Perpustakaan Terpadu Poltekkes Kemenkes Malang
🇮🇩 ID | 🇬🇧 EN

Karya Ilmiah Mahasiswa

Jelajahi koleksi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.

Reset
Menampilkan 3741–3750 dari 5188 KTI mahasiswa
Cover KTI
2018

PERBEDAAN PENGETAHUAN SERTA ASUPAN 7AT GIZI IBU HAMIL SEBELUM DAN SESUDAH KONSELING GIZI DI DESA SITIREJO KECAMATAN WAGIR KEBUPATEN MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: Fitria Nur lndah Sari
NIM: 1503000040
Program Studi: DIPLOMA III GIZI
Dosen Pembimbing: HASAN ARONI
Subjek: Konseling Gizi, Pengetahuan, Asupan Zat Gizi
Lihat Abstraksi
Gambaran tingkat konsumsi pada ibu hamil di Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir yaitu energi sebesar 89% defisit berat, protein sebesar 90% defisit berat, lemak 67% defisit berat dan karbohidrat 78% defisit berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengetahuan serta asupan zat gizi ibu hamil sebelum dan sesudah konseling gizi. Metode penelitian menggunakan pre eksperimental dengan desain penelitian one group pre test-post test design. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sitirejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang pada bulan Januari-Februari 2018. Populasi ibu hamil sebanyak 40 orang dan sampel yang digunakan sebanyak 16 orang. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling gizi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap asupan karbohidrat (p=0,000), asupan protein (p=0,000) dan asupan lemak (p=0,007). Konseling gizi juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan ibu hamil (p=0,000). Asupan zat gizi ibu hamil menunjukkan adanya perubahan sebelum dan sesudah konseling gizi, namun peningkatan asupan makan ibu hamil masih belum memenuhi kebutuhan karena hanya porsi makan ibu hamil saja yang mengalami peningkatan namun masih belum sesuai dengan gizi seimbang. Pengetahuan ibu hamil dari sebelum dan sesudah konseling juga mengalami perubahan karena ibu hamil sudah mulai mengetahui dan memahami dengan materi yang diberikan saat proses konseling. Pemberian edukasi gizi terutama konseling gizi sebaiknya sering dilakukan untuk ibu hamil guna memperbaiki asupan dan pola makan ibu hamil yang akan berdampak terhadap status gizi. Kata Kunci : Konseling Gizi, Pengetahuan, Asupan Zat Gizi
Cover KTI
tidak tersedia
2018

PERBEDAAN PENINGKATAN SUHU TUBUH ANTARA YANG DIBERI INFUS HANGAT DAN KOMPRES HANGAT PADA PASIEN POST OPERASI SECTIO CAESARIA DENGAN SPINAL ANESTESI DI RSUD NGUDI WALUYO WLINGI

Lihat Detail Karya
Penulis: ALIFATUL ‘ULA MAS’UF
NIM: 1401460040
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Nurul Hidayah, S.Kep., Ns, M.Kep., Marsaid, S.Kp., M.Kep.
Subjek: Peningkatan Suhu Tubuh, Infus Hangat, Kompres Hangat, Sectio Caesaria, Anestesi Spinal.
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Perbedaan Peningkatan Suhu Tubuh antara yang diberi Infus Hangat dan Kompres Hangat pada Pasien Post Operasi Sectio Caesaria dengan Spinal Anestesi di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Alifatul ‘Ula Mas’uf (2018). Skripsi. Program Studi D-IV Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing Utama Nurul Hidayah, S.Kep., Ns, M.Kep., Pembimbing pendamping Marsaid, S.Kp., M.Kep. Kata Kunci : Peningkatan Suhu Tubuh, Infus Hangat, Kompres Hangat, Sectio Caesaria, Anestesi Spinal. Sectio caesaria adalah suatu pembedahan untuk melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen dan uterus. Pada pasien post operasi sectio caesaria dapat terjadi hipotermia yang disebabkan oleh pemberian anestesi spinal, proses kehilangan suhu tubuh selama operasi, dsb. Hipotermia adalah keadaan suhu tubuh dibawah temperatur normal (<360C). Untuk mengatasi hipotermia dapat dilakukan pemberian tindakan infus hangat atau kompres hangat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan peningkatan suhu tubuh antara yang diberi infus hangat dan kompres hangat pada pasien post operasi sectio caesaria dengan spinal anestesi di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Desain penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental dengan pendekatan time series design. Sampling menggunakan Purposive Sampling. Besar sampel yang diteliti berjumlah 26 responden. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2018. Hasil penelitian menunjukkan nilai Sig.2 Tailed perbedaan peningkatan suhu tubuh pada 10 menit pertama antara pemberian infus hangat dan kompres hangat kurang dari α (0,05) yaitu 0,020. Sedangkan nilai Sig.2 Tailed perbedaan peningkatan suhu tubuh antara pemberian infus hangat dan kompres hangat pada 10 menit kedua adalah 0,877 dan pada 10 menit ketiga adalah 0,545, yang mana Sig2 Tailed lebih dari α (0,05). maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pemberian tindakan infus hangat dan kompres hangat sama-sama efektif untuk meningkatkan suhu tubuh, hanya saja tindakan infus hangat lebih efektif meningkatkan suhu tubuh pada pemberian 10 menit pertama dari pada pemberian kompres hangat pada pasien post sectio caesaria di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Saran untuk peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lanjutan dengan menambahkan jumlah responden minimal 30 untuk tiap kelompok perlakuan.
Cover KTI
2018

PERBEDAAN PENURUNAN NYERI DISMENOREA PADA REMAJA DENGAN TATALAKSANA GUIDED IMAGERY DAN KOMPRES HANGAT DI SMA NEGERI 8 MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: DIAH ULFAH WIJAYANTI
NIM: 1402450092
Program Studi: DIPLOMA IV Kebidanan
Dosen Pembimbing: Jupriyono, S.Kp.,M.Kes.
Subjek: Guided Imagery, Warm Compresses, Pain Levels Dysmenorrhoea
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Wijayanti, Diah Ulfah. 2018. Perbedaan Penurunan Nyeri Dismenorea Pada Remaja Dengan Tatalaksana Guided Imagery Dan Kompres Hangat di SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Pembimbing Utama: Jupriyono, S.Kp.,M.Kes. Pembimbing Pendamping: Ari Kusmiwiyati, SST.,M.Keb. Dismenorea merupakan nyeri yang menyertai menstruasi, tanpa dijumpai kelainan pada alat reproduksi. Penatalaksanaan dismenorea dapat dilakukan secara farmakologis maupun non farmakologis. Salah satu cara penatalaksanaan non farmakologis adalah dengan melakukan guided imagery dan kompres hangat. Tujuan penelitian adalah mengetahui perbedaan penurunan nyeri dismenorea primer pada remaja dengan tatalaksana guided imagery dan kompres hangat. Desain penelitian menggunakan Quasi Eksperimen dengan rancangan Non Equivalent Control Group. Populasi sebanyak 45 siswi dalam cakupan kelas X dan XI SMA Negri 8 Malang. Besar sampel sebanyak 40 siswi dengan menggunakan purposive sampling, yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 20 siswi kelompok kompres hangat dan 20 siswi kelompok guided imagery. Instrumen penelitian berupa lembar observasi NRS (Numeric Rating Scales). Data dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank, Mann-Whitney Test (α = 0,05). Kompres hangat dan guided imagery keduanya berontribusi dalam menurunkan nyeri. Pada uji Mann-Whitney Test, dengan α 0,05 didapatkan nilai p 0,000, oleh karena p < α maka terdapat perbedaan signifikan antara pemberian guided imagery dan kompres hangat terhadap penurunan nyeri dismenorea. Kata Kunci : Guided Imagery, Kompres Hangat, Tingkat Nyeri Dismenorea
Cover KTI
2018

PERBEDAAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI ANTARA YANG DIBERI STIMULAS PERMAINAN LEGO DAN BALOK SUSUN DI PAUD AL-IHSAN DESA GONDOWANGI WAGIR

Lihat Detail Karya
Penulis: LAILATUL ISNAINI ROHMAH
NIM: 1402450051
Program Studi: PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN MALANG
Dosen Pembimbing: Herawati Mansur, SST., M.Pd., M.Psi., Asworoningrum, SST., M.Keb.
Subjek: Perkembangan Motorik Halus, Permainan Lego, Permainan Balok susun
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Rohmah, Lailatul Isnaini. 2018. Perbedaan Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini Antara yang Diberi Stimulasi Permainan Lego dan Balok Susun di PAUD Al-Ihsan Desa Gondowangi Wagir Kabupaten Malang. Skripsi. Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Jurusan Kebidanan. Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Malang. Pembimbing I : Herawati Mansur, SST., M.Pd., M.Psi. Pembimbing II : Asworoningrum, SST., M.Keb. Anak usia dini merupakan masa dimana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Salah satu jenis perkembangan pada anak yaitu perkembangan motorik halus. Di Kabupaten Malang cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita tahun 2017 sebesar 164.213 balita dan 0.1% (291 balita) diantaranya mengalami penyimpangan tumbuh kembang. 20-30% dari data yang sebagian besar diakibatkan oleh kurangnya stimulasi. Stimulasi pada anak dapat diberikan melalui permainan edukatif salah satunya yaitu permaianan lego dan balok susun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan perkembanga motorik halus anak usia dini antara yang diberi stimulasi lego dan balok susun di PAUD Al-Ihsan Desa Gondowangi Wagir Kabupaten Malang. Metode penelitian menggunakan pre eksperimen dengan desain rancangan one group pretest-post test. Populasi penelitian adalah seluruh murid kelas A di PAUD Al –Ihsan Desa Gondowangi Wagir sejumlah 26 anak. Teknik sampling menggunakan total sampling. Jumlah sampel 26 responden dimana 13 responden diberi stimulasi lego daan 13 responden diberi stimulasi balok susun. Penelitian ini menggunakan uji Mann Whitney U-Test. Hasil penelitian Pvalue = 0,009 < α = 0,05 sehingga H0 ditolak artinya terdapat perbedaan perkembangan motorik halus anak usia dini antara yang diberi stimulasi lego dan balok susun di PAUD Al-Ihsan Desa Gondowangi Wagir Kabupaten Malang. Permainan lego lebih efektif melatih keterampilan jari tangan anak karena permainan lego memiliki karakteristik yang dapat melatih otot-otot jari tangan sehingga akan mempengaruhi koordinasi saraf dan otot-otot halus anak akan berkembang. Diharapkan guru dan orang tua senantiasa memberikan dan melatih kemampuan motorik halus anak salah satunya dengan alat permainan edukatif. Kata Kunci : Perkembangan Motorik Halus, Permainan Lego, Permainan Balok susun
Cover KTI
2018

PERBEDAAN SELF EFFICACY IBU MENYUSUI DENGAN PERSALINAN SEKSIO SESAREA DAN PERVAGINAM DI RSIA PURI BUNDA

Lihat Detail Karya
Penulis: Arinda Mutiara Maulidya
NIM: 1402450018
Program Studi: SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Ari Kusmiwiayati. SST.M.Keb
Subjek: KEBIDANAN
Lihat Abstraksi
Maulidya, Arinda Mutiara. 2018. Perbedaan Self Efficacy Ibu Menyusui dengan Persalinan Seksio Sesarea dan Pervaginam di RSIA Puri Bunda. Skripsi Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan dan Profesi Bidan Malang, Jurusan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing Utama: Rita Yulifah, S.Kp.,M.Kes. Pembimbing Pendamping: Erni Dwi Widyana, SST.,M.Kes. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan merupakan upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi. Proses menyusui ini dapat dipengaruhi faktor fisik dan psikologis ibu. Faktor fisik yang mempengaruhi yaitu jenis persalinan, sedangkan faktor pikologis yaitu self efficacy/keyakinan diri. Self efficacy merupakan faktor determinan positif yang dapat dimodifikasi dan diketahui rendah pada ibu yang belum mempunyai pengalaman menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan self efficacy/keyakinan diri ibu menyusui dengan persalinan seksio sesarea dan pervaginam di RSIA Puri Bunda bulan Juli-Agustus 2018. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu analitik komparatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 30 ibu primipara diukur self efficacy pada hari pertama postpartum menggunakan modifikasi intrument self efficacy yang dibuat Komalasari (2016). Pada penelitian ini diketahui sebanyak 53,3% ibu seksio sesarea kategori efikasi rendah, sedangkan 53,3% ibu pervaginam kategori efikasi tinggi. Berdasarkan dimensi efikasi kepercayaan intrapersonal kelompok ibu menyusui seksio sesarea dan pervaginam memiliki nilai modus yang sama di semua item pertanyaan. Hasil uji independent t test dengan nilai p value 0,326 > α 0,05 menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan self efficacy ibu seksio sesarea dan pervaginam. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu perlunya pengkajian tingkat self efficacy di minggu awal postpartum dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi ibu yang memerlukan dukungan saat menyusui. Sehingga ibu dapat mengatasi kesulitan saat menyusui, dan berdampak pada keberhasilan menyusui secara eksklusif. Kata Kunci : Self Efficacy Menyusui, Seksio Sesarea, Pervaginam.
Cover KTI
2018

PERBEDAAN SELF EFFICACY IBU MENYUSUI DENGAN PERSALINAN SEKSIO SESAREA DAN PERVAGINAM DI RSIA PURI BUNDA

Lihat Detail Karya
Penulis: Arinda Mutiara Maulidya
NIM: 1402450018
Program Studi: SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
Dosen Pembimbing: Rita Yulifah, S.Kp.,M.Kes
Subjek: Self Efficacy Menyusui, Seksio Sesarea, Pervaginam.
Lihat Abstraksi
Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan merupakan upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi. Proses menyusui ini dapat dipengaruhi faktor fisik dan psikologis ibu. Faktor fisik yang mempengaruhi yaitu jenis persalinan, sedangkan faktor pikologis yaitu self efficacy/keyakinan diri. Self efficacy merupakan faktor determinan positif yang dapat dimodifikasi dan diketahui rendah pada ibu yang belum mempunyai pengalaman menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan self efficacy/keyakinan diri ibu menyusui dengan persalinan seksio sesarea dan pervaginam di RSIA Puri Bunda bulan Juli-Agustus 2018. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu analitik komparatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 30 ibu primipara diukur self efficacy pada hari pertama postpartum menggunakan modifikasi intrument self efficacy yang dibuat Komalasari (2016). Pada penelitian ini diketahui sebanyak 53,3% ibu seksio sesarea kategori efikasi rendah, sedangkan 53,3% ibu pervaginam kategori efikasi tinggi. Berdasarkan dimensi efikasi kepercayaan intrapersonal kelompok ibu menyusui seksio sesarea dan pervaginam memiliki nilai modus yang sama di semua item pertanyaan. Hasil uji independent t test dengan nilai p value 0,326 > α 0,05 menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan self efficacy ibu seksio sesarea dan pervaginam. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu perlunya pengkajian tingkat self efficacy di minggu awal postpartum dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi ibu yang memerlukan dukungan saat menyusui. Sehingga ibu dapat mengatasi kesulitan saat menyusui, dan berdampak pada keberhasilan menyusui secara eksklusif. Kata Kunci : Self Efficacy Menyusui, Seksio Sesarea, Pervaginam.
Cover KTI
2018

PERBEDAAN TEKANAN DARAH ANTARA PEMBERIAN LEG WRAPPING DENGAN ELEVASI KAKI PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN SECTIO CAESAREA DENGAN SPINAL ANESTESI DI RS MARDI WALUYO BLITAR

Lihat Detail Karya
Penulis: AYU ANI OKTAVIANINGSIH
NIM: 1401460022
Program Studi: PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Tri Nataliswati, S.Kep., Ns, M.Kep. , Dr. Tri Johan Agus Y., S.Kp., M.Kep.
Subjek: TEKANAN DARAH
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Perbedaan Tekanan Darah antara Pemberian Leg Wrapping dengan Elevasi Kaki pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea dengan Spinal Anestesi di RS Mardi Waluyo Blitar. Ayu Ani Oktavianingsih (2018). Skripsi. Program Studi D-IV Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Pembimbing utama Tri Nataliswati, S.Kep., Ns, M.Kep., Pembimbing pendamping Dr. Tri Johan Agus Y., S.Kp., M.Kep. Kata Kunci: Post Operasi Sectio Caesarea, Spinal Anestesi, Tekanan Darah, Leg Wrapping, Elevasi Kaki Perubahan tekanan darah pada pasien operasi Sectio Caesarea salah satunya dipengaruhi oleh Spinal Anestesi. Penurunan tekanan darah terjadi akibat vasodilatasi pembuluh darah sehingga terjadi venous polling di ekstremitas bawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tekanan darah antara pemberian Leg Wrapping dengan Elevasi Kaki pada psien post operasi sectio caesarea dengan spinal anestesi. Penurunan tekanan darah pasien post operasi sectio caesarea dapat dicegah dengan Leg Wrapping dan Elevasi Kaki. Metode penelitian yang digunakan adalah quasy eksperiment two group pre test post test without control group design. Responden penelitian adalah pasien post operasi sectio caesarea dengan spinal anestesi. Populasi pasien post operasi sectio caesarea di RS Mardi Waluyo Blitar sejumlah 139 responden. Sampling penelitian dihitung dari 20% populasi, didapatkan sampel 28 responden. Pembagian kelompok responden menjadi 2 kelompok dengan metode ganjil-genap. Analisis yang digunakan adalah uji normalitas, paired t-test, wilcoxon, independen, dan mann whitney. Hasil uji statistik independent t-test menunjukan tidak ada perbedaan signifikan pada tekanan sistole setelah diberikan Leg Wrapping maupun Elevasi Kaki dengan p-value=0,242 (p>0,005), . Hasil uji statistik mann whitnet menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan pada tekanan diastole setelah Leg Wrapping maupun Elevasi Kaki dengan p-value=0,674 (p>0,005). Saran bagi perawat agar melakukan tindakan Leg Wrapping ataupun Elevasi Kaki untuk mencegah penurunan tekanan darah pasien.
Cover KTI
tidak tersedia
2018

PERBEDAAN TEKANAN DARAH ANTARA YANG DIBERIKAN RELAKSASI NAFAS DALAM DAN RELAKSASI AUTOGENIK PADA LANSIA HIPERTENSI DI UPT PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA BLITAR

Lihat Detail Karya
Penulis: ARDIKA SULISETIYANI
NIM: 1401460048
Program Studi: PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
Dosen Pembimbing: Marsaid, S.Kp., M.Kep., Sulastyawati, S.Kep., Ns, M.Kep.
Subjek: Hipertensi, Lansia, Relaksasi Nafas Dalam, Relaksasi Autogenik
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Perbedaan Tekanan Darah Antara yang Diberikan Relaksasi Nafas Dalam dan Relaksasi Autogenik pada Lansia Hipertensi di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Blitar. Ardika Sulisetiyani (2018). Skripsi. Program Studi D-IV Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing : Marsaid, S.Kp., M.Kep., Sulastyawati, S.Kep., Ns, M.Kep. Kata Kunci : Hipertensi, Lansia, Relaksasi Nafas Dalam, Relaksasi Autogenik Saat ini kasus hipertensi cukup tinggi sehingga perlu perhatian khusus dalam penanganannya. Terapi relaksasi nafas dalam dan relaksasi autogenik merupakan salah satu penanganan hipertensi non farmakologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah antara yang diberikan relaksasi nafas dalam dan relaksasi autogenik pada lansia hipertensi di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Blitar. Metode yang digunakan adalah quasy eksperimental dengan three group pre dan post test design, subjeknya lansia yang menderita hipertensi, dipilih dengan teknik purposive sampling sebanyak 30 responden dibagi 3 kelompok. Uji statistik menggunakan uji Anova dengan a=0,05. Hasil menunjukkan ada perbedaan tekanan darah antara kelompok relaksasi nafas dalam, relaksasi autogenik dan kontrol. Terlihat dari uji statistik tekanan darah sistole pada semua kelompok p value=0,005 (p<0,05) dan tekanan darah diastole pada semua kelompok p value=0,001 (p<0,05). Selain itu, hasil uji statistik tekanan darah sistole kelompok autogenik dibandingkan kontrol p value=0,008 (p<0,05). Sedangkan kelompok nafas dalam dibandingkan kontrol p value=0,019 (p<0,05). Sedangkan penurunan tekanan darah diastole relaksasi nafas memberikan efek lebih besar dari relaksasi autogenik dibuktikan hasil uji statistik tekanan darah diastole kelompok nafas dalam dibandingkan kontrol p value=0,003 (p<0,05) sedangkan kelompok autogenik dibandingkan kontrol p value=0,005 (p<0,05). Sehingga terapi relaksasi nafas dalam dan relaksasi autogenik dapat menjadi terapi penunjang untuk menangani hipertensi. Tetapi relaksasi autogenik lebih efektif menurunkan tekanan darah dibandingkan relaksasi nafas dalam. Saran bagi tenaga kesehatan khususnya perawat agar melakukan relaksasi nafas dalam atau relaksasi autogenik pada lansia hipertensi untuk menurunkan tekanan darah.
Cover KTI
tidak tersedia
2018

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA PEMBERIAN RELAKSASI AUTOGENIK DAN RELAKSASI NAFAS DALAM PADA PASIEN PRE OPERASI LAPARATOMI DI RS LAVALETTE MALANG

Lihat Detail Karya
Penulis: LUTFIATUL ROHMAH
NIM: 1401460043
Dosen Pembimbing: Hurun Ain, S.Kep., Ns, M.Kep. , Dyah Widodo, S.Kp, M.Kes
Subjek: Kecemasan, Pre Operasi, Relaksasi Autogenik, Relaksasi Nafas Dalam, Laparatomi
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Perbedaan Tingkat Kecemasan Antara Pemberian Relaksasi Autogenik Dan Relaksasi Nafas Dalam Pada Pasien Pre Operasi Laparatomi di Rumah Sakit Lavalette Malang, Lutfiatul Rohmah (2018), Program Studi D IV Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing: (1) Hurun Ain, S.Kep., Ns, M.Kep. (2) Dyah Widodo, S.Kp, M.Kes Cemas pre operasi merupakan suatu respon antisipasi terhadap suatu pengalaman yang dianggap sebagai ancaman. Relaksasi autogenik dan relaksasi nafas dalam merupakan salah satu intervensi mandiri non farmakologis keperawatan yang dapat menurunkan tingkat kecemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat adakah perbedaan tingkat kecemasan antara pemberian relaksasi autogenik dan relaksasi nafas dalam pada pasien pre operasi laparatomi. Metode penelitian ini menggunakan quasy eksperimental dengan pendekatan two group pre test dan post test design. Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden 34 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan Man Whitney dengan a=0,05. Ada pengaruh relaksasi autogenik terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi laparatomi sebesar 0,000 (p value <0,05) dan juga terdapat pengaruh relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operais laparatomi sebesar 0,001 (p value <0,05). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara pemberian relaksasi autogenik dan relaksasi nafas dalam (p= 0,498). Dengan demikian relaksasi autogenik dan relaksasi nafas dalam efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan. Relaksasi autogenik lebih signifikan dari relaksasi nafas dalam. Saran dalam penelitian ini diharapkan perawat dapat memberikan relaksasi autogenik atau nafas dalam pada pasien yang akan menjalani prosedur pembedahan, dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya yaitu disarankan untuk mengembangkan relaksasi autogenik atau relaksasi nafas dalam pada pasien pre hingga post operasi. Kata Kunci : Kecemasan, Pre Operasi, Relaksasi Autogenik, Relaksasi Nafas Dalam, Laparatomi
Cover KTI
2018

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA PEMBERIAN RELAKSASI NAPAS DALAM DENGAN AROMATERAPI LAVENDER PADA PASIEN PRE OPERASI SECTIO CAESAREA

Lihat Detail Karya
Penulis: KADEK DWIYANI NOVI TAMAN SARI
NIM: 1401460020
Program Studi: D IV Keperawatan
Dosen Pembimbing: Sumirah Budi Pertami, S.Kp., M.Kep. , Tri Nataliswati, S.Kep., Ns, M.Kep.
Subjek: Level of Anxiety, Deep Breath Relaxation, Lavender Aromatherapy
Lihat Abstraksi
ABSTRAK Kadek Dwiyani Novi Taman Sari, 2018. Perbedaan tingkat kecemasan antara pemberian relaksasi napas dalam dengan aromaterapi lavender pada pasien pre operasi Sectio Caesaria. Skripsi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Jurusan Keperawatan. Prodi D IV Keperawatan Perioperatif, Pembimbing Utama : Sumirah Budi Pertami, S.Kp., M.Kep., Pembimbing Pendamping : Tri Nataliswati, S.Kep., Ns, M.Kep. Kata Kunci : Tingkat Kecemasan, Relaksasi Napas Dalam, Aromaterapi Lavender Sectio caesarea merupakan suatu jenis pembedahan yang dapat menimbulkan stres fisiologis (respon neuroendokrin) dan stres psikologis (cemas dan takut). Dari angka nasional komplikasi kehamilan 6,5%, lebih lanjut ditelusuri yang mengalami operasi caesar adalah 2,3%. Tujuan penelitian adalah mengetahui perbedaan tingkat kecemasan dari tindakan napas dalam dengan aromaterapi pada pasien pre operasi Sectio Caesaria. Penelitian ini dilakukan pada 21 Juli – 10 Agustus 2018. Jenis Penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan pendekatan pre-post. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan melibatkan 24 responden ( sejumlah 12 responden pada kelompok relaksasi napas dalam dan 12 responden pada kelompok aromaterapi lavender). Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner STAI (State Anxiety Inventory for Adults). Uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon dengan bantuan SPSS 23 didapatkan adanya perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi napas dalam (p-value=0,001) maupun aromaterapi (p-value=0,002) dan berdasarkan hasil uji Mann-Whitney tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara teknik relaksasi napas dalam dengan aromaterapi lavender (p-value=0,654). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kecemasan antara pemberian relaksasi napas dalam dengan aromaterapi lavender pada pasien pre operasi Sectio Caesaria sehingga kedua tindakan tersebut sama-sama dapat dijadikan tindakan alternatif untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi Sectio Caesaria. Rekomendasi hasil penelitian ini adalah agar peneliti selanjutnya memilih responden berdasarkan waktu datang lebih dari 12 jam sebelum operasi sehingga intervensi dapat lebih lama dilakukan dan jumlah responden yang lebih banyak.
Chatbot Perpustakaan
📚

Perpustakaan Digital

Poltekkes Kemenkes Malang

Halo 👋

Selamat datang di layanan digital perpustakaan.

Sistem ini membantu pencarian informasi perpustakaan secara cepat dan otomatis.

Contoh pertanyaan:
• cara menjadi anggota perpustakaan
• cara cek plagiarisme
• Jam buka perpustakaan