengetahuan dan keterampilan setelah antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen dengan tingkat kepercayaan 95%. Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada pihak Puskesmas untuk dapat mengembangkan media lembar balik dengan materi yang lebih beragam dalam penyuluhan dan pelatihan kader posyandu.. Kata kunci : Penyuluhan, Kader Posyandu, Media Lembar Balik, Pengetahuan, Keterampilan
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PENYEDIAAN SOP FORMULIR INFORMED CONSENT UNTUK MENINGKATKAN KELENGKAPAN FORMULIR INFORMED CONSENT DI RSUD DR R SOEDARSONO PASURUAN

Lihat Detail Karya
Penulis: BAGYARATRI MAULIDATUL HIKMAH
NIM: 1404000057
Program Studi: DIII PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
Dosen Pembimbing: Achmad Zani Pitoyo M.Kes, MMRS
Subjek: Kelengkapan formulir Informed Consent, Standart Operating Procedure (SOP)
Lihat Abstraksi
Bagyaratri Maulidatul Hikmah, 2017. “Penyediaan Standart Operating Procedure (SOP) Formulir Informed Consent untuk Meningkatkan Kelengkapan Formulir Informed Consent di RSUD Dr. R. Soedarsono Pasuruan”. (Pembimbing Achmad Zani Pitoyo M.Kes, MMRS). Kelengkapan data pada formulir Informed Consent sangat penting karena mempengaruhi mutu rekam medis serta dapat digunakan sebagai alat bukti dalam bidang hukum. Berdasarkan studi awal yang peneliti lakukan di RSUD Dr. R. Soedarsono Pasuruan menunjukkan ada beberapa formulir Informed Consent yang tidak terisi dengan lengkap dan ada beberapa formulir Informed Consent yang sudah terisi dengan lengkap dikarenakan tidak adanya Standard Operating Procedure pada formulir Informed Consent sehingga belum ada patokan yang digunakan untuk pengisian formulir Informed Consent. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rangkaian eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan non equivalent control group. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah checklist yang digunakan untuk mendapat data kelengkapan pengisian formulir Informed Consent sebelum dan sesudah menggunakan Standard Operating Procedure formulir Informed Consent. Sampel dalam penelitian ini adalah 50 formulir rekam medis Informed Consent. Dari hasil uji statistik menggunakan Paired T Test didapat hasil signifikan 0.000, artinya nilai sig. lebih kecil dari nilai tingkat signifikasi yaitu 0.05 sehingga Ho ditolak dengan kata lain ada perbedaan kelengkapan pengisian formulir Informed Consent sebelum dan sesudah menggunakan Standart Operating Procedure formulir Informed Consent di RSUD Dr. R. Soedarsono Pasuruan. Kata kunci : Kelengkapan formulir Informed Consent, Standart Operating Procedure (SOP)
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PENYUSUNAN BUKU PANDUAN EVALUASI KELENGKAPAN DOKUMEN REKAM MEDIS RAWAT INAP DALAM PEMENUHAN STANDAR AKREDITASI JCI (JOINT COMMISSION INTERNATIONAL) DI RUMAH SAKIT LAVALETTE MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: NOVA DWI CAHYANINGSIH
NIM: 1404000041
Program Studi: DIII PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
Dosen Pembimbing: Bernadus Rudy Sunindya, MPH
Subjek: Analisa Rekam Medis, Elemen Penilaian JCI / KARS 2012
Lihat Abstraksi
Cahyaningsih, Nova Dwi, 2017. “Penyusunan Buku Panduan Evaluasi Kelengkapan Dokumen Rekam Medis Rawat Inap dalam Pemenuhan Standar Akreditasi JCI (Joint Commission International)” di Rumah Sakit Lavalette Malang Tahun 2017. Laporan Tugas Akhir DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Dosen Pembimbing : Bernadus Rudy Sunindya, MPH. Latar Belakang. Banyak faktor yang mendukung keberhasilan program akreditasi yang dilakukan atau untuk mempertahankan pengakuan akreditasi di sebuah Rumah Sakit. Salah satu dari penilaian akreditasi adalah kelengkapan dokumen rekam medis yang sesuai dengan elemen penilaian dari standar JCI. Tujuan penelitian ini mengetahui dan menjelaskan kelengkapan dokumen rekam medis rawat inap sesuai elemen penilaian standar JCI/KARS 2012. Metodologi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian PreExperimental Design, dengan metode observasi dan pendekatan kuantitatif secara cross-sectional serta diolah menggunakan uji statistik Chi Square. Hasil. Dari 30 sampel terdapat kenaikan prosentase kelengkapan pada dokumen rekam sesuai KARS 2012 yakni sebesar 30%. Begitu juga pada hasil kelengkapan dari masing-masing elemen standar JCI, yakni terjadi kenaikan pada elemen APK (Akses ke Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan) sebesar 18%, HPK (Hak Pasien dan Keluarga) sebesar 26%, AP (Assesmen Pasien) sebesar 26%, PP (Pelayanan Pasien) sebesar 21%, PAB (Pelayanan Anestesi dan Bedah) sebesar 41%, MPO (Manajemen Penggunaan Obat) sebesar 7%, PPK (Pendidikan Pasien dan Keluarga) sebesar 14%, PMKP (Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien) 10%, SKP (Sasaran Keselamatan Pasien sebesar 0% dan MKI (Manajemen Komunikasi dan Informasi) sebesar 80%. Saran. Buku panduan dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan prosentase kelengkapan dokumen rekam medis berpacu pada KARS 2012. Perlunya kesadaran dan kedisiplinan kepada petugas pengisi rekam medis, sosialisasi kepada petugas pencatat dokumen rekam medis akan arti pentingnya kelengkapan pengisian dokumen rekam medis dalam program akreditasi. Sebaiknya petugas pencatat dokumen rekam medis meneliti kembali dokumen rekam medis sebelum meninggalkan bangsal. Kata Kunci : Analisa Rekam Medis, Elemen Penilaian JCI / KARS 2012
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PENYUSUNAN POCKET GUIDE KODEFIKASI DIAGNOSIS KELOMPOK PENYAKIT MATERNAL PERINATAL DI RUMAH SAKIT BAPTIS BATU

Lihat Detail Karya
Penulis: LIA ILMIANA
NIM: 1404000048
Program Studi: DIII PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
Dosen Pembimbing: dr. Endang Sri Dewi H.S., M.Qih
Subjek: Pocket Guide, Keakuratan kode diagnosis maternal perinatal.
Lihat Abstraksi
Lia Ilmiana, 2017. “Penyusunan Pocket Guide Kodefikasi Diagnosis Kelompok Penyakit Maternal Perinatal di Rumah Sakit Baptis Batu”. D-III Perekam Medis dan Informasi Kesehatan. (Dibawah bimbingan dr. Endang Sri Dewi H.S., M.QIH). Penggunaan kode yang tepat harus ditegakkan untuk mengidentifikasi diagnosis yang spesifik dan prosedur klinik pada klaim, pengisian formulir, dan transaksi elektronik lainnya. Di Rumah Sakit Baptis Batu petugas koding tidak melakukan kodefikasi penyakit dengan lengkap, seharusnya dikode 4 digit tetapi hanya dikode 3 digit saja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan keakuratan hasil kodefikasi diagnosis kelompok penyakit maternal-perinatal sebelum dan sesudah penggunaan pocket guide kodefikasi diagnosis pada kelompok penyakit maternalperinatal. Rancangan penelitian menggunakan Pra Eksperimen One Group Pretest Posttest dengan membandingkan hasil kodefikasi sebelum dan sesudah penggunaan Pocket Guide. Alat ukur pada penelitian ini berupa checklist, kalkulator dan wawancara. Sampel penelitian sebesar 60 berkas rekam medis rawat inap (30 maternal dan 30 perinatal). Uji Analisis data menggunakan Uji-Z Independen didapatkan nilai sig. 0,000 (untuk maternal) dan 0,020 (untuk perinatal) yang keduanya < 0,05 berarti terdapat kenaikan yang signifikan prosentase keakuratan kodefikasi kelompok penyakit maternal perinatal sebelum dan sesudah penggunaan Pocket Guide. Pocket Guide ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam menentukan kode diagnosis kelompok penyakit maternal perinatal di Rumah Sakit Baptis Batu. Kata Kunci : Pocket Guide, Keakuratan kode diagnosis maternal perinatal.
Cover KTI
tidak tersedia
2017

PENYUSUNAN STANDART OPERASIONAL PROSEDUR PEMINJAMAN BERKAS REKAM MEDIS DI RSUD DR. R SOEDARSONO PASURUAN

Lihat Detail Karya
Penulis: LUSIANA DEVI ARIYANTI
NIM: 1404000039
Program Studi: DIII PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
Dosen Pembimbing: Bernadus Rudy Sunindya, MPH.
Subjek: SOP,REKAMMEDIS.
Lihat Abstraksi
Ariyanti, Lusiana Devi, 2017. Penyusunan Standart Operasional Prosedur Peminjaman Berkas Rekam Medis Di RSUD Dr. R Soedarsono Pasuruan. Laporan Tugas Akhir DIII-Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Polteknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing : Bernadus Rudy Sunindya, MPH. Ketersedian berkas rekam medis secara cepat dan tepat pada saat dibutuhkan akan sangat membantu mutu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien, maka dari itu masalah penyimpanan berkas merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Jika sistem penyimpanan berkas rekam medis yang dipakai kurang baik maka akan timbul masalah-masalah yang dapat mengganggu ketersediaan berkas rekam medis secara cepat dan tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Adanya peningkatan kualitas efisiensi pelayanan yang ada di RSUD Dr R Soedarsono terkait sesudah dan sebelum adanya Standart Operasional Prosedur Peminjaman Berkas Rekam Medis guna menunjang kegiatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu (Quasi Experiment Design). Variabel bebas dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah Peminjaman Berkas Rekam Medis. Variabel terikat dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah Penyusunan SOP. jumlah sampel adalah keseluruhan jumlah populasi yang diteliti yaitu sebanyak 35 dokumen rekam medis rawat inap di RSUD dr R Soedarsono Pasuruan. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah menggunakan Uji Beda Proporsi yaitu menggunakan Uji Komogorov-Smirnov Z atau sering disebut dengan Uji Z. Pengambilan data yang dilakukan untuk mengetahui kelengkapan peminjaman berkas sebelum dan setelah dilakukan penyusunan SOP peminjaman berkas rekam medis di RSUD dr R Soedarsono Pasuruan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa check list.
Cover KTI
2017

PERAN IBU DALAM PEMBERIAN NUTRISI PADA ANAK AUTIS DI PUSAT TERAPI A PLUS MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: INDAH STYARINI
NIM: 1401100048
Program Studi: D III KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Rossyana Septyasih, S.Kp, M.Pd,Tutik Herawati, S.Kp., M.M
Subjek: Peran Ibu, Nutrisi, Anak Autisme
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Peran Ibu Dalam Pemberian Nutrisi Pada Anak Autis Di Pusat Terapi A Plus Malang (Studi Kasus Deskriptif). Indah Styarini (2017) Karya Tulis Ilmiah, Program Studi Diploma III Keperawatan Malang, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing (Utama) Rossyana Septyasih, S.Kp, M.Pd, (Pendamping) Tutik Herawati, S.Kp., M.M Autisme merupakan gangguan perkembangan pada interaksi sosial dan perilaku. Terdapat beberapa kandungan nutrisi yang tidak dapat secara bebas dikonsumsi oleh seorang anak autis. terapi diet yang dianjurkan pada autisme adalah diet bebas gluten dan bebas kasein. Ibu berperan dalam memilihkan nutrisi yang dapat dan boleh dikonsumsi oleh anak autis. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan apa peran seorang ibu dalam pemberian nutrisi pada anak auitis. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif observasional. Subjek penelitian sebanyak dua orang. Metode penelitian menggunakan teknik wawancara dan observasi. Pengambilan data dilakukan sebanyak 4 kali kunjungan. Subjek penelitian yaitu Ibu V dan Ibu M. Peran Ibu dalam pemberian nutrisi pada anak autis dilaksanakan dengan tidak memberikan makanan yang mengandung glutein dan kasein. Ibu M membuat jadwal menu makanan yang akan diberikan pada anaknya selama satu minggu, sementara Ibu V memilih menu makanan tanpa terencana jauh hari sebelumnya dan masih diberikannya bumbu makanan yang mengandung pengawet oleh Ibu V. Rekomendasi bagi peneliti selanjutnya adalah untuk bisa melakukan studi kasus lebh lanjut tentang peran ibu dalam pemberian nutrisi pada anak autis dengan penambahan dan modifikasi pada lembar wawancara dan lembar observasi untuk mengetahui lebih dalam peran yang dijalankan. Kata Kunci: Peran Ibu, Nutrisi, Anak Autisme
Cover KTI
2017

PERAN IBU DALAM PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PADA ANAK SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PENYULUHAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DINOYO MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: MUKHTAMILATUR ROHMA
NIM: 1401100042
Program Studi: DIII KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Wahyuningsri, SPd, M. Kes, Joko Pitoyo, S. Kp, M.Kep.
Subjek: Peran ibu, Tuberkulosis.
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Peran Ibu Dalam Pencegahan Tuberkulosis Pada Anak Sebelum dan Sesudah dilakukan Penyuluhan Di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Malang. Mukhtamilatur Rohma (2017). Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus Deskriptif. Program Studi DIII Keperawatan Malang. Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing (Utama) Wahyuningsri, SPd, M. Kes, (Pendamping) Joko Pitoyo, S. Kp, M.Kep. Kata Kunci : Peran ibu, Tuberkulosis. Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium Tuberkulosis. Penderita tuberkulosis pada anak di bawah 15 tahun sebanyak 11% pada tahun 2011. Dampaknya sering timbul penyerta lain bahkan mengakibatkan kematian. Untuk mengatasi terjadinya tuberkulosis, peran ibu dalam pencegahan tuberkulosis pada anak sangat penting untuk mengurangi angka kejadian. Tujuan penelitian mengetahui dalam pencegahan tuberkulosis anak meliputi peran ibu sebagai penyedia, dalam merawat anak, dalam pengembangan sosialisasi anak, dan peran terapeutik. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Dinoyo dan dilakukan pada tanggal 5 Juni sampai 8 Juni 2017. Metode penelitian studi kasus deskriptif dengan 2 subjek penelitian. Pengumpulan data menggunakan cara wawancara terbuka dan checklist observasi. Hasil penelitian peran subjek 1 sebelum penyuluhan kurang, sesudah penyuluhan peran masih kurang, tetapi ada perubahan sebelum penyuluhan peran sebagai pengembang sosialisasi anak belum dilakukan, sesudah penyuluhan mampu melakukan. Subjek 2 sebelum penyuluhan kurang, sesudah penyuluhan peran masih kurang, tetapi ada perubahan sebelum dilakukan penyuluhan peran sebagai penyedia belum dilakukan, sesudah penyuluhan mampu melakukan. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya perlu dilakukan penelitian terkait tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian peningkatan tuberkulosis pada anak.
Cover KTI
2017

PERAN KADER POSYANDU (SUBYEK I, II DAN III) DALAM DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA DI POSYANDU DEWI RATIH WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAKISAJI

Lihat Detail Karya
Penulis: F. DIMAS GALIH BAGUSKARA
NIM: 1401100071
Program Studi: KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Rossyana Septyasih, S.Kp, M.Pd, Ngesti W Utami, S.Kp, M.Pd.
Subjek: Peran Kader, Deteksi Dini Tumbuh Kembang, Anak Balita
Lihat Abstraksi
ABSTRAK F. Dimas Galih Baguskara (2017). Peran Kader Posyandu (Subyek I, II, dan III) Dalam Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita Di Posyandu Dewi Ratih Wilayah Kerja Puskesmas Pakisaji. Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus, Program Studi DIII Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing (Utama) Rossyana Septyasih, S.Kp, M.Pd, (Pendamping) Ngesti W Utami, S.Kp, M.Pd. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan yang saat ini terjadi di Negara Indonesia. Dalam Upaya Kesehatan Anak diperlukan peran aktif masyarakat baik secara perseorangan maupun terorganisasi, peran aktif masyarakat dapat dilakukan melalui kader posyandu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi peran kader posyandu dalam deteksi dini tumbuh kembang anak. Penelitian ini adalah deskriptif studi kasus dengan 3 subyek penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara bebas terpimpin dan observasi kegiatan posyandu dalam pengambilan datanya. Data yang disajikan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subyek I dan subyek II mempunyai peran cukup baik dan subyek III mempunyai peran baik. Hasil observasi kegiatan posyandu cukup baik, posyandu dilakukan secara rutin. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah dengan mengetahui peran orang tua terhadap tumbuh kembang anak karena orang tua yang selalu bertemu dan berinteraksi dengan anak. Kata Kunci: Peran Kader, Deteksi Dini Tumbuh Kembang, Anak Balita
Chatbot Perpustakaan
📚

Perpustakaan Digital

Poltekkes Kemenkes Malang

Halo đź‘‹

Selamat datang di layanan digital perpustakaan.

Sistem ini membantu pencarian informasi perpustakaan secara cepat dan otomatis.

Contoh pertanyaan:
• cara menjadi anggota perpustakaan
• cara cek plagiarisme
• Jam buka perpustakaan