Perpustakaan Terpadu Poltekkes Kemenkes Malang
🇮🇩 ID | 🇬🇧 EN

Karya Ilmiah Mahasiswa

Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.

Reset
Menampilkan 3921–3930 dari 5188 KTI mahasiswa
Cover KTI
2017

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PENCEGAHAN PENULARAN SKABIES PADA SANTRIWATI SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DI PONDOK PESANTREN AN – NUR 1 BULULAWANG KABUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: Hanna Yuliana
NIM: 1401100112
Program Studi: D-III KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Tanto Hariyanto., S.Kep. Ns., M.Biomed,Fiashriel Lundy, S.Kep, Ns, M.Kes.
Subjek: Perilaku, pengetahuan, pencegahan skabies
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Gambaran Pengetahuan Dan Perilaku Pencegahan Penularan Skabies Pada Santriwati Sebelum Dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Di Pondok Pesantren An – Nur 1 Bululawang Kabupaten Malang. Hanna Yuliana (2017). Karya Tulis Ilmiah Deskriptif Studi Kasus, Progam Studi DIII Keperawatan Malang, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing (Utama) Tanto Hariyanto., S.Kep. Ns., M.Biomed, pembimbing (Pendamping) Fiashriel Lundy, S.Kep, Ns, M.Kes. Skabies merupakan infeksi kulit yang biasanya terdapat pada populasi yang padat. Pondok pesantren adalah salah satu komunitas yang beresiko terjadinya skabies. Kurangnya pengetahuan tentang pencegahaan skabies di pondok pesantren dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya penularan skabies. Pendidikan kesehatan sangat penting untuk merubah perilaku seseorang terhadap pencegahan penularan skabies. Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi pengetahuan dan perilaku pencegahan penularan skabies pada santriwati di Pondok Pesantren An – Nur 1 Bululawang Kabupaten Malang sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Penelitian ini adalah deskriptif studi kasus dengan 2 subyek penelitian yang dilakukan 14 April sampai 2 Juni 2017. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara terstruktur dengan pertanyaan terbuka dalam pengambilan data dengan instrumen yang telah dipersiapkan. Teknik analisa data kualitatif disajikan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Responden 1 (Sdr.L) pengetahuan dan perilaku pencegahan penularan skabies tidak mengalami perubahan setelah diberikan pendidikan kesehatan. Sedangkan Responden 2 (Sdr. D) pengetahuan dan perilaku pencegahan penularan skabies mengalami perubahan setelah diberikan pendidikan kesehatan. Rekomendasi untuk penghuni pondok pesantren adalah lebih meningkatkan perilaku pencegahan dalam menjaga kebersihan badan, selalu mencuci tangan, menjaga kebersihan pakaian, dan menjaga kebersihan lingkungan. Kata Kunci: Perilaku, pengetahuan, pencegahan skabies, pendidikan kesehatan vi
Cover KTI
2017

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN UPAYA PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA WANITA PREMENOPAUSE SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DI KELURAHAN BLIMBING KOTA MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: LUTFI LESTARI
NIM: 1401100066
Program Studi: D-III KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Ngesti W Utami, S.Kp,M.Pd. Setyo Harsoyo, SKM, M.Kes.
Subjek: Osteoporosis, Upaya Pencegahan
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Gambaran Pengetahuan dan Upaya Pencegahan Osteoporosis Pada wanita Premenopause Sebelum dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan di Kelurahan Blimbing Kota Malang. Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus oleh Lutfi Lestari, NIM 1401100066, Program Studi Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing (Utama) Ngesti W Utami, S.Kp,M.Pd. Pembimbing (Pendamping) Setyo Harsoyo, SKM, M.Kes. Kata Kunci : Osteoporosis, Upaya Pencegahan Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai dengan menurunya massa tulang secara keseluruhan akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan Upaya pencegahan osteoporosis pada wanita premenopause sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Desain penelitian ini adalah Studi Kasus. Subyek penelitian berjumlah 2 orang yaitu Ny.Y (41 tahun) dan Ny.W (44 tahun). Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian upaya pencegahan osteoporosis pada kedua responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan masih kurang, responden jarang melakukan olahraga dan mengonsumsi makanan tinggi kalsium hal ini dikarenakan masih kurangnya pengetahuan kedua respoden tersebut. Sedangkan setelah diberikan pendidikan kesehatan dan dilakukan demonstrasi senam osteoporosis selama 3x pertemuan kedua responden sudah mengetahui dan mulai melakukan beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam upaya mencegah osteoporosis seperti yang sudah diajarkan oleh peneliti, seperti mengonsumsi makanan berkalsium dan melakukan senam osteoporosis. Saran kedepan adalah pentingnya peran perawat untuk meningkatkan pengetahuan dan menekankan kepada masyarakat pentingnya tindakan pencegahan itu sendiri, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Bagi pendidikan keperawatan sebaiknya saat praktik lapangan lebih di tekankan pada pencegahan pencegahan penyakit yang selama ini dianggap biasa seperti osteoporosis, karena keluarga merupakan orang terdekat untuk saling mengingatkan dalam mencegah osteoporosis. Rekomendasi peneliti adalah diharapkan peneliti selanjutnya jika memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan kepadatan tulang untuk mengetahui sejak dini terjadinya osteoporosis.
Cover KTI
2017

GAMBARAN PERAN KELUARGA DALAM PENCEGAHAN DEKUBITUS PADA PASIEN CVA SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGKANDANG

Lihat Detail Karya
Penulis: Arif Wahyudianto
NIM: 1401100022
Program Studi: PRODI DIII KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: (1) Joko Pitoyo, S.Kp.M.Kep (2) Fiashriel Lundy S.Kep.,Ns,M.Kes.
Subjek: Peran Keluarga, Pencegahan Dekubitus, penderita CVA, Pendidikan Kesehatan
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Peran Keluraga Dalam Pencegahan Dekubitus Pada Pasien CVA Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungkandang Kota Malang. Arif Wahyudianto (2017) Karya Tulis Ilmiah Deskriptif Studi Kasus. Program studi Diploma III Keperawatan Malang, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing: (1) Joko Pitoyo, S.Kp.M.Kep (2) Fiashriel Lundy S.Kep.,Ns,M.Kes. Dekubitus merupakan luka tekan pada jaringan lunak yang disebabkan kompresi pada jaringan lunak diatas tulang yang menojol dalam jangka waktu lama. Seseorang penderita CVA cenderung mengalami gangguan mobilitas fisik sehingga resiko terjadi dekubitus. Oleh karena itu, peran keluarga sangat penting. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran keluarga dalam pencegahan dekubitus pada pasien CVA sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, dengan mengambil 1 (satu) subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, menggunakan kuisioner dan observasi. Hasil penelitian ini sebelum diberikan pendidikan kesehatan pengetahuan dan peran responden dalam kategori cukup. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan pengetahuan dan peran responden meningkat. Kesimpulan penelitian ini yaitu peran keluarga meningkat dalam pencegahan dekubitus. Rekomendasi penelitian ini yaitu pendidikan kesehatan tentang pencegahan dekubitus dilakukan pada semua masyarakat yang mempunyai keluarga yang menderita CVA maupun tidak dan sebaiknya juga ditambahkan motivasi mengubah peran keluarga. Kata Kunci: Peran Keluarga, Pencegahan Dekubitus, penderita CVA, Pendidikan Kesehatan
Cover KTI
2017

GAMBARAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT PADA WARGA BINAAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IA LOWOKWARU MALANG SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT

Lihat Detail Karya
Penulis: ADI AJENG AYU AMBARISKA
NIM: 1401100078
Program Studi: DIPLOMA III KEPERAWATAN
Dosen Pembimbing: Tavip Dwi Wahyuni S.Kep., Ns, M.Kes, Drs. MZ. Rachman, SST., M.Kes
Subjek: prilaku hidup bersih sehat,pendidikan kesehatan,warga binaan lembaga permasyarakatan
Lihat Abstraksi
PHBS yaitu suatu tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatanya meliputi tindakan pencegahan seperti pemberian Pendidikan kesehatan mengenai PHBS. Gambaran Perilaku Hidup Bersih Sehat Pada Warga Binaan Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan ini menggunakan Metode penelitian deskriptif studi kasus.yang dilakukan dengan instrument penelitian Kuesioner, observasi, dan wawancara. Subjek penelitian ini menggunakan dua orang warga binaan yang bersedia menjadi subjek dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini di dapatkan gambaran PHBS pada warga binaan subjek 1 dan subjek 2 sebelum pendidikan kesehatan adalah kurang baik. Dan gambaran PHBS pada warga binaan setelah dilakukan pendidikan kesehatan adalah subjek 1 cukup baik dan subjek 2 kurang baik. Untuk meningkatkan kualitas kesehatan yang lebih baik dari warga binaan diharapkan adanya sarana dan prasarana yang menunjang kesehatan dengan bekerjasama bersama petugas kesehatan lainya untuk melakukan pemberian pendidikan kesehatan dan pengecekan kesehatan secara berkala.
Cover KTI
2017

GAMBARAN PERILAKU JAJAN PADA ANAK DENGAN KARIES GIGI DI SEKOLAH DASAR NEGERI 02 KARANGPANDAN KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG (STUDI KASUS)

Lihat Detail Karya
Penulis: Tegas Perwira Putra Arjanto
NIM: 1401100087
Program Studi: PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Fiashriel L, Skep Ns. M.Kes, Lenni Saragih.SKM.M.Kes.
Subjek: Perilaku Jajan, Karies Gigi, Anak sekolah
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Gambaran Perilaku Jajan Pada Anak Dengan Karies Gigi Di Sekolah Dasar Negeri 02 Karangpandan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Tegas Perwira Putra Arjanto (2017). Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus. Jurusan Keperawatan Program Studi Diploma III Keperawatan Malang. Pembimbing (Utama) Fiashriel L, Skep Ns. M.Kes, Pembimbing (Kedua) Lenni Saragih.SKM.M.Kes. Perilaku jajan yang tidak benar seperti jajan-jajan manis dapat mengganggu kesehatan gigi pada anak. Salah satu penyakit gigi yang disebabkan oleh perilaku jajan yang tidak benar yaitu karies gigi. Karies gigi adalah pembentukan lobang pada permukaan gigi yang disebabkan oleh kuman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku jajan pada anak dengan karies gigi di SDN 02 Karangpandan Kecamatan Pakisaji. Metode yang digunakan studi kasus, dengan teknik pengolahan data non statistik. Jumlah responden 2 orang. Pengambilan data dilakukan pada 15-24 juni 2017 di SDN 02 Karangpandan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang menggunakan lembar observasi dan lembar wawancara. Hasil penelitian menunjukkan dari 2 responden banyak mengkonsumsi makanan tinggi gula yang rata-rata dikonsumsi 5-6 macam/ hari dengan jumlah rata-rata 1-3bks/hari seperti permen, snak manis, coklat, wafer manis, biskuit, donat, jelly, dan es krim. Dari penelitian ini, diharapkan responden dapat mengurangi kebiasaan jajan yang manis-manis karena bisa menyebabkan karies gigi bertambah parah atau menyebabkan kekambuhan sakit gigi. Perawat puskesmas juga dapat memberikan pendidikan kesehatan dan meningkatkan kunjunganya ke SDN 02 Karangpandan Kecamatan Pakisaji. Kata Kunci: Perilaku Jajan, Karies Gigi, Anak sekolah
Cover KTI
2017

GAMBARAN PERILAKU PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH PADA REMAJA SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKAN PENYULUHAN DI PONDOK PESANTREN ASRAMA PUTRI NURUL UMMAH MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: LINDA ALFIANTI
NIM: 140110065
Program Studi: DIII KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Budi Susatia, S.Kp, M.Kes, Dr. Atti Yudiernawati, S.Kp, M.Pd.
Subjek: Perilaku Pencegahan Demam Berdarah, Remaja, Penyuluhan
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Linda Alfianti (2017). Gambaran Perilaku Pencegahan Demam Beradarah Pada Remaja Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan di Pondok Pesantren Asrama Putri Nurul Ummah Malang. Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus, Program Studi DIII Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing (Utama) Budi Susatia, S.Kp, M.Kes, (Pendamping) Dr. Atti Yudiernawati, S.Kp, M.Pd. Penyakit DBD merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan dapat disebabkan karena perilaku manusia, sehingga upaya yang dapat dilakukan dengan diberikan penyuluhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku pencegahan Demam Berdarah pada remaja sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan di pondok pesantren asrama putri Nurul Ummah Malang. Penelitian ini adalah deskriptif studi kasus dengan 4 subyek penelitian dan dilakukan pada 31 Mei-14 Juni 2017. Data disajikan dalam bentuk narasi dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan perilaku pencegahan DBD sebelum diberikan penyuluhan meliputi pengetahuan subyek I (1 poin), subyek II (0 poin), subyek III (2 poin), subyek IV (2 poin) dan keempatnya dalam kategori kurang. Hasil posttest I pengetahuan subyek I (2 poin) dalam kategori kurang, subyek II (3 poin), subyek III (4 poin), subyek IV (3 poin) dan ketiganya dalam kategori baik. Hasil posttest II pengetahuan keempat subyek dalam kategori baik, masing-masing (4 poin). Sikap dan tindakan sebelum diberikan penyuluhan subyek I, II, dan III dalam kategori negatif yaitu masing-masing (4 poin) sedangkan subyek IV dalam kategori positif (5 poin). Hasil posttest I sikap dan tindakan subyek I, III, IV dalam kategori positif dengan masing-masing (5 poin) sedangkan subyek II dalam kategori negatif (4 poin). Hasil posttest II sikap dan tindakan subyek I, II, IV dalam kategori positif dengan masing-masing mendapatkan (5 poin) sedangkan subyek III dalam kategori negatif (4 poin). Dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan perilaku positif pada subyek I, II, dan IV, sedangkan pada subyek III tetap negatif. Rekomendasi dalam penelitian ini adalah diharapkan pihak pondok pesantren dapat menyelenggarakan program POSKESTREN yang bekerjasama dengan pihak Puskesmas untuk memantau kebersihan lingkungan pondok pesantren dan kesehatan santri guna meningkatkan perilaku pencegahan DBD. Kata Kunci: Perilaku Pencegahan Demam Berdarah, Remaja, Penyuluhan
Cover KTI
tidak tersedia
2017

GAMBARAN PERKEMBANGAN PERILAKU HIPERAKTIF SETELAH DIBERIKAN TERAPI BERMAIN (SKILL PLAY) PADA ANAK DENGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS (GPPH)

Lihat Detail Karya
Penulis: RAFIDAH AZIZAH
NIM: 1401100060
Program Studi: PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Dr. Atti Yudiernawati, S.Kp, M.Pd, Dra. Goretti Maria Shindarti, M.Kes.
Subjek: Perkembangan Perilaku Hiperaktif, Terapi Bermain (Skill Play)
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Gambaran Perkembangan Perilaku Hiperaktif Setelah Diberikan Terapi Bermain (Skill Play) Pada Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas (GPPH). Rafidah Azizah (2017). Karya Tulis Ilmiah Deskriptif dengan Desain Studi Kasus Observasi Partisipasif. Program Studi D-III Keperawatan Malang. Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing Utama Dr. Atti Yudiernawati, S.Kp, M.Pd, Pembimbing Pendamping Dra. Goretti Maria Shindarti, M.Kes. Kata Kunci: Perkembangan Perilaku Hiperaktif, Terapi Bermain (Skill Play) Perkembangan perilaku tercermin dari kondisi fisik dan psikososial, yang dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, norma yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat. Pada masa perkembangan anak terdapat masalah klinis yang dapat terjadi. Salah satu masalah klinis yaitu perilaku hiperaktif. Untuk mengoptimalkan perkembangan perilaku hiperaktif dibutuhkan sebuah stimulasi yang sesuai. Terapi bermain (skil play) merupakan stimulasi yang tepat bagi anak. Tujuan studi kasus ini adalah mengetahui gambaran perkembangan perilaku hiperaktif yang sedang dilakukan terapi perilaku (behavior therapy) setelah diberikan terapi bermain (skill play) pada anak dengan GPPH. Subjek penelitian adalah satu orang anak sesuai dengan kriteria inklusi. Penelitian dilakukan pada tanggal 7 April - 16 April 2017 dengan menggunakan metode studi kasus deskriptif observatif partisipasif. Hasil studi kasus setelah dilakukan terapi bermain (skill play); bermain puzzle, menyusun balok, menyamakan kartu, dan meronce, An. B mengalami perkembangan perilaku pada poin subjek dapat menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai dan perhatiannya semakin meningkat. Dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami perkembangan perilaku hiperakktif ditandai dengan dapat berkonsentrasi setelah dilakukan terapi bermain (skill play). Rekomendasi: disarankan untuk peneliti selanjutnya perlu menambah waktu stimulasi yang lebih lama dan memilih permainan (skill play) yang paling efektif serta disukai oleh anak.
Cover KTI
tidak tersedia
2017

GAMBARAN POLA KONSUMSI SUMBER PROTEIN NABATI TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA PASIEN GOUT ARTHRITIS DI PUSKESMAS JANTI KOTA MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: RINI DUWI ASTUTIK
NIM: 1403000084
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA III GIZI
Dosen Pembimbing: drg. Rinawati Basuki, M.Kes
Subjek: Pola konsumsi, Sumber protein nabati, Kadar asam urat, Gout arthritis
Lihat Abstraksi
Abstrak: Gout adalah salah satu penyakit arthritis yang disebabkan oleh metabolisme abnormal purin yang ditandai dengan meningkatnya kadar asam urat dalam darah. Hal ini diikuti dengan terbentuknya timbunan kristal berupa garam urat di persendian yang menyebabkan peradangan sendi pada lutut dan atau jari. Salah satu penyebab gout arthritis adalah Pola makan. Pola makan kedua pasien dalam penelitian ini hampir mengarah kepada vegetarian karena kedua pasien lebih banyak mengonsumsi sumber protein nabati dari pada hewani. Sumber protein nabati yang biasa dikonsumsi kedua pasien adalah tahu dan tempe. Pola makan sumber protein nabati pada pasien A cukup tinggi yaitu 4,5 kali lebih besar dari ketetapan dengan tingkat konsumsi protein nabati sebesar 290,3% (lebih). Sehingga jumlah purin yang dikonsumsi juga tinggi yaitu 367,0 mg/hari. Hal ini menyebabkan kadar asam urat pasien A meningkat. Sedangkan pasien B tingkat konsumsi protein nabati sebesar 111,9% (normal) dengan jumlah sumber protein nabati yang dikonsumsi sebesar 0,07 kali lebih besar dari ketetapan. Walapun melebihi ketetapan nilai 0,07 ini tidak terlalu besar karena tidak sampai mencapai angka satu dan konsumsi purin masih jauh dari jumlah yang dianjurkan yaitu 83 mg. Sehingga kadar asam urat pasien B menurun. Kata Kunci: Pola konsumsi, Sumber protein nabati, Kadar asam urat, Gout arthritis .
Cover KTI
2017

GAMBARAN POLA MAKAN ANAK USIA SEKOLAH YANG MENGALAMI OBESITAS SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG POLA MAKAN SEHAT PADA KELUARGA (DESKRIPTIF STUDI KASUS)

Lihat Detail Karya
Penulis: LOVENDAH DAHLIA WASDANIK
NIM: 1401100041
Program Studi: PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: (1) Rossyana Septyasih, S.Kp., M.Pd (2) Roni Yuliwar, S.Kep., Ns., M.Ked.
Subjek: Anak Sekolah, Pola Makan, Obesitas
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Gambaran Pola Makan Anak Usia Sekolah Yang Mengalami Obesitas Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan Tentang Pola Makan Sehat Pada Keluarga. Lovendah Dahlia Wasdanik (2017) Karya Tulis Ilmiah Deskriptive Studi Kasus, Program Studi Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing: (1) Rossyana Septyasih, S.Kp., M.Pd (2) Roni Yuliwar, S.Kep., Ns., M.Ked. Kata Kunci: Anak Sekolah, Pola Makan, Obesitas Anak berusia 6-12 tahun atau yang sering disebut sebagai usia sekolah, pada tahap ini terjadi perkembangan fisik, mental, dan sosial yang kontinu, disertai penekanan pada perkembangan kompetensi keterampilan. Pola makan tidak teratur seperti porsi yang berlebihan yang tidak terkontrol dan menjadi suatu kebiasaan pada anak sehingga menyebabkan status gizi pada anak akan menjadi lebih. Obesitas atau kegemukan terjadi pada saat badan menjadi gemuk (obese) yang disebabkan penumpukan jaringan adipose secara berlebihan. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui gambaran pola makan anak usia sekolah yang mengalami obesitas sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tentang pola makan sehat pada keluarga. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif studi kasus dengan 2 responden. Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu pada tanggal 22 Mei-17 Juni 2017 menggunakan instrument berupa metode wawancara dan lembar food recall. Hasil pengolahan data pada penelitian ini sebelum dilakukan pendidikan kesehatan yaitu An. N memenuhi rata-rata asupan kalori 2.591,9 kkal perhari dan An. V memenuhi rata-rata asupan kalori 2.569,2 kkal perhari. Sesudah di lakukan pendidikan kesehatan terdapat perubahan pola makan pada An. N dalam aspek frekuensi, jumlah, jenis, perilaku makan dan rata-rata asupan kalori menjadi 1.075,38 kkal. Sedangkan pada An. V terdapat perubahan pola makan dalam aspek frekuensi, jenis, perilaku makan dan rata-rata asupan kalori menjadi 1.170,88 kkal. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya adalah melakukan penelitian tentang hubungan antara perilaku makan dan tingkat aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak usia sekolah.
Cover KTI
tidak tersedia
2017

GAMBARAN POLA MAKAN BALITA, TINGKAT KONSUMSI (ENERGI, PROTEIN), DAN STATUS GIZI BALITA USIA 24 – 36 BULAN DI DESA TAWANG KECAMATAN WATES KABUPATEN KEDIRI

Lihat Detail Karya
Penulis: DEA ARISTA AGUSTINA
NIM: 1403000070
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA III GIZI
Dosen Pembimbing: I Nengah Tanu Komalyna.
Subjek: Pola Makan , Tingkat Konsumsi , Status Gizi.
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Dea Arista Agustina, 20017. Gambaran Pola Makan Balita, Tingkat Konsumsi(Energy,Protein), dan status Gizi Balita Usia 24-36 Bulan di Desa Tawang Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Karya Tulis Ilmiah, Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing: I Nengah Tanu Komalyna. Masalah status gizi pada balita di Desa Tawang Kecamatan Wates Kabupaten Kediri menurut BB/U 15,2 % balita di Desa Tawang mengalami masalah yaitu status gizi kurang di antaranya balita BGM ( Bawah Garis Merah ) dan 23,8% balita di Desa Tawang berstatus gizi kurus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pola makan balita, tingkat konsumsi (energy,protein) dan status gizi balita usia 24-36 bulan. Penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif dengan menggunakan desain cross sectional. Penelitian ini di laksanakan pada bulan februari 2017 di Desa Tawang Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Populasi semua anak balita yang berusia 24-36 bulan. Sampel balita yang berusia 24-36 bulan sebanyak 35 responden yang datang ke posyandu pada bulan februari . Hasil penelitian menunjukan Gambaran tingkat konsumsi energi menurut pola makan 86% balita mengkonsumsi nasi ≥ 1 kali/hari dengan tingkat konsumsi energy masuk dalam kategori defisit, dan 14% balita mengkonsumsi nasi ≥ 1 kali/hari masuk dalam kategori normal. Gambaran tingkat konsumsi protein menurut pola makan 55% responden mengkonsumsi protein nabati dan hewani 1-6 kali/minggu, tetapi tingkat konsumsi protein masih tergolong defisit. Gambaran status gizi menurut tingkat konsumsi energi responden 84% balita memiliki status gizi baik dengan tingkat konsumsi energy defisit.Gambaran status gizi menurut tingkat konsumsi protein responden 88% termasuk gizi baik dengan tingkat konsumsi protein defisit. Hal ini di sebabkan karena balita mengkonsumsi jajanan toko terlebih dahulu sebelum makan, sehingga balita kenyang terlebih dahulu, dan mengurangi nafsu makan balita tersebut. Untuk orang tua yang memiliki anak balita, sebaiknya membiasakan balitanya makan nasi sebelum mengkonsumsi jajanan toko, agar nafsu makan balita tidak hilang dan pola makan, tingkat konsumsiterpenuhisesuaikebutuhan. Kata Kunci : Pola Makan , Tingkat Konsumsi , Status Gizi.
Chatbot Perpustakaan
📚

Perpustakaan Digital

Poltekkes Kemenkes Malang

Halo 👋

Selamat datang di layanan digital perpustakaan.

Sistem ini membantu pencarian informasi perpustakaan secara cepat dan otomatis.

Contoh pertanyaan:
• cara menjadi anggota perpustakaan
• cara cek plagiarisme
• Jam buka perpustakaan